Sabtu, 03 November 2018

Meminta Restu

Agustus 2015 lalu, aku mengikuti sebuah program pemerintah untuk mengajar di daerah pedalaman  Indonesia. Ditempatkan di Papua Barat, di pelosok negeri yang jauh dari perkotaan; Kampung Sara, Distrik Kaitaro, Kabupaten Teluk Bintuni. Suatu tempat yang sulit kutemukan di peta.

Kisah petualangan yang hebat di penempatanku kemudian bagiku berakhir ketika mendengar kabar duka dari tempat asalku. Sebab tidak memiliki sinyal komunikasi kala itu, kabar kepergian orang tersayang pun terlambat sampai di telingaku.

Kamis 26 Mei 2016, pesawat udara telah mengantarku tiba kembali di Makassar, tepat pukul 13.00 WITA. Langkahku gamang menuju rumah. Bahkan waktu terasa cukup singkat hingga tubuhku telah berada di teras rumah, selepas turun dari pesawat.

Seorang penghuni rumah telah tiada untuk selamanya tanpa bertemu denganku. Ya beliau adalah Ibuku. Perantauan telah membawaku pergi, lantas waktu membalasnya dengan tidak memberiku kesempatan mengucapkan selamat tinggal. Ibu telah dikuburkan 2 hari yang lalu. Aku tidak sempat melihatnya sejak terakhir kali aku memeluknya 9 bulan yang lalu.

Hatiku perih, dada menjadi sesak, air mata tumpah ruah tanpa suara. Hingga tiba di depan pusaranya, hanya isak sesekali yang dapat kulakukan. Tangan membungkam mulut yang ingin sekali berteriak.

Aku ingin meratap sebanyak-banyaknya, berteriak sekeras-kerasnya, meraung-raung sepuasnya di pusara Ibu saat itu. Melampiaskan rindu yang kian nanar oleh luka.

Namun aku lemah, ragaku tak cukup kuat untuk melakukan semua itu. Tenagaku habis kupakai berpikir keras untuk menerima kenyataan yang ada di hadapku kini.

Aku pernah menyaksikan Ibu yang meneteskan air mata tanpa suara di hari kematian ibunya juga. Saat itu usiaku masih 12 tahun. Mungkin darinya aku belajar dan mengerti bahwa kematian seseorang tak boleh diratapi secara  berlebihan. Sebab kematian adalah pertemuan seorang hamba menemui Tuhannya, melepas kerinduan terbesarnya pada Sang pencipta.

Lantas hari-hari setelah itu, aku selalu menjadi rapuh setiap kali menyaksikan kematian orang-orang. Mengurai sendiri detik-detik terakhir beliau di dunia, yang sama sekali tidak kumiliki dalam memori.

Meski begitu, aku punya banyak kenangan baik bersama beliau. Dengan segudang harap yang pernah kami untai bersama untuk masa depan. Pun dengan jutaan nasehat yang setiap saat dapat kujadikan pedoman.

"Tersenyumlah apapun yang terjadi"
"Jadilah bermanfaat bagi orang sekelilingmu"

Dua nasehat ampuh yang mampu membuatku masih berdiri tegap hingga saat ini. Menjadi bermaslahat, menebar kebaikan, dan melanjutkan perjuangan hingga mimpi beliau dapat kutunaikan: menjadi abdi negara.


Bismillah...
Doakan anakmu Ibu, hari ini aku berangkat menuju tempat tes. Ujian yang kata orang-orang akan mengantar seseorang menyandang predikat abdi negara. Aku meminta restu. Kuharap dari tempatmu kini, engkau mendengar dan melihat apa yang aku upayakan.

Sebab hari ini, kuyakin semua anak tentu sedang meminta restu ibunya. Mencium tangan dan memeluk untuk memperoleh ridho dan doa diberi kemudahan mengerjakan ujian dan segala hal terbaik.

Aku pun tak ingin tinggal diam. Meski ibuku tak ada di dunia, maka aku mengurai kisah, harap, dan doa yang kuingin darinya melalui tulisan ini. Pun melalui bisikan pada Tuhan kita.

@Malunda, 4 November 2018
(Perjalanan Makassar-Mamuju)