Selasa, 09 Juni 2015

Pertemuan (doa) kita

Aku mengabarkan langit
Melalu kiriman doa setiap detik
Tentang rasa yg ku jaga kehormatannya

Ya, kita tak perlu banyak berbincang
Ku harap kau memahaminya
Karena doa-doa kita bertemu di langit kan??











"Seperti gerimis|aku jatuh hati|perlahan-lahan"









Selasa, 02 Juni 2015

Tetaplah menjadi kuat

Sepulang kerja saat langit mulai menampakkan kegelapannya, malam telah mengabarkan kesunyiannya. Setelah meniti terik seharian, meneteskan keringat kala terik menganga, Retno menuju rumah tempatnya ia menimbun harapan, tempat dimana ia mengukir asa tentang kehidupan di masa depan, bersama ibu, ayah dan adik-adiknya. Retno adalah anak sulung dan karena tuntutan itulah, ia harus bekerja hingga selarut itu. Adiknya Rani yang kini duduk di bangku kuliah pun, telah melakukan kerja paruh waktu.
Entah saking sibuknya dengan dunianya sendiri, pergi pagi dan pulang malam. Ia lupa bahwa ada banyak hal-hal penting di rumah yang ia lewatkan. Termasuk kabar hati ibunya. Yang sejak setahun terakhir ini terluka. Seperti itukah patah hati yang sebenarnya?. Hingga harapan yang ia pertahankan, telah pupus oleh kekecewaan dan kekacauan yang ditimbulkan seseorang padanya, dan karena waktu pula lah yang tak kunjung memberikannya solusi. Hingga bahkan untuk mengurusi dirinya sendiri, ia tak peduli lagi. Kami pun tak dihiraukannya lagi.
Malam itu ia dapati rani menangis di kamarnya, terisak pelan, berusaha menanhan tangis agar suara tangisnya tak di dengar oleh orang rumah. Saat Retno tanyakan mengapa, rupanya ia baru saja mendengar dari seorang tetangga bahwa orang-orang sekompleks rumah rupanya sering menceritakan mereka. Entah mereka berbicara apa, yang sedikit Rani tangkap yakni mereka mengatakan bahwa ibunya kini telah berubah dari yang mereka kenal, bahkan akan depresi. Ahhh… seolah tersengat listrik ribuan volt dan tenggelam dalam lautan saja mendengar kabar itu. Sesak. Retno kesulitan bernapas menyadari akan hal itu. Ia yang selama ini merasa baik-baik saja dengan keadaan keluarganya, rupanya sangat berbeda dengan apa yang dirasakan orang lain. Rupanya perasaannya selama ini hanya ilusi, dampak dari menghibur dirinya sendiri dan menjauhi pikiran-pikiran negatif tentang segala kemungkinan terburuk. Jika demikian, rupanya ia merasa sangat tak berdaya. Merasa bahwa yang bersalah adalah dirinya, mengapa terlalu mengabaikan kekacauan yang terjadi. Tak berusaha melakukan sesuatu untuk memperbaiki semuanya. Sebagai ana sulung, itu memang tugasnya kan?
Sontak malam itu, ia menemui ibunya yang tertidur lelap di kamarnya. Retno menggenggam tangannya, masih berasa hangat tangan itu. Ya sisa-sisa untaian kasih sayang yang terpatri dari tangan itu masih ada. Retno tatapi lamat-lamat wajah ibunya, ya ada keteduhan disana. Wajah teduh seorang ibu yang ia sangat rindukan. Namun ada banyak goresan kesedihan disana, terukir. Tersimpan sendiri hingga menutupi cahaya keibuannya kini. Wajah teduh itu tak tampak lagi, wajah itu menggambarkan suasana hati yang telah terluka parah kini. Ahhh… tiba-tiba ada tetesan air mata yang jatuh, terisak. Ya Retno memeluk lengan ibunya dengan erat. Dan tangan kanannya menutup mulutnya sendiri, takut kalau saja tangisnya itu membangunkan ibunya dari lelap tidurnya malam ituDalam jeda tangisnya, Retno berbisik “Tetaplah menjadi kuat Ibu. Kamu tidak sendiri,ada kami disini yang menyayangi mu, ceritakanlah kekecewaanmu. Jangan memendamnya sendiri" 
"ya, tetaplah menjadi kuat"