Sabtu, 31 Desember 2016

Merayakan Tahun Baru (?)

Sejak seminggu yang lalu Adikku Pais selalu menanyakan segala hal mengenai tahun baru. Dia banyak maunya; mau beli petasan, mau tiup-tiup terompet, kumpul sama bocah-bocah tetangga, bikin acara sama mereka, dan minta dibangunkan pas jam 12 teng. Maklumlah dia masih kanak-kanak. Umurnya masih 10 tahun, memang masanya bermain dan ikut-ikutan bersama teman-temannya. Namun ku batasi ia hanya boleh di sekitar rumah saja, tidak boleh jauh-jauh.

Tapi seingatku, saya waktu kanak-kanak tak seperti itu. Tidak terlalu menggilai malam tahun baru. Hingga kebawa sampai sekarang. Menurutku nothing special. Jadi kami sekeluarga memang tak punya schedule  untuk keluar malam tahun baruan. Yang ku ingat di malam tahun baru ialah bagaimana Ibuku dulu selalu menyiapkan makanan special yang berbeda dari biasanya. Mungkin, begitulah caranya mengumpulkan kami di rumah agar anak-anaknya tak keluar rumah bermain petasan, meniup terompet, maupun berhura-hura di luar.

Tak ada yang ku siapkan memang. Hingga siang tadi Bapakku membawa barang belanjaannya. Bahan-bahan yang bisa ku buat menjadi mie goreng : mie besar, bakso, daun bawang dan seledri, berbagai jenis sayur, dan bumbu-bumbunya.  Malam ini dengan segala kemampuan ku yang apa adanya dengan mengingat cara membuatnya sesuai ajaran ibuku, saya membuatnya. Mengulek bumbu, memotong sayur, merebus mie dan baksonya untuk segera bisa ku campur semuanya di wajan. Senyumku merekah saat semuanya telah selesai.

“Tadaaa… Sudah selesai” saya membawa dua piring mie ku berikan ke adik-adikku yang sedari tadi menunggu di depan TV.

“Wahhh…Asik” ucap mereka dengan mata berbinar bahagia melihatku keluar dari dapur.

Kening Eni berkerut, sedangkan Pais berlari mengambil air minum.

“Rasanya kenapa?” Tanya saya penasaran

“Pedis sekali kak” Pais protes

Huff…ternyata kelebihan merica. Sayang saya belum sehebat Ibu dalam hal memasak. Tapi tak apa setidaknya malam ini kami bertiga kumpul di rumah meski tanpa Ibu. #Al-Fatihah buat Ibu.
***

Di tahun 2016 ini banyak hal yang dicapai. Alhamdulillah. Salah satunya yaitu akhirnya berat badanku bertambah dari 40 kg menjadi 49 kg. hahahaha. Banyak hal baru yang dipelajari misalnya dengan bergabung dengan teman-teman komunitas Pecandu Aksara. Bisa ikut berbagai workshop kepenulisan dan berbagai kegiatan literasi. Sejak dulu memang saya selalu ingin bertemu dengan orang yang berkecimpung di dunia literasi. Terimakasih atas kesempatannya.

Tahun ini saya juga bisa pulang dari perantauan. Setelah mengabdi di daerah pedalaman Papua selama setahun. Memecahkan celengan rindu bersama keluarga, sahabat dan kakak-kakak keren di SIGi Makassar. Kembali berkecimpung di dunia volunteer bersama mereka.  Hal bahagia lainnya ialah melihat teman-teman SMP dan SMA yang sudah menikah bahkan memiliki anak. Wahhh bahagia sekali *mulai Baper* #JodohManaJodoh  -_-'

Tentu hidup tak selalu menempatkan kita terus berada di zona nyaman. Tahun ini tak hanya diisi dengan hal bahagia saja. Ada banyak sedihnya juga. Tentang kehilangan, tentang kekecewaan, tentang penyesalan dan patah hati. Tentang Ibu yang belum sempat ku peluk lagi sejak kepergianku ke tanah rantau. Tentang seseorang yang ku sebut lelaki teduh pergi tanpa pamit. Dan tentang kedatangan orang baru di rumah yang belum bisa ku terima. Sungguh cobaan yang datang bertubi-tubi.

“Tuhan sayang sama Uni, jadi ujiannya banyak supaya naik kelasnya lompat beberapa tingkat” kata seorang sahabat member semangat.

“Semuanya hanyalah tentang penerimaan dek” katanya menguatkan. (Terimakasih telah datang menghapus kenang)

Ini adalah persoalan Takdir. Kita memang harus mengalami banyak kehilangan untuk mensyukuri bahwa sesuatu yang hilang itu pernah ada memberi senyum. Tentunya setelah berbagai hal menghampiri, banyak pelajaran berharga yang diperoleh. Mari muhsabah diri. Agar kelak menjadi lebih baik dari sebelumnya. Agar kita termasuk orang-orang yang beruntung.


“Barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin dialah tergolong orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah orang yang merugi. Barang siapa yang lebih buruk dari kemarin dialah orang celaka” HR.Hakim 

Kamis, 29 Desember 2016

Kelas Menulis SIGi Makassar #Menulis Tak Membuatmu Rugi

Langit mendung sore itu sempat membuatku mengurungkan niat untuk mengikuti kelas menulis yang diadakan oleh para pegiat komunitas SIGI Makassar. Namun tak mau ku lewatkan pertemuan kali ini dengan mereka, apalagi pematerinya adalah kakak tetua SIGi yakni kak Nunu’ yang juga merupakan ketua komunitas Blogger Makassar. Kece badai kan?? Hehehe

Kelas menulis ini bertempat di Kedai Pojok Adhiyaksa, belajar sambil nongkrong. Diadakan di penghujung tahun, Kamis 29 Desember 2016. Tempat dan waktu yang cukup menarik, sayang untuk dilewatkan.

Lima menit mondar-mandir di rumah beradu galau dengan langit antara hujan atau tidak, dan aku antara pergi atau tidak. Akhirnya keputusanku ialah pergi.

“Mari kita berangkat” ajakku pada Redho, panggilan yang ku sematkan pada motor merahku.

Empat puluh lima menit perjalanan dari Samata-Adhiyaksa akhirnya aku sampai di tempat tujuan dengan kecepatan Redho 35 km/jam. Maklum ia agak sedikit bermasalah jadi tak bisa diajak balapan. Alias karena aku pun takut berkendara dengan kecepatan tinggi. Hehehe



Setelah sholat magrib, kelas akhirnya di mulai. Kak Nunu membawakan kelas dengan santai tapi serius dan menyenangkan tentunya.

“Salah satu cara mudah untuk berbagi adalah melalui tulisan” jelasnya.

Teman-teman SIGiers mengangguk-angguk tanda sepakat sepertinya. Penjelasan tersebut memang sesuai dengan tagline kami #Berbagi tak membuatmu rugi. Menurut kak Nunu’ pegiat komunitas yang menulis akan berbeda dengan pegiat komunitas yang tidak menulis.

“Menulis adalah salah satu cara mendokumentasikan sejarah. Kelak beberapa tahun ke depan, akan ada saatnya kita tersenyum-senyum sendiri membaca tulisan kita di blog yang tentunya menjadi sejarah bagi kehidupan kita” tambahnya.

Selain memacu semangat SIGiers untuk menulis. Kak Nunu’ juga menjelaskan tentang Blog. Blog adalah rumah. Tempat dimana kita menumpah ruahkan perasaan dan segala kegiatan yang bisa diceritakan disana. Tujuan ngeblog yakni berbagi, berkreasi, dan menginspirasi. Tulislah apapun yang bisa ditulis tentang pengalaman pribadi, tentang orang-orang yang ditemui, tentang tempat-tempat yang didatangi, dan apapun yang dirasakan oleh indera. Sebab, kita tidak pernah tahu mana tulisan yang disukai pembaca, meski kita sendiri menganggap tulisan kita keren semua. Hahahaha.  

“Melalui blog juga, kita bisa memperoleh penghasilan. Misalnya menjadi endorse bagi perusahaan besar untuk mengiklankan produknya, ada tawaran menulis oleh berbagai media dengan bonus yang lumayan, atau kita bisa mengikutkan tulisan maupun blog di lomba. Kan lumayan hadiahnya” kata kak Nunu’ dengan semangat yang membara.

Tulisan yang baik ialah tulisan yang mengalir dan rapi, detail, berisi data/wawancara, tidak panjang /pendek namun mampu menyentuh hati pembaca. Iyaa meneyentuh hati. Bukankah apapun yang dari hati akan sampai ke hati juga. ;)

Berikut tips-tips menulis dari kak Nunu: dalam menulis yang perlu dilakukan yaitu membuat kerangka tulisan, paragraph awal harus dibuat menarik, perbanyak data, kurangi kata sifat (tapi deskripsikan). Intinya agar  pembaca bisa merasakan ada dalam cerita, bisa larut dalam cerita. Seolah pembaca ialah tokohnya. Dalam menulis juga ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan yaitu merasa lebih pintar/bodoh dari pembaca, terlalu banyak istilah asing, kalimat/paragraph yang panjang.

Agar tulisan fokus, langkah-langkahnya : menentukan tema, sudut pandang, menentukan alur (urutan logis: sebab akibat, khusus atau umum), menyusun pertanyaan 5 W + 1 H, dan menjawab pertanyaan.  

“Kak.. Bagaimana cara memulai tulisan?” Tanya seorang peserta

“Dimulai dari sebuah quote atau cuplikan lirik lagu misalnya. Selebihnya biarkan tulisan mengalir” jawab kak Nunu’ singkat.

***

Setelah menjelaskan, kak Nunu memberikan sebuah tantangan. Kami diminta untuk menyediakan kertas dan pulpen. Masing-masing dari kami menyebutkan satu kata dan terkumpullah sebelas kata: Rumah, nyanyi, mikir, dota, tampan, mimpi, kuning, tidur, langit, dinasourus, dan mengaji. Kumpulan kata tersebut kemudian dijadikan sebuah cerita oleh masing-masing dari kami.

“Duuuhhhh..kayak ujian ku rasa” kata ayu memecahkan suasana

“Kak Nunu’ ada hadiahnya tohh yang menang” kak Indi mau nulis jika dapat hadiah

“Hahahaha” tawa pun pecah dan kemudian kami bergelut dengan pulpen dan kertas masing-masing.  

Ini salah satu tulisan yang tercipta.
Bau tanah basah menyapa di pagi hari. Seorang wanita sedang menikmati langit kala itu di dipan-dipan depan rumahnya. Rambutnya yang mulai memutih dan kacamatanya yang tebal, menandakan ia telah renta. Pikirannya mengambang mengingat masa-masa kecilnya: saat bermain boneka dinasourus, saat ia rajin melangkahkan kaki ke mesjid belajar mengaji, saat ia mendapatkan piala dalam konteks menyanyi, betapa ia menggilai warna kuning hingga segala benda kepunyaannya memiliki warna senada.

Wanita itu kini berpindah ke dalam kamar. Membuka sebuah catatan kecil masa lalunya. Disana, di halaman paling depan buku itu tertulis sebuah mimpi tentang game yang ingin diciptakannya dan sekarang dikenal sebagai Dota.

Lelah mengenang masa lalunya, wanita itu tertidur. Namun ada sesuatu yang luput dari ingatannya saat mengenang tadi yakni tentang seorang laki-laki dengan hidung mancung, kulit putih, mata berbinar dan senyum yang menawan. Wanita itu memanggilnya lelaki tampanku. Lelaki itu ialah putra semata wayangnya. Ia merindukannya.
   
***

SIGi Makassar merupakan salah satu komunitas sosial di Makassar, singkatan dari Sahabat Indonesia Berbagi. Ada lima jenis kegiatan berbagi yang sering dilakukan yakni Project Berbagi (PB), Aksi Sahabat Indonesia Tebar Buku (AISITERU), Baca Tulis Aritmatika Dakwah dan English (CARAKDE), Teater Edukasi Keliling (TELING), dan Receh Kahuripan (RK).

Kegiatan PB merupakan kegiatan rutin sekali dalam 3 bulan dengan tujuan berbagi keceriaan bersama adik-adik panti asuhan. Kegiatan AISITERU merupakan kegiatan membuka lapak baca di tempat umum dan juga donasi buku untuk adik-adik yang membutuhkan.  Kegiatan CARAKDE merupakan kelas alternatif yang bertujuan meningkatkan minat belajar adik-adik dengan menciptakan suasana menyenangkan. Kegiatan TELING merupakan pemutaran film edukatif kepada adik-adik di pedalaman Sulsel. Kegiatan RK merupakan program bulanan mengumpulkan celengan (uang koin/kertas) para SIGiers untuk dimasukkan ke kas komunitas.

Selain kegiatan yang diperuntukkan untuk berbagi ke adik-adik, komunitas ini juga menyediakan kegiatan untuk para SIGiers #KamiButuhLiburan hahaha.. maka diadakanlah Funtrip SIGi. Hingga saat ini kami sudah mendaki ke Bulusaraung, Bawakaraeng, dan Lembah Loe. Nah, satu lagi kegiatan yang tak kalah serunya yaitu kelas kreatif. SIGiers akan dilatih dengan berbagai keterampilan. Nah inilah yang ku ceritakan tadi kelas menulis SIGi Makassar.


Ingin bergabung dengan SIGi Makassar? 
Silahkan invite @SIGiMks di twitter atau sigimks di IG 

Sabtu, 24 Desember 2016

Pulang yang ku rindukan (?)

Ada 'pulang' yang ku rindukan.
Tapi entah kemana tujuan pulang itu.
Segala tempat yang pernah membuatku nyaman telah ku datangi. Perpustakaan, kelas fisika, di tengah keluarga komunitas, bahkan kucari hingga ke pusara ibu.
Namun belum juga tertuntaskan dahaga rindu itu.

Hari ini ku coba menginjakkan kaki ke tanah kelahiran,  Bantaeng, Butta toa,  begitu orang-orang menyebutnya.  Kabupaten yang dikenal dengan kebersihan kotanya,  wisata pantai seruni,  pantai marina, permandian ermes,  air terjun bissappu, dan pegunungan loka dengan kekayaan sayur-mayurnya.

Pagi ini,  ku langkahkan kakiku dengan mantap kesana.  Berharap menemukan tujuan 'pulang' yang dirindukan. Mumpung anak sekolah sedang liburan, aku bebas dari siswa privatku dan rutinitas pagi mengantar-jemput adikku sekolah.

Setelah menempuh perjalanan 3 jam, mobil yang ku tumpangi telah memasuki gerbang perbatasan
"Selamat datang di Kabupaten Bantaeng" tertulis dengan rapi di gapura.
Di sisi kanan-kiri jalan,  berderet rapi pohon-pohon kelapa, dilengkapi dengan penjual air kelapa segar di bawahnya. Deru ombak dari kejauhan jua seolah menyambut kedatanganku. Tak jauh dari perbatasan,  mobil berbelok memasuki jalan menuju kampungku, Lemoa kel. Bontomanai,  kec. Bissappu .

Barisan pohon kapuk, ubi kayu yang berbaris rapi,  kebun-kebun jagung nan hijau, diselingi beberapa rumah warga. Aku mengenalnya. Kampung ini tak banyak berubah.  Berbeda dengan kota makassar yang bahkan hanya ditinggal setahun saja sudah banyak perubahan pada jalan-jalan yang biasa ku lewati.

Kampung Lemoa, nama yang unik. Dalam bahasa bantaeng lemoa artinya jeruk. Kampung ini dulu kaya akan berbagai jenis jeruk. Aku ingat,  sewaktu masih kanak-kanak aku selalu ikut ke kebun bersama sepupuku. Menyirami lombok, timun, dan labu di kebun.  Sesekali di tengah peristirahatan kami,  kami berburu jeruk. Kata nenek jeruk yang jatuh saja yang boleh diambil karena buah yang bagusnya sudah dijual meski masih ada di pohonnya. Tapi maklum kami masih kanak-kanak, otak kreatif kami jalan. Kami menggoyang-goyangkan batang pohon jeruk hingga ada beberapa buah yang terjatuh. Kami memungutnya dan memakannya tanpa rasa bersalah. Hehehe.

Setibanya di rumah nenekku,  Ibu dari bapakku. Nenek segera menyambut.  Ada rindu yang ia lepaskan dengan melihat kedatanganku. Aku tak berkabar memang jika akan datang. Banyak hal yang ia sampaikan padaku,  tentang segala kekhawatiran dahulu dan kini telah terjadi. Aku menjawabnya dengan senyum saja . Tak banyak yang bisa ku sampaikan. Aku juga sedang menata hati, Nek. Batinku mendukung. Ada sedikit perasaan lega yang tertampak dari wajahnya melihatku baik-baik saja.

Nenek tertawa melihat adikku yang tumbuh besar dan gemuk,  begitupun denganku.
"Aku memberinya makan yang banyak memang, sehari 4 atau 5 kali. Hahahahaha" jelasku mencairkan suasana.

Selasa, 06 Desember 2016

Secarik Pesan pada Surat Imajinasi

Reii… apa kabar?

Aku sengaja menuliskan surat ini untukmu, aku rindu sungguh. Meski entah, apa surat ini akan sampai padamu atau tidak. Aku bingung, bagaimana mengirimnya.
Disini, aku bahagia. Ada banyak teman yang ku jumpai dan segala kebutuhanku terpenuhi. Allah kita maha baik. Dia Maha pemenuh janji, Reii.. Maka jangan khawatir lagi.

Tetapi aku sedih Reii, apa yang terjadi padamu?

Kenapa tak pernah lagi ku dengar lantunan suara merdumu membaca surat cinta Allah kita.
Apa karena aku tak ada di samping mu lagi Reii??

Jangan.. ku mohon jangan jadikan aku sebagai alasan. Aku sangat berterimakasih, selama ini kau yang membacakan surat-surat itu untukku. Aku memang tak bisa membaca, hanya mengeja. Dan melaluimu, aku senang mendengarkan kalam-kalam Tuhan kita.

Reii, aku rindu dengan bacaanmu… meski aku tak lagi duduk disampingmu mendengarkan, percayalah dari sini aku mendengarnya. Kalam-kalam itu bahkan bisa menembus dimensi ruang  dan waktu yang berbeda. Pun menembus alam yang berbeda. Kau percaya kan?

Reii.. Jikapun kalam-kalam itu bukan lagi untuk kau perdengarkan padaku. Perdengarkanlah juga untuk hatimu sendiri. Ya untuk dirimu Reii.. 
Sekarang bukan aku yang membutuhkannya, melainkan untuk mu yang masih ada di dunia..





Selasa, 29 November 2016

Arah Jam 12


Rina, seorang gadis yang kini menginjak usia seperempat abad masih saja selalu menganggap dirinya anak sekolahan yang berusia 17 tahun. Di usianya yang sudah seharusnya dianggap dewasa itu, Rina baru mengalami masa alay, beberpa sahabatnya membenarkan itu. Rina tak pernah lepas dari telepon genggamnya. Secara bergantian dia membuka media sosialnya. Instagram, facebook, line, watsapp, path dan twiter, entah apa yang selalu ia periksa. Persis anak kekinian (kan?).

Rina kali ini sedang mebuka grup watsappnya. Ada sebuah kalimat yang Rina ketik, namun kembali dia  menghapusnya. Berulang kali mengetik beberapa kata untuk memulai percakapan di grup watsapp itu dan tetap saja dihapusnya. Grup itu rupanya hanya beranggotakan tiga orang, Rina dan kedua sahabatnya.  
“Saya mau buat pengakuan” akhirnya satu kalimat ini berhasil terkirim di grup itu.

Beberapa menit kemudian, kedua temannya sudah membaca pesannya itu, tentu saja bisa dilihat melalui notif grup. Tak ada balasan dari keduanya.
“Ini masih siang, kalian pasti sibuk. Baiklah, sebentar malam saja” tambahnya.
“Siap” seorang sahabatnya akhirnya membalas.

Pukul 18.15 WITA, ini baru saja menjelang malam. pesan baru masuk di pemberitahuan grup.  
“Ini sudah malam, mana pengakuannya?” sahabat yang satunya menagih janji. Rupanya ia memperhatikan chatingan Rina tadi siang.
“Tunggu saya ketik dulu” jawabnya mengulur waktu. Rina tahu sahabatnya yang satu ini pasti sangat penasaran.

Kembali Rina mengetik beberapa kalimat di layar ponselnya, dihapus bebarapa kali, diketik lagi dihapus lagi. Ahh..pasti mereka sangat penasaran, pikirnya. Rina sama sekali tidak sengaja mengulur waktu ataupun mau membuat kedua sahabatnya ini pensaran, melainkan Rina sedang membuat kalimat pengakuan yang menurutnya ini sangat penting, jadi harus disampaikan dengan cara sempurna.

Kemarin, seorang teman bertanya padanya perihal bagaimana cara Rina bisa tetap menebar senyum setelah apa yang tejadi padanya beberapa akhir ini. Berbagai masalah bertubi-tubi menghampirinya tentang kepergian,  kekecewaan, penyesalan, dan semuanya harus diakhiri dengan penerimaan. Setelah menceritakannya semuanya, Rina sadar salah satu alasannya karena kedua sahabatnya. Itulah mengapa Rina ingin menyampaikannya melalui pengkuan.

“Kalau saya bilang kalian berdua adalah sahabat terdekatku, saya pikir kalian sudah pada tahu. Kalau saya bilang saya menganggap kalian seperti saudara, tentu sudah pada tahu juga. Pengakuan yang mau saya sampaikan ialah…” kalimatnya terhenti.

Rina menerawang ke beberapa tahun silam, saat Rina masih duduk di bangku sekolahan. Saat SD, Rina punya teman sekelas tentunya tetapi saat itu Rina adalah gadis kecil pemalu di kelasnya, dia tidak cukup dikenal. Masih selalu bersembunyi di balik sifat pendiamnya. Beberapa teman memang selalu mengajaknya bermain, tetapi Rina selalu merasa minder. Saat SMP, Rina selalu mengikut dengan sepupunya. Teman sepupunya yah temannya juga. Dia bersembunyi di balik ketenaran sepupunya. Kebanyakan temannya hanya mengenalnya karena sepupunya. Apalagi di kalangan cowok-cowok pasti hanya sepupunya yang terkenal. Saat SMA, Rina terkenal sebagai gadis culun si kutu buku. Saat bel istirahat berbunyi, dia hanya tinggal di kelas, duduk di bangkunya sendirian hingga bel masuk berbunyi lagi. Selama 12 tahun, Rina merasa asing di sekolahnya sendiri. Selama itu pula, Rina merasa kesepian. Rina selalu bersembunyi. Memang ada suatu hal yang disembunyikannya. Ketakutannya atas ketidak terimaan teman-temannya, hingga takut ditinggalkan dan dibuang oleh teman-temannya. Rina pernah menyalahkan takdir atas apa yang terjadi padanya, atas segala ketakutan dan kekhawatiran yang timbul. Rina selalu takut jika dijadikan bahan perhatian, dia tak suka diperhatikan, itu sebabnya Rina lebih suka bersembunyi.

Selama itu pula, Rina terpuruk. Jatuh yang benar-benar galau. Memang tak selalu ditampakkannya tetapi  bersama ibunya, ia menampakkannya dan menceritakan semuanya. Ibu selalu menyelipkan nasehat-nasehat di setiap curhatannya dan melalui itu semua Rina banyak belajar.


Hingga akhirnya di bangku kuliah, Rina bertemu dengan kedua sahabatnya ini. Meski awalnya hanya mereka berdua saja yang akrab karena mereka punya bahan pembicaraan tentang K-Pop dan drama korea yang sedang naik daun kala itu. Rina kembali menjadi asing, namun dia telah terbiasa. Nama-nama artis korea itu, disematkan pada cowok-cowok ganteng di kampus yang kami idolakan. Rina pun larut, ikut dalam permainan itu. Di sinilah Rina mulai merasakan kenyamanan dan mengerti bagaimana teman itu sebenarnya. Kedua sahabatanya ini mengubah pandangan Rina tentang ‘teman’ bahwa teman itu perlu ada bukan hanya karena kita butuh bantuan saja. Melainkan rasa nyaman dan bisa tertawa lepas. Hingga akhirnya Rina mulai membuka diri, dan ternyata Rina sadar ada banyak ‘teman-teman’ lain yang didapatkan.

Atas segala apa yang terjadi, Rina paham bahwa untuk memperoleh banyak teman ia harus berteman dengan dirinya sendiri, bersahabat dengan hatinya. Hingga segala ketakutan yang timbul, akan menjelma menjadi tameng untuk berusaha lebih baik lagi melawan segala kemungkinan yang terjadi. Inilah dasar pembelajaran yang diterimanya, hingga ketika masalah dengan skala yang lebih besar datang menyapa, Rina bisa mengatasinya dengan lebih bijak.

“Terimakasih. Karena kalian adalah titik awalku merubah pandangan” Rina menutup kalimatnya setelah menceritakan semuanya pada kedua sahabatnya melalui grup yang hanya diisi oleh mereka bertiga itu.  



Minggu, 20 November 2016

Ingatan Berdebu

Bau tanah basah masih menyengat akibat hujan semalam. Kakiku kembali melangkah ke rutinitas biasanya, menuju ruang kuliah. Ruangan yang baru saja aku masuki itu tampak sepi. Tak seorang pun mengisi bangku-bangku  yang berderet rapi. Padahal ini sudah 15 menit lewatnya waktu masuk mata kuliah pagi ini, bahkan seharusnya aku terlambat. apakah kuliah diundur? Atau dipindahkan ruangannya? pikirku kesal karena tak ada konfirmasi oleh ketua tingkat.

Aku segera menuju perpustakaan, berharap ada teman yang bisa ku temui disana. Di jalan menuju perpustakaan, aku berpapasan dengan Doni yang berlari kecil menuju ruangan tadi dan beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa tas wanita.
“Hey mau kemana? Kenapa di ruang kuliah tak ada satupun orang? tanyaku heran.

"Oh iya kuliah hari ini dibatalkan. Tadi Rina pingsan di kelas dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit. Dia tiba-tiba menjerit kesakitan dan darah bercucuran dari hidungnya. Ayo ikut bersamaku. Aku baru saja mengambil tasnya yang ketinggalan" ajak Doni.

"Hmm.. Maaf aku tak bisa ikut ke rumah sakit" Jawabku terbata-bata.

Doni meninggalkanku begitu saja ketika ku ucapkan kalimat tadi. Semua orang tahu bahwa kalimat itulah yang akan keluar dari mulutku jika aku diajak ke rumah sakit. Benar, aku takut dengan rumah sakit. Aku pobhia dengan rumah sakit. Sejak dulu aku tak berani mengunjungi rumah sakit. Ada ketakutan besar.

Aku tahu bahwa diri kita sendiri yang mengatur segala apa yang dikehendaki dan dapat dilakukan oleh tubuh. Aku pun tahu jika ketakutan itu hanya bisa dilawan dengan ketakutan itu sendiri. Sama halnya dengan takut akan kegelapan, takut akan kedalaman dan takut pada seekor hewan. Itu hanya bisa dilawan ketika kita mampu membiasakan berada di sekitarnya. Aku sering mencoba sesekali menginjak rumah sakit. Aku ingin belajar menjadi terbiasa, berharap rasa takutku bisa hilang. Alhasil, aku tetap tak berhasil.




Rina kembali masuk kuliah, setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit. Ia duduk di sampingku dan menyapaku dengan wajah khasnya, mata sayu itu menatapku dengan ramah sembari merekahkan senyum untukku. Aku tentu sangat merasa bersalah tak menemaninya di rumah sakit. Tetapi ku atasi rasa bersalahku dengan bersikap cuek dan acuh.

"Haii Reina" sapa Rina padaku 

“Iyaa" ku tengok ia sekilas dan kembali sibuk membaca buku di tanganku.

Sikap cuek dan acuh, itulah julukan teman-teman padaku. Dan aku menikmati julukan itu. Aku memang terkenal dengan sebutan gadis tidak peka. Bukan, sama sekali tidak benar. Aku peka, sangat peka. Justru aku tak sanggup melihat raut wajah-wajah orang kesakitan, tak sanggup melihat ekspresi cemas orang sekelilingnya. 

Tiba-tiba suara dentuman keras mengagetkanku, membuyarkan fokusku dari bacaan di genggamanku. Aku menoleh. Rupanya itu Doni, dengan wajah tanpa senyum memukul meja di hadapanku. Tangannya mengepal. Mukanya memerah.

"Reina, kamu tetap bisa yahh bersikap acuh begitu. Rina baru saja menyapamu, dan balasanmu hanya satu kalimat iya. Kamu tidak merasa bersalah" protes Doni.

“Ada yang salah dengan sikapku barusan?" tanyaku polos. 

“Iya!!! Sangat salah. Seharusnya kamu yang menyapa duluan. Atau jika tidak, balaslah sapaan nya dengan ramah. Atau sampaikan permohonan maafmu karena tak pernah sekalipun kamu datang menjenguknya di rumah sakit dia dirawat. Kalian kan bersahabat.” Tekannya padaku.

"Doni, apa hakmu mengaturku?" tanyaku dengan nada suara yang juga mulai ku tekan.  

“Saya sama sekali tidak mengaturmu Reina. Sebagai seorang saksi persahabatan kalian, saya merasa perlu memberi nasehat padamu yang salah dalam bersikap. Jika kamu terus-terusan memiliki sifat seperti ini, bisa jadi saat kamu jatuh sakit tak akan ada teman yang menjengukmu. Tak ada yang mau menolongmu" Doni merendahkan suaranya.  

Kalimat Doni barusan, hampir saja membuatku meneteskan air mata. Aku tahu dampak yang akan terjadi atas sifatku selama ini. Iya Doni benar. Hal yang paling ku takutkan kelak, tak akan ada teman yang mengunjungiku jika aku menderita penyakit yang parah. Bahkan aku membayangkan di hari kematianku, tak akan ada yang melayat dan menangisi kepergianku. Saat segala kekhawatiran itu memuncak di kepalaku, aku berlari keluar ruangan meninggalkan Doni dan Rina yang baru saja menghakimiku, menurutku. 

Rasa takut pada suatu hal yang sering disebut sebagai phobia biasanya disebabkan karena seseorang yang mengalami trauma masa lalu dan membekas di dalam kesadarannya. Seperti seseorang yang takut kedalaman, mungkin saat masa kecilnya pernah tenggelam. Ketakutan pada salah satu hewan karena di masa kecilnya pernah digigit atau dikejar mati-matian oleh hewan tersebut. Sama halnya dengan ketakutan pada rumah sakit, tentu ada sebabnya. Tetapi aku sama sekali tak tahu apa sebabnya. Aku tak mengingat sedikit memori pun tentang rumah sakit di masa kecilku.

Aku selalu mencari informasi di google. Menurut beberapa sumber yang ku baca, ketakutan seseorang yang menderita phobia rumah sakit yakni karena tidak suka dengan aroma obat antiseptik yang memenuhi ruangan. Atau karena takut pada wajah dokter yang seolah seperti malaikat pencabut nyawa. Atau karena tidak suka dengan ruangan sempit rumah sakit yang pengap atau takut pada darah. Namun ku rasa bukan itu alasanku. Aku bisa mencium aroma obat-obatan itu asal bukan dalam ruangan rumah sakit. Aku bahkan pernah bercita-cita menjadi dokter, bagiku dokter adalah penyelamat. Aku belum menemukannya. 
*** 

Penyakit Rina kambuh lagi, ia kembali pingsan di dalam kelas dengan darah yang bercucuran dari lubang hidungnya. Teman-teman mengerumuninya. Semua panik. Darah itu tak mau berhenti bercucuran. Lima bungkus tisu telah habis seketika itu, hingga Rina tak sadarkan diri. Rina kembali digiring ke rumah sakit. Pertahananku tumbang. Kali ini aku harus ke rumah sakit, melawan ketakutanku. Doni benar, aku harus menjenguk Rina di rumah sakit. Ku gas motorku dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tempat dimana Rina dirawat. 

Sesampainya di rumah sakit, aku segera mencari ruang rawat Rina. Dari depan ruangannya, aku mengintip dari kaca jendela. Ruangan itu dipenuhi dengan sanak keluarga yang berdiri cemas. Mataku berkeliaran mencari sosok Doni agar saja aku tak malu. "Ahh. Kenapa aku harus malu, seharusnya aku berterima kasih padanya atas gertakannya kemarin" batinku menolak. 

Berhasil, aku tidak menemukan Doni disana. Namun sorotan mataku terhenti pada sesosok wanita tua. Wanita tua itu sepertinya menginjak umur 50-an. Wanita itu duduk tepat disamping ranjang Rina berbaring. Mengenggam tangannya dengan sangat erat. Aku mengenal wajah sendu itu. aku mengenal rasa cemas itu, dan aku merasakan hangatnya genggaman itu. 

Aku terdiam mematung, memandangi wanita tua itu. Memoriku mengawang ke masa beberapa tahun silam. Bunyi sirine ambulance memecahkan kesunyian malam itu, perawat berlari menghampiri ambulance yang baru saja tiba di depan rumah sakit. Seorang anak berusia 4 tahun didorong di atas tempat tidur beroda memasuki ruang ICU. Dokter pun datang dengan berbagai perkakasnya. Seorang wanita berusia 25 tahun menggenggam tangan gadis kecil yang tengah berbaring. Tetesan air matanya berderai di atas telapak tangan gadis kecilnya. Genggamannya kuat, berharap tidak terjadi apa-apa pada anaknya. Wajahnya penuh kecemasan. Anaknya diserang demam tinggi malam itu, karena sebuah penyakit yang semakin parah menggerogoti tubuhnya. Ya, gadis kecil itu adalah aku dan wanita itu adalah ibuku. Saat itu aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Satu hal yang ku tahu, aku telah membuat ibuku menangis. Aku telah membuat ibuku cemas. Aku telah membuat senyum indahnya hilang. Aku tak mersakan apa-apa pada tubuhku, tetapi aku merasakan sakit pada hati ibuku. 

Ketika seorang anak menderita sakit, ibunya memiliki perasaan sakit yang dua kali lipat lebih sakit dari anaknya. Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri, aku tak akan pernah menginjak rumah sakit. Aku tak mau sakit. Aku tak ingin melihat pemandangan seperti ini untuk kedua kalinya. Dan benar, janji itu tertanam jauh di otak bawah sadarku hingga menimbulkan phobia. Aku paham sekarang. aku menemukan alasan ketakutanku. Aku menemukan ingatan masa kecilku.


Tugas Cerpen sepulang "Writing Camp Pecandu Aksara" 
~Aksara itu candu~ 



Minggu, 25 September 2016

Sepucuk surat untuk calon imanku 

Mas, apa kabar?
Apa masih ada aku di lantunan doa-doamu?
Apa selalu ada kita dalam perjalananmu ke masa depan?
Usahamu sudah sampai mana menujuku ?

Semoga kau tak tersesat atau salah alamat.
Seperti aku, kali ini aku salah.
Dia yg ku pikir itu kamu, rupanya bukan.
Aku telah salah alamat.

Maafkan aku Mas, aku telah patah hati karena orang lain yang bukan dirimu. Bukan jodohku.
Aku salah telah menaruh banyak harap padanya.
Aku salah karena berjalan menujumu tapi tersesat di dia.

Sekarang, setelah rasa pahit ini. Aku memutuskan berhenti. Berhenti salah sangka pada setiap lelaki yang berjanji akan datang menemui Bapakku.
Sekarang aku hanya akan menunggumu, yang tidak berjanji. Melainkan langsung menemui beliau saja.

Jika kelak kau bertemu denganku, kumohon datanglah langsung ke rumah. Jangan Ada janji yg seharusnya memang tak ada selain ikrar pada saat akad.
Aku hanya takut salah alamat lagi. Aku takut patah hati lagi. Dan segala luka itu akan membuatku merasa bersalah padamu.
Aku takut Allah kita tidak ridho.

Untuk Sekarang, doakan aku agar tetap istiqamah. Menjaga hati teruntuk padamu saja. Aku pun tentu akan mendoakanmu.

.
calon makmummu.

Rabu, 14 September 2016

Ketakutan yang menjadi-jadi

Sore itu, sepulang dari menjenguk seorang adik di asrama sekolahnya. Nia teman yang sejak pagi tadi ku ajak jalan, mendapat sms dari sepupunya bahwa ia masuk rumah sakit. Siang tadi jatuh pingsan karena merasa teramat sakit di bagian perutnya. Mendengar kabar itu, kami segera membalap motor menuju rumah sakit. 
Ada perasaan yang begitu bergejolak. Aku berniat hanya mengantar Nia saja, kemudian pulang. Namun tidak sopan rasanya jika meninggalkannya di depan rumah sakit. Maka ku putuskan untuk masuk juga menemani Nia menjenguk sepupunya.

Aku begitu takut dengan suasana rumah sakit sebenarnya dan rasa takutku menjadi parah belakangan ini. Padahal dulu aku sudah berhasil sesekali masuk rumah sakit, dengan membiasakannya. Aku beberapa kali ke rumah sakit untuk melawan ketakutanku.
Seperti nasehat bijak "lawanlah rasa takutmu dengan ketakutan itu sendiri" 
Berbagai hal ku lakukan untuk membiasakan diri, termasuk menjadi anggota sebuah komunitas yg bergerak dalam bidang sosial, membantu orang2 kurang mampu untuk bisa berobat ke rumah sakit dengan biaya dari sedekah donatur. Beberapa kali ku injak rumah sakit saat menjenguk pasien. Berhasil aku melawan rasa takut ku. Meski awalnya, langkahku sedikit gemetaran, keringat bercucuran, dan dadaku sesak ketika melihat mereka. Inilah alasanku mengapa aku  sangat jarang ke rumah sakit. Banyak teman sekelasku sejak SMP SMA dan kuliah  yg tak ikut ku jenguk jika mereka di rawat di sana, aku takut dengan suasana rumah sakit. 

Langkahku kembali gemetaran, ku temui disudut-sudut rumah sakit, bapak-bapak dengan tatapan kosongnya, seorang ibu yang tengah menangis meratapi anaknya, beberapa pasien didorong di atas tempat tidur beroda oleh beberapa suster dengan amat tergesa-gesa, dokter berlarian menghampiri pasien yang berlumuran darah. Aku takut dengan semua itu. Ini juga salah satu alasanku mengapa ku urungakan niatku bercita-cita menjadi dokter saat SMA. Aku menyadari ketakutanku. 

Ku ikuti Nia dari berlakang yang sedikit berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit mencari ruang rawat sepupunya. ketika Nia membuka pintu ruang rawat, ku hentikan langkahku. Baru selangkah kakiku di dalam ruangan, dadaku semakin sesak.
"Nia, saya menunggu di luar saja yah" 
"Eh kenapa Ni?" 
"Hahaha.. saya nanti baper" ku jawab dengan sedikit bercanda 
"Ohh iya.. tapi nanti klo saya lama bagaimana?" 
"Tidak apa2,  paling saya main hp disini menunggu. Terbiasa menunggu. Hehe"

15 menit, Nia baru keluar dari ruangan mengerikan itu. Dan selama itu pula di ruang tunggu aku menundukkan kepala tak ingin melihat sekelilingku. Meski sesekali mataku berkaca-kaca. Beneran baper hahahaha. 

Pertahanan ku runtuh sejak isi kepalaku penuh dengan  bayangan bagaimana suasana rumah sakit saat ibuku di rawat dan aku tak ada menemani adik-adik dan Bapakku.
Rasa takutku pada rumah sakit menjadi-jadi...

Minggu, 28 Agustus 2016

#MasihDiBumi

Maka
pada setiap padanan kata
akan menemukan kita
mungkin nanti di satu kota yg sama

Itu kelak
di waktu yg tepat
Saat semua "terjelaskan"
Bumi akan berhenti menunggu

Bahkan
Jika semua kata tak ada yang sepadan, 
Jika kita tak saling menemukan 
dan jika tidak pada satu kota yg sama

Jika nanti
di waktu yg mungkin tidak tepat
tetap semua akan "terjelaskan"
Bumi tidak akan pernah lagi menunggu

#MasihDiBumi 00.05WITA (29 Agustus 2014)
*Bumi pada Langit*

Jumat, 26 Agustus 2016

SEMARAK KEMERDEKAAN

Pagi ini aku bangun lebih awal, padahal ini hari minggu. Bisanya aku bermalas-malasan di depan TV. Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 WITA, aku segera bergegas mandi pagi, menyiapkan baju yang siap ku kenakan nanti di acara 17 Agustus di lapangan dekat rumah. Tepatnya di lokasi Carakdek SIGi Makassar. Baiklah sedikit ku jelaskan, SIGi Makassar adalah kumpulan kakak-kakak keren, menurutku. Karena dengan kepedulian mereka, mereka mau mengajari kami membaca dan berhitung. Aku adalah salah satu anak yang belajar di sana.

Hari ini mereka mengadakan kegiatan seru. Turut menyemarakkan hari kemerdekaan Indonesia. Tak banyak hal yang ku tahu tentang perjuangan di masa itu, aku bocah usia 10 tahun yang masih memikirkan main, main dan main saja. Sedikit yang ku tahu, mungkin jika Indonesia tidak merdeka saat itu, aku tak akan bisa bermain dengan nyaman sekarang, tak ada layangan yang bisa bebas ku terbangkan, tak akan ada kesempatan bagi anak-anak seperti kami berlarian, bersepeda atau sekedar tertawa lepas. Karena para penjajah itu mungkin sudah menguasai negeri tercinta ini.  

Aku juga bingung sebenarnya, kenapa merayakan hari kemerdekaan mesti diisi dengan berbagai lomba. Yahh walaupun tetap ada upacara 17an. Ahhhh.. aku masih bocah usia 10 tahun, tak mau ambil pusing. Yang jelas aku bisa mengikuti semua lomba, menurutku aku juga sudah jadi keren layaknya para pejuang yang melawan penjajah. Hehehehe.




Pagi itu, sudah menjelang siang sihh sebenarnya. Aku dan teman-teman segera mendaftarkan diri di berbagai lomba. Lomba yang ada yakni lomba makan kerupuk, tarik tambang, jogged balon, lari kelereng, baca puisi, dan nyanyi lagu nasional. Selain lomba-lomba itu. hal yang sebenarnya sangat membuat aku tertarik adalah hadiah lomba. Aku bertekad memenangkan lomba yang ku ikuti. Aku hanya ingin bahagia.

Setelah melakukan berbagai rangka lomba tersebut, aku paham satu hal. Bukan hanya hadiah yang bisa membuat aku bahagia dan merasa keren. Turut berada di tempat ini, turut meramaikan semarak kemerdekaan, turut melihat kegilaan kakak-kakak keren SIGi Makassar, itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih telah memberi warna bagi anak-anak seperti kami. terimakasih telah mengukir senyum untuk anak-anak seperti kami, terimakasih telah mengenalkan makna kemerdekaan kepada kami.





Ingin ikut merasakan keseruan kegiatan SIGi Makassar??
Yuuk ikut berpartisipasi di acara Project Berbagi 13 SIGi Makassar yang bekerja sama dengan rotaract phinisi , Minggu tanggal 28 Agustus 2016 di Panti Asuhan ATTIN, BTP jl.Kesenangan 1 Blok E No 109. Dengan tema Pemeriksaan Gigi, Recycled and Craft, kakak sekalian bisa ikut berbagi keceriaan, semangat, juga kreatifitas bersama adik-adik di acara ini. Jangan sampai ketinggalan keseruannya^^

Bagi kakak-kakak keren yang ingin berdonasi silahkan ke rek. BNI a/n Rahmiana Rahman 0271999806
cp: 081524201163 (oji), 085299372701 



Kamis, 18 Agustus 2016

“Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia” dalam Novel Tuhan Maha Romantis

Belakangan ini saya suka duduk menyendiri di sebuah kafe / warung kopi menikmati segelas es capucino, sembari menunggu waktu menunjukkan pukul 18.00 WITA, ditemani sebuah buku yang tak lelah ku balik-balik lembar demi lembar, menunggu untuk ku selesaikan. Belakangan ini saya suka membaca novel bergendre “romantis“ yang di dalamnya mengarahkan bagaimana seharusnya hati ini kita kendalikan. Bagaimana seharusnya kita menjaga sikap, pun menjaga perasaan yang tumbuh. Ya, bagaimana seharusnya.

Dapatlah kita katakan setiap orang itu jatuh cinta. Ada yang menjadi kuat karenanya, ada yang terperdaya. Siapa mereka yang menjadi kuat? Mereka yang mampu mengelolah cintanya, yang tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap energi berlebih pada dirinya yang hadir karena cinta itu. siapa mereka yang terperdaya? Mereka yang membutakan pandangannya dan lupa pada Yang Menciptakan cinta.  (Nurun ala, 135)

Seketika itu aku paham sekarang, mengapa batinku pun bergejolak. Separuh diriku ingin selalu di dekatnya namun separuh yang lain membisikkanku untuk menjaga jarak. Hal ini sama dengan yang dirasakan tokoh “Aku” dalam cerita ini. Tokoh aku dalam cerita ini memilih untuk menyibukkan diri, mengikuti banyak kegiatan, dan sebisa mungkin mengurangi interaksi dengan dia.

Memang, ada hal yang harus kita perjuangkan, pun yang harus kita lepaskan. Bukan, bukan menyerah atas perasaan yang begitu dilema. Bukan, bukan berusaha untuk menghapus perasaan itu dari hati kita. Melainkan justru menjaganya. Tak ingin ku biarkan aku terpedaya dibuatnya. Karena itu tipu daya makhluk yag senantiasa ingin menjerumuskan kita kan?.

Biarkan aku menikmati jatuh cintaku sendiri, tak ingin jika makhluk itu membumbu-bumbuinya dengan angan-angan yang berlebihan, hingga menjerumuskan. Biarkan aku jatuh cinta dengan caraku sendiri; menyebutnya dalam doa-doaku, menyimpan sirat namanya dalam deretan huruf aksaraku, memaku setiap kenangan pertemuan kita. Menjaga, menjaga dan menjaga, aku hanya sedang menjaga.

Tokoh aku dalam cerita ini juga sangat menyukai puisi Hujan Bulan Juni milik sapardi Djoko Damono. Seperti itulah perasaannya padanya. Seperti hujan yang sangat tabah, bijak, dan arif. Demikian padaku juga.    

“HUJAN BULAN JUNI”
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Kepada hujan, barabgkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. Hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap menjadi rahasia. Karena ternyata, hujan tak hanya menghapus rintikrindu, tapi juga juga melarutkan kenangan. Membawanya pergi entah kemana., sebab laut tak pernah sanggup jadi muara buat segala. Jadilah kita tetap sendiri-sendiri.. dan tak perlulah kita bicara janji.

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu  di jalan itu
Kita pernah melangkah dan berhenti dengan irama yang sama. Kita pernah menatap bulan dari sudut yang sama. Kita jua yang menjadi sebab adanya pemaknaan-pemaknaan positif tentang jarak dan keterpisahan. Kita telah mecipta banyak,  pembenaran-pembenaran indah, dan itu pertanda kita ragu. Tapi hujan menghapus keraguan itu.

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bukan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu
tidak semua apa yang kita rasa perlu diungkapkan, bukan? Sebagian rasa memang membahagiakan ketika diungkapkan. Sebagiannya lagi menentramkan bila dipendam. Boleh jadi sisanya ada untuk dilupakan. Itukah yang kini sedang ku rasakan? Kau rasakan?. Dalam diam kita, hujan memang terlalu banyak bicara. (Nurun Ala,125-127)

Setelah terpisah lama, rupanya memang agak canggung berbicara padanya. Bibirku memilih bungkam. Sikapku memilih acuh. Tapi hatiku sedang bergejolak. Pertemuan pertama dengannya setelah terpisahnya jarak membuatku sulit memulai pembicaraan. Pertemuan pertama dengannya setelah waktu yang tidak sebentar membuatku sulit mengimbangi pembicaraan.

Belum ada kata ‘apa kabar’ atau sekedar ‘Hai’ yang terucap dari kamu maupun aku, yang menandakan bahwa percakapan kita harus segera dimulai. Tetapi seperti ada kekuatan lain yang hadir, memaksa kita untuk bungkam. Kamu yang biasa berekspresi ini itu tanpa ragu, mengapa tak berbicara lebih dulu?. Dan aku. Mengapa aku mendadak gagu? Aku enangkap pesan dari ekspresi itu, sinyal serupa yang coba kita pancarkan dengan gelombang masing-masing : kita sama-sama tak tahu jawabannya apa. (Nurun Ala, 1)

Tokoh aku dalam novel ini pun merasakan hal yang demikian, setelah  lima tahun tak bertemu dia, pertemuan pertamanya menghabiskan seratus delapan puluh detik dengan mulut terkunci hingga mereka mencoba untuk saling bicara.

Allah punya jalan cinta untuk semua manusia, yang sering kita abaikan hanya karena kita melihat jalan yang lebih landai. Allah punya jalan cinta untuk orang-orang yang berpasrah, mereka yang percaya hanya ajaran-Nya lah Software terbaik bagi hardware yang bernama manusia. Sayang sebagian besar kita (mem)buta(kan diri) sehingga tak melihat jalan itu. (Nurun Ala, 206)


“Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia”, Novel TUHAN MAHA ROMANTIS karya Azhar Nurun Ala, membuatku memahami bagaimana seharusnya jatuh cintaku padanya, dan semakin mencintai-Nya Sang Maha cinta.

Senin, 15 Agustus 2016

Nyanyian Rintik Hujan

Gerimis datang lagi
Membawa ketenangan kala menikmatinya
Mendengarkan dendangan rintiknya
Melihat tarian jatuhnya
Mencium udara sendunya


Nyanyian rintik hujan
Mendendangkan kemerduan
Instrument musik paling indah
Di tengah kesunyian

Mereka sedang bernyanyi
Mendendangkan lagu kehidupan
Tentang penantian bumi
Tentang harapan penghuni kolong langit

Nyanyian rintik hujan
Adakah maksud lain kala kau datang
Dengan derasmu?



Babo, 10 Januari 2016 

Selasa, 21 Juni 2016

Day #17Ramadhan, malam Nuzulul Quran


Di suatu sore yang sejuk tampak seorang gadis mungil mengendarai sepedanya. Dibelakangnya, adiknya memeluknya erat. Gadis itu mengayuh sepedanya dengan sangat hati-hati. Takut jikalau mereka terjatuh dari sepeda di atas jalan berbatu. Di keranjang depannya disimpannya Iqra milik adiknya dan Al-Quran besar miliknya. Mereka sedang menuju mesjid sekarang. Mereka santriwati yang sedang belajar Al-Quran,  sedang belajar mengeja kalam ilahi, sedang belajar memahami isi surat cinta Allah.

Sebelum berangkat tadi, ia ingat dengan pesan Ibunya 
"Nak kalau di mesjid, belajar ngajinya yang bener. Tidak usah main lari-larian kayak teman-teman kalian disana. Mesjid rumahnya Allah. Kalian sedang bertamu. Selayaknya seorang tamu harus menjaga kelakuannya kan di rumah tuan rumahnya" 
Gadis kecil itu mengangguk mengiyakan nasehat Ibunya. Diciumi punggung tangan ibunya dengan sangat khidmat.

Mereka termasuk anak-anak yang penurut. Sesampainya di mesjid, mereka mengaji dengan sungguh-sungguh. Saat teman-temannya berlarian kesana kemari, mereka hanya menatapi mereka meski ingin juga rasanya berlarian. Tapi mereka sangat penurut. Terlalu menjaga kepercayaan ibunya. 

Beberapa hari selepas kepergian Ibunya ke sisi Allah SWT. Gadis tadi dan adiknya yang sudah tumbuh dewasa kini mengkhatamkan Al-Quran untuk almarhumah ibunya. Niatnya untuk diberikan amalnya pada Ibunda tercinta. Karena bagaimanapun, karena ibunya jualah mereka mahir membaca kalam Ilahi kini. Di tengah bacaannya, sesekali air mata menetes di pipinya. Dalam hatinya mengucapkan terimakasih yang teramat dalam pada ibunya. Karena beliau, surat cinta ini bisa mereka maknai sedikit demi sedikit. Jika bukan ibu yang dengan kelembutan hatinya selalu mengingatkan mereka untuk berangkat ke mesjid belajar mengaji, entah apa jadinya mereka sekarang.

Malam itu tepat 15 tahun yang lalu, di malam 17 Ramadhan memperingati hari Nuzulul Quran di mesjid tempat gadis mungil itu belajar Al-Quran. Dia tampil menjadi vokalis kasidah, menyanyikan lagu "shalawat badar"nya Hadad Alwi. Lagu ini sangat populer saat itu. Di depan Ibunya, ini kali pertamanya merasa bangga telah dilahirkan oleh ibunya. Gadis mungil itu juga dinobatkan sebagai salah satu santriwati teladan malam itu. Betapa cantiknya senyum ibunya melihat anak mungilnya berdiri di depan panggung.

Malam ini, tepat malam 17 Ramadhan. Setelah mengingat segala kenangan indah bersama Ibunya. Dia berjanji tak akan ada air mata kesedihan lagi kedepannya. Dia kini benar-benar ikhlas atas kepergian ibunya menghadap Tuhannya.

Namun jika kelak kau temui air matanya menetes. Itu hanya air mata kerinduan. Tak apa kan?