Selasa, 09 November 2021

Refleksi Aksi nyata 3.3

 Facts (Peristiwa): 


Kamis, 14 Oktober 2021 SMP Pesantren Modern IMMIM Putra Makassar melakukan Peluncuran Gerakan Pesantren IMMIM Ramah Anak Anti- Bullying & Kekerasan sekaligus pemutaran perdana film Edukasi Santri "Stop Perundungan". Kegiatan ini berlangsung di SMP Pesantren IMMIM yang terletak di Jl. Perintis Kemerdekaan KM.10, Tamalanrea Indah, Kec. Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.



Kegiatan ini dihadiri oleh ketua yasdic IMMIM Ayahanda DR. Ir. H. M. Ridwan Abdullah M. Sc., ketua YDP Pesantren IMMIM Putra ibu Ir. Hj. Nur Fadjri Fadeli Luran M. Pd., Direktur Pesantren IMMIM Putra Dr. H. Mukhlis Mukhtar M. Ag., Kepala Sekolah bapak Nasir Ameth, S.E., para ulama dewan guru, pembina, serta keluarga besar pesantren IMMIM, dan santri SMP Pesantren IMMIM Putra. Kegiatan ini sebagai penanda bahwa Pesantren IMMIM sangat mendukung gerakan anti- bullying di dalam lingkungan sekolah dan pesantren. Dalam kegiatan ini dijelaskan kembali tentang sarana e-learning pesantren untuk mewadahi santri dalam melaporkan keluhan atau pengaduan terkait perundungan yang mungkin terjadi. Pelaporan tentang perundungan dijaga kerahasiaan pengadu dan dapat dipastikan bahwa santri yang melaporkan sesuatu tidak akan mendapat dampak negatif dari pengaduannya, laporan hanya akan diketahui oleh pimpinan kampus yang berwenang untuk kemudian keluhannya akan ditangani dengan baik agar tercipta lingkungan sekolah dan pesantren tanpa adanya kekerasan baik dari santri, guru, maupun pembina. Kegiatan ini juga menampilkan penampilan santri berupa persembahan Marawis, Penampilan bernyanyi, dan Shalawat Nariyah yang dibawakan oleh beberapa santri dari kelas 1,2, dan 3. Semoga kegiatan ini dapat memupuk silaturahmi persaudaraan dan tidak ada perundungan yang terjadi di dalam lingkungan sekolah dan pesantren. Diakhir acara santri dan semua hadirin melakukan kegiatan nonton bersama film edukasi santri "Stop Perundungan". Kegiatan ini berlangsung tetap dengan menerapkan dan memperhatikan protokol kesehatan.



Selain peluncuran gerakan Pesantren ramah anak, anti bullying dan kekerasan dan pemutaran film edukasi "stop perundungan", sosialisasi anti bullying ini juga dilakukan dengan berbagai cara berupa lomba mading antar kelas dengan tema anti bulying dan kultum oleh guru di setiap awal pembelajaran di kelas. 



Feelings (Perasaan): 

Perasaan saya setelah program ini berjalan yaitu merasa takjub karena perilaku santri sudah mulai berubah menjadi lebih baik. Tidak ada lagi yang merundungi temannya di kelas baik itu secara bercanda atau saat saling mengganggu dan terpancing emosi. Santri menjadi lebih tahu cara saling menghargai temannya dan adab mereka kini lebih terjaga. 


Hambatan yang dirasakan di awal adalah kesulitan memberi arahan kepada santri tentang gerakan ini bahwa tidak hanya guru atau walithalib saja yang dapat saling mengingatkan anti bulying melainkan setiap siswa punya tanggung jawab melakukan itu agar bulying baik secara verbal maupun fisik bisa terhindarkan. Solusi yang dilakukan yaitu terus mengupayakanberikan sosialisasi dan memberi nasehat serta contoh-contoh yang baik untuk menghindari bullying dimanapun berada. 


Findings (Pembelajaran): 

Pelajaran yang saya dapatkan dari program gerakan ramah anak, anti bulying dan kekerasan ini adalah setiap anak punya peluang mendapatkan kekerasan bulying namun jika semua pihak paham tentang dampak buruknya maka semua bisa mencegah itu. Sehingga korban bullying merasa lebih aman dan merasa terlindungi. 


Future (Penerapan): 

Setelah melakukan program ini, kedepannya saya akan terus mensosialisasikan gerakan anti bullying dimanapun berada, baik dalam pondok pesantren maupun di lingkungan sekitar. 

Minggu, 17 Oktober 2021

Aksi nyata Modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Kegiatan aksi nyata pada modul 3.1 mengenai pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran saya uraikan dalam bentuk portofolio yang mengandung unsur 4F yaitu Facts (peristiwa), Feelings (perasaan), Findings (pembelajaran), dan Future (penerapan di masa yang akan datang).


Facts (Peristiwa):
Melihat kondisi perkembangan zaman dan teknologi saat ini, membuat tumbuh kembang murid juga berkembang dengan sangat pesat. Penggunaan IT yang dulunya sangatlah minim, sekarang sudah merambat ke seluruh sektor bidang utamanya pendidikan. Tidak terkecuali pada murid, mereka sangat maju dalam memahami penggunaan IT utamanya gadget dan laptop. Sehingga hal inilah yang melatarbelakangi SMP Pesantren IMMIM untuk membuat teknik baru dalam mengupayakan peningkatan penggunaan IT bagi murid.


Pada rapat persiapan Penilaian Tengah Semester (PTS) tahun ini oleh kepala sekolah dan dewan guru, ide itu diangkat sehingga tercipta sebuah gagasan untuk melakukan Penilaian Tengah Semester
pada tahun ajaran ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kepala sekolah mengusulkan PTS tidak lagi menggunakan tes tulis melainkan memberi wadah kepada murid untuk mempresentasikan hasil dari pengalaman belajarnya berupa materi pelajaran di depan teman-temannya menggunakan IT yakni dengan aplikasi powerpoint (PPT). Namun kepala sekolah tentunya meminta pertimbangan dari seluruh dewan guru untuk persetujuan pelaksanaan PTS ini.

Saya selaku salah satu guru di SMP Pesantren IMMIM sangat mendukung gagasan tersebut. Sebab dampak dari pelaksanaan PTS itu sejalan dengan apa yang saya pelajari dari pendidikan guru penggerak terkait pembelajaran berpihak pada murid. Sebab menurut saya, ketika murid tampil mempresentasikan sebuah materi pembelajaran dengan media PPT nya mereka ditantang untuk lebih kreatif dan berani.

Namun tidak semua guru yang menyetujui gagasan ini. Beberapa guru berpendapat pelaksanaan PTS dengan presentasi tersebut hanya akan memperoleh nilai dari satu mata pelajaran saja (sesuai materi yang dipilih untuk dipresentasikan) sedangkan pelajaran lain tidak dilakukan penilaian serupa. Karena satu murid hanya akan mempresentasikan satu mata pelajaran.


Disinilah peran seorang pemimpin pembelajaran mengambil keputusan, apakah tetap menggunakan teknik PTS seperti biasanya ataukah menggunakan teknik PTS dengan penggunaan IT tersebut. Seluruh dewan guru berpikir untuk mencari solusi bersama. Bagi saya keputusan yang berdampak pada murid yaitu penggunaan teknik PTS dengan IT tersebut.

Akhirnya setelah melewati diskusi yang panjang, keputusan yang diambil bersama adalah penggunaan teknik PTS dengan IT. Sedangkan penilaian mata pelajaran lain yang tidak dipresentasikan oleh murid akan diambil dari penilaian harian di dalam kelas oleh gurunya masing-masing. Dan akhirnya kegiatan PTS tersebut diberi nama kegiatan "Festival middle semester".



Feelings (Perasaan):
Perasaan saya setelah melihat pelaksanaan Festival middle semester adalah sangat bangga. Sebab kemampuan murid diluar dugaan para guru. Mereka tampil dengan gagah berani dan menyampaikan materi presentasi layaknya guru/dosen dengan penuh percaya diri. Kreativitas mereka membuat slide materi dengan media PPT juga sangat bagus. Maka kami menganggap keputusan saat rapat PTS adalah keputusan terbaik sebab murid mampu mengeluarkan potensi yang dimilikinya dengan teknik penilaian kali ini. Semoga ke depannya festival midle semester ini bisa terus berlangsung dengan gagasan yang terus dikembangkan agar menjadi lebih adil untuk semua pihak, utamanya untuk murid.


Findings (Pembelajaran):
Pelajaran yang saya dapatkan dari proses pengambilan keputusan ini adalah sebuah keputusan haruslah melihat akan berdampak kepada siapa. Setiap keputusan tentu tidak sempurna di mata semua orang, namun ketika niat kita baik dan apa yang diupayakan adalah demi perkembangan murid-murid kita, InsyaAllah hasilnya akan luar biasa. Maka memang benar bahwa pendidikan sejatinya tidak statis, dia akan terus berkembang mengikuti kodrat dan zamannya. Langkah yang kemudian bisa dilakukan adalah keputusan seorang pemimpin pembelajaran, yang dalam hal ini adalah para guru bagaimana kita membawa pendidikan di sekolahnya mampu bergerak sejalan dengan perkembangan.


Future (Penerapan):
Setelah mempelajari ini, kelak di masa depan ketika insyaAllah saya menjadi pemimpin pembelajaran di lingkup yang lebih luas, yang bisa saya lakukan dengan lebih baik yaitu cara pandang saya melihat murid-murid saya. Bagaimana segala keputusan dalam setiap langkah saya sebagai pemimpin pembelajaran akan selalu berdampak pada mereka.

Kamis, 16 September 2021

Koneksi Antar Materi Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Pada tahun 1922 Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa), beliau mencetuskan asas-asas pendidikan yang kerap kita kenal sebagai patrap triloka. Patrap triloka terdiri atas tiga semboyan yang sampai saat ini menjadi panutan di dunia pendidikan Indonesia: Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Umumnya semboyan tersebut diterjemahkan menjadi “di depan memberi teladan”, “di tengah membangun motivasi”, dan “di belakang memberikan dukungan”. Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka ini memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil, sebab asas-asas pendidikan inilah yang menjadi dasar pengambilan keputusan dalam pendidikan, sehingga apa yang menjadi keputusan bisa sejalan dengan prinsip dasar pendidikan Indonesia.



Tidak hanya itu, dalam pengambilan suatu keputusan juga dipengaruhi oleh beberapa hal termasuk nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita. Seorang guru maupun manusia pada umumnya tentu memiliki nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya, yang tumbuh bersama karakter. Sehingga keputusan ataupun segala pandangan di hidupnya selalu bercermin pada nilai-nilai yang telah dia yakini, utamanya bagi seorang yang berprofesi sebagai guru.

Kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan ini juga berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran,  terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Misalnya saat praktik Coaching pada lokakarya 4 dimana para CGP melakukan Coaching dengan beberapa masalah yang dihadapi di sekolah, dan pada akhirnya hasil dari Coaching tersebut merupakan sebuah bentuk keputusan yang diambil sebagai pemimpin pembelajaran di sekolahnya.

Pengambilan keputusan tersebut telah efektif, sebab telah dianalisis dari berbagai paradigma dan prinsip pengambilan keputusan. Juga telah dilakukan 9 langkah pengambilan keputusan hingga pada akhirnya keputusan yang diambil telah melalui proses analisis yang sangat matang.

Dengan melihat ini, maka dapat dikatakan bahwa proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dapat dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Begitu pula dengan pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika, pengambilan keputusan dari kasus tersebut akan kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik. Misalnya seorang pendidik yang telah memiliki nilai-nilai empati dalam dirinya akan cenderung mengambil keputusan yang lebih condong pada membantu yang lemah dibandingkan menjalankan peraturan.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Sebab lingkungan yang yang positif, kondusif, aman dan nyaman tidak serta merta langsung terbentuk, lingkungan ini tumbuh dengan berbagai komponen yang saling berkolaborasi di dalamnya yang tentu segala dilema etika maupun moral yang timbul selalu menghasilkan keputusan yang tepat.

Kesulitan-kesulitan di lingkungan yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini yaitu sulitnya menentukan diri akan berpihak pada atasan/yayasan atau pada murid secara keseluruhan. Sebab ini akan kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan sekolah.

Pengambilan keputusan yang saya ambil tentu sangat berpengaruh dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid. Sebab inti dari pembelajaran dalam pendidikan guru penggerak ini adalah mengajak semua guru untuk kembali melihat bagaimana pendidikan yang sebenarnya. Bahwa pendidikan haruslah berpihak pada murid dan membantu mereka memperoleh kemerdekaan belajarnya. Maka segala dilema etika dan moral yang akan ditemui kemudian hari haruslah menuju pada tujuan itu.

Dengan berpegang teguh pada prinsip merdeka belajar dan pembelajaran berpihak pada murid, maka seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya.

Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran sejatinya tidak berdiri sendiri, melainkan  berhubungan dengan pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka, juga dari nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita.
Kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan juga berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Sehingga pengambilan keputusan yang diambil seorang pendidik berpengaruh dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid, dan pada akhirnya dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-murid.

Rabu, 25 Agustus 2021

Koneksi antar materi Modul 2.3

Peran Coach di sekolah

Sebagai seorang guru tentunya sering kita jumpai banyak kasus terkait murid. Kasus-kasus tersebut seringkali menjadi penghambat kemajuan murid dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, respon cepat dari guru sangat diperlukan. Salah satu yang dapat dilakukan guru adalah dengan melakukan proses Coaching.

Menurut Grant, 1999 Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee.

Dari pengertian di atas, seorang guru dapat berperan menjadi coach dan  murid-muridnya berperan menjadi coachee. Guru tentunya dapat memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi murid-muridnya.

Sehingga dapat disimpulan bahwa peran guru sebagai coach di sekolah sangatlah penting agar murid dapat menemukan potensi diri dan mengembangkannya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar.


Keterkaitan materi Coaching dengan materi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Emosi dan Sosial

Pengembangan potensi murid yang berbeda-beda menjadi tugas seorang guru. Apakah pengembangan diri anak ini cepat, perlahan-lahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang guru. Pengembangan diri anak dapat dimaksimalkan dengan proses coaching. Selain itu, pengembangan potensi murid dalam hal Sosial-Emosional dan pengembangan kognitif nya tentu jiga dapat dilakukan dengan Pembelajaran diferensiasi di kelas dan Pembelajaran Sosial-Emosional dari pembiasaan yang dikembangkan oleh guru.

Dari sudut pandang pengembangan potensi inilah materi Coaching dapat dikaitkan dengan materi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial Emosional




Refleksi pemahaman materi Modul 2

Seperti yang kita ketahui telah dijelaskan sebelumnya bahwa dasar diluncurkannya program merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yaitu membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya, sesuai dengan filosofi pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu menuntun tumbuhnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

Sehingga dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. 

Di samping itu untuk mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensi murid, tidaklah cukup apabila murid hanya mengembangkan kemampuan akademiknya saja. Murid juga perlu mengembangkan aspek sosial dan emosionalnya. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi sosial-emosional berperan penting dalam keberhasilan akademik maupun kehidupan  seseorang.

Begitu pula untuk memenuhi kebutuhan belajar murid di sekolah, maka diperlukan sebuah pembelajaran yang berpihak pada murid. Lewat  pembelajaran berdiferensiasi, murid tidak hanya akan dapat memaksimalkan potensi mereka, tapi mereka juga akan dapat belajar tentang berbagai nilai-nilai kehidupan yang penting. Nilai-nilai tentang indahnya perbedaan, menghargai, makna baru dari kesuksesan, kekuatan diri, kesempatan yang setara, kemerdekaan belajar, dan berbagai nilai penting lainnya yang akan berkontribusi terhadap perkembangan diri mereka secara lebih utuh.


Bagaimana coaching dapat membantu profesi Anda sebagai guru dalam menjalankan pendidikan yang berpihak pada murid?

Coaching dapat membantu profesi saya sebagai guru dalam menjalankan pendidikan yang berpihak pada murid sebab proses coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam  dapat membuat murid melakukan metakognisi, serta pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam. Sehingga masalah-masalah pembelajaran yang mengganggu proses pembelajaran dan dapat menurunkan potensi murid akan dapat diatasi..

Coaching memiliki peran yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi murid sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama, hal ini tentu sesuai dengan pendidikan yang berpihak pada murid.

Sabtu, 24 Juli 2021

Artikel Refleksi Aksi Nyata Budaya Positif

 A.  Latar belakang

Budaya sekolah belakangan ini lebih pada penerapan hukuman yang berdampak pada pembiasaan murid yang hanya menjalankan aturan karena perasaan takut. Sehingga dibutuhkan budaya positif di sekolah yang berdampak baik pada pengembangan karakter. Sebab sekolah merupakan intuisi pembentukan karakter.


Diri saya pribadi sebenarnya telah menjalankan kesepakatan kelas di setiap awal pembelajaran di tiap semester baru, berupa kontrak belajar di kelas. Namun rupanya kontrak belajar yang saya lakukan masih menggunakan kata negatif “Jangan dan tidak boleh”, sehingga saya perlu merubah pemahaman saya tentang pembentukan kesepakatan kelas yang mengarah pada terciptanya budaya positif. Sehingga perlu pelaksanaan aksi nyata budaya positif di sekolah.


B.  Deskripsi Aksi Nyata

Aksi nyata budaya posititf yang dilakukan di kelas dimulai saat awal semester baru di pertemuan pertama di setiap kelas dengan langkah sebagai berikut

1. Melakukan survey kebutuhan murid

Survey kebutuhan murid dilakukan dengan menanyakan pendapat murid tentang apa masalah yang dihadapi di kelas dan harapan kelas yang dapat membuat mereka nyaman. Hal ini dilakukan karena guru perlu mengidentifikasi kondisi kelas sebelum melakukan kesepakatan, terkait apa saja keinginan, perasaan dan pendapat murid tentang kondisi kelas dan sekolah yang mereka alami selama ini.

2. Membuat kesepakatan kelas

Kesepakatan kelas di sini dilakukan dengan mempersilahkan murid mengajukan ide atau gagasan kesepakatan kelas seperti apa yang dapat dilakukan bersama-sama. Jika ada yang belum disebut murid, maka guru memberi alternatif positif kepada murid terlebih dahulu, memancing mereka menemukan ide, kemudian guru menyimpulkan ide yang telah disampaikan murid.

3. Penandatanganan komitmen

Penandatnganan komitmen diawali dengan menuliskan hasil kesimpulain kesepakayan kelas Bersama dalam bentuk poin-poin. Kemudian poin-poin kesepakatan kelas itu diprint dan ditempelkan bersama-sama pada kertas karton, ditambah foto kelas dan penandatanganan kesepakatan oleh semua murid.

4. Melaksanakan kesepakatan kelas

Kesepakatan kelas dilaksanakan oleh murid secara bersama-sama dengan penuh tanggungjawab masing-masing. Sedangkan guru juga dapat memberi contoh nyata beberapa poin yang telah disepakati bersama, dan memantau pelaksanaan kesepakatan yang dilaksanakan murid.

5. Memberi apresiasi

Apresiasi kepada murid dapat diberikan berupa pujian dan ucapan terimakasih karena mereka telah melaksanakan kesepakatan dengan baik.


C.  Hasil dari Aksi Nyata

Hasil dari aksi nyata budaya positif di sekolah yaitu membuat kesepakatan kelas dengan poin-poin kesepakatan berikut ;

1. Kami menjaga ketertiban dan kebersihan kelas setiap saat

2. Kami berpakaian rapi sesuai aturan sekolah

3. Kami belajar dengan antusias dan penuh percaya diri

4. Kami senantiasa menghormati guru, dan berbicara sopan

5. Kami saling membantu jika teman yang membutuhkan karena kami bersaudara

6. Kami selalu senyum, salam dan sapakepada siapa saja

7. Kami akan menjalankan kesepakatan kelas dengan ikhlas karena kami anak BAIK.


Hasil dari aksi nyata dalam pembentukan kesepakatan kelas di atas yaitu murid telah melaksanakan dan mempertanggugjawabkan kesepakatan kelas, mulai terlihat budaya positif di sekolah secara menyeluruh, serta murid telah merasakan kenyamanan di kelas sesuai impiannya.


D.  Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan


Kegagalan yang ditemui selama selama proses tindakan aksi nyata budaya positif yaitu masih ada saja beberapa murid yang belum melakukan kesepakatan kelas secara menyeluruh.


Keberhasilan yang ditemui selama selama proses tindakan aksi nyata budaya positif yaitu adanya perubahan perilaku murid ke arah yang positif, mereka jadi lebih disenangi guru-guru.


E. Rencana perbaikan


Rencana perbaikan ke depannya saya akan melakukan evaluasi kesepakatan kelas, hal apa yang perlu diperbaiki pada Langkah-langkah pembuatannya sehingga hasil yang disepakati betul-betul dapat dipertanggungjawabkan murid.


F. Dokumentasi 




Gambar 1. Membuat kesepakatan kelas bersama-sama


Gambar 2. Penandatanganan Kesepakatan Kelas


Gambar 3. Persetujuan kesepakatan kelas bersama murid




Selasa, 27 April 2021

Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Menurut Ki Hajar Dewantara, pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan bathin. Sedangkan pendidikan merupakan tuntutan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu memperoleh keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut saya pendidikan dan pengajaran ini merupakan upaya untuk kepentingan kehidupan anak didik di masa depannya.


Pertama kali saya menginjakkan kaki di depan kelas menyandang predikat sebagai seorang guru, saya merasa mampu mentransfer semua ilmu yang saya miliki ke siswa dan mereka dengan mudah mampu memahaminya. Saya menuntut mereka untuk tahu semua hal bahkan saya meremehkan beberapa dari mereka yang sulit sekali memahami pelajaran. Saya menuntut mereka memiliki nilai yang sempurna, minimal mencapai nilai KKM mata pelajaran saya. Lantas setelah bertahun-tahun tidak ada yang berubah, bahkan siswa semakin menjadi acuh dan mengabaikan pelajaran saya. 

Memahami kesulitan mengajar yang saya alami, saya mencari tahu bagaiamana sejatinya seorang guru itu. Membaca banyak buku, mengikuti seminar-seminar pendidikan, masuk dalam komunitas belajar guru, mengikuti program pemerintah menjadi guru profesional, dan juga pendidikan guru penggerak ini. Hingga akhirnya saya sadar bahwa ada yang keliru dari cara pandang saya terhadap siswa. Karakteristik siswa yang berbeda-beda tentu membuat mereka tidak bisa disama ratakan dengan siswa lainnya.

Pengetahuan yang saya dapatkan setelah mempelajari secara mendalam pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan itu menuntut anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman. Untuk itu pendidikan saat ini perlu menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21 dengan melihat konteks lokal sosial budaya murid di Indonesia yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Materi ini membuka pemahaman saya bahwa pendidikan seharusnya berpihak pada siswa, bukan mengedepankan ego seorang guru. 

Rupanya pendidikan hanya perlu menuntut kemerdekaan belajar para siswa. Mereka hanya perlu diperlakukan sesuai kodrat alam dan zamannya. Kelas merupakan tempat berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai, memahami makna di setiap pembelajaran, dan tentunya kelas merupakan tempat paling bahagia. Sehingga mereka bisa memahami cipta, karsa, dan karya, serta memiliki budi pekerti yang luhur. Agar mereka memiliki bekal untuk menjalani hidup bermasyarakat di masa yang akan datang, menjadi pembelajar sepanjang hayat. 

Hal-hal yang  segera saya terapkan agar kelas saya mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu siswa dapat menjalani pembelajaran dengan bahagia, tidak menuntut mereka mengejar angka-angka pada hasil belajar mereka, melainkan mereka lebih fokus untuk memperoleh makna di setiap pembelajaran. 

Setelah memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini, saya akan lebih menghargai murid-murid saya. Pembelajaran akan berpihak pada mereka. Saya akan menjadikan suasana belajar di kelas saya lebih menyenangkan, menjadi suri tauladan berbudi pekerti, serta mengajak mereka memperoleh makna-makna, serta menemukan kemerdekaan belajarnya.