Selasa, 09 November 2021

Refleksi Aksi nyata 3.3

 Facts (Peristiwa): 


Kamis, 14 Oktober 2021 SMP Pesantren Modern IMMIM Putra Makassar melakukan Peluncuran Gerakan Pesantren IMMIM Ramah Anak Anti- Bullying & Kekerasan sekaligus pemutaran perdana film Edukasi Santri "Stop Perundungan". Kegiatan ini berlangsung di SMP Pesantren IMMIM yang terletak di Jl. Perintis Kemerdekaan KM.10, Tamalanrea Indah, Kec. Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.



Kegiatan ini dihadiri oleh ketua yasdic IMMIM Ayahanda DR. Ir. H. M. Ridwan Abdullah M. Sc., ketua YDP Pesantren IMMIM Putra ibu Ir. Hj. Nur Fadjri Fadeli Luran M. Pd., Direktur Pesantren IMMIM Putra Dr. H. Mukhlis Mukhtar M. Ag., Kepala Sekolah bapak Nasir Ameth, S.E., para ulama dewan guru, pembina, serta keluarga besar pesantren IMMIM, dan santri SMP Pesantren IMMIM Putra. Kegiatan ini sebagai penanda bahwa Pesantren IMMIM sangat mendukung gerakan anti- bullying di dalam lingkungan sekolah dan pesantren. Dalam kegiatan ini dijelaskan kembali tentang sarana e-learning pesantren untuk mewadahi santri dalam melaporkan keluhan atau pengaduan terkait perundungan yang mungkin terjadi. Pelaporan tentang perundungan dijaga kerahasiaan pengadu dan dapat dipastikan bahwa santri yang melaporkan sesuatu tidak akan mendapat dampak negatif dari pengaduannya, laporan hanya akan diketahui oleh pimpinan kampus yang berwenang untuk kemudian keluhannya akan ditangani dengan baik agar tercipta lingkungan sekolah dan pesantren tanpa adanya kekerasan baik dari santri, guru, maupun pembina. Kegiatan ini juga menampilkan penampilan santri berupa persembahan Marawis, Penampilan bernyanyi, dan Shalawat Nariyah yang dibawakan oleh beberapa santri dari kelas 1,2, dan 3. Semoga kegiatan ini dapat memupuk silaturahmi persaudaraan dan tidak ada perundungan yang terjadi di dalam lingkungan sekolah dan pesantren. Diakhir acara santri dan semua hadirin melakukan kegiatan nonton bersama film edukasi santri "Stop Perundungan". Kegiatan ini berlangsung tetap dengan menerapkan dan memperhatikan protokol kesehatan.



Selain peluncuran gerakan Pesantren ramah anak, anti bullying dan kekerasan dan pemutaran film edukasi "stop perundungan", sosialisasi anti bullying ini juga dilakukan dengan berbagai cara berupa lomba mading antar kelas dengan tema anti bulying dan kultum oleh guru di setiap awal pembelajaran di kelas. 



Feelings (Perasaan): 

Perasaan saya setelah program ini berjalan yaitu merasa takjub karena perilaku santri sudah mulai berubah menjadi lebih baik. Tidak ada lagi yang merundungi temannya di kelas baik itu secara bercanda atau saat saling mengganggu dan terpancing emosi. Santri menjadi lebih tahu cara saling menghargai temannya dan adab mereka kini lebih terjaga. 


Hambatan yang dirasakan di awal adalah kesulitan memberi arahan kepada santri tentang gerakan ini bahwa tidak hanya guru atau walithalib saja yang dapat saling mengingatkan anti bulying melainkan setiap siswa punya tanggung jawab melakukan itu agar bulying baik secara verbal maupun fisik bisa terhindarkan. Solusi yang dilakukan yaitu terus mengupayakanberikan sosialisasi dan memberi nasehat serta contoh-contoh yang baik untuk menghindari bullying dimanapun berada. 


Findings (Pembelajaran): 

Pelajaran yang saya dapatkan dari program gerakan ramah anak, anti bulying dan kekerasan ini adalah setiap anak punya peluang mendapatkan kekerasan bulying namun jika semua pihak paham tentang dampak buruknya maka semua bisa mencegah itu. Sehingga korban bullying merasa lebih aman dan merasa terlindungi. 


Future (Penerapan): 

Setelah melakukan program ini, kedepannya saya akan terus mensosialisasikan gerakan anti bullying dimanapun berada, baik dalam pondok pesantren maupun di lingkungan sekitar.