Jumat, 12 Mei 2017

Bingkai Foto Usang



Rendra duduk tersimpuh memandangi sikunya yang berlumuran darah. Akibat terjatuh kemudian menabrak meja kaca ruang tamu hingga pecahannya melukai siku. Seperti biasanya, randra hanya tertawa kecil melihat luka yang berkali-kali menyapa tubuhnya. Ini sudah jatuh yang kesekian kali. Meski usianya kini baru menginjak delapan tahun, tak pernah ku temui ia merengek atau menangis seperti anak-anak usianya.
Setahun lalu, saat ayah mengajaknya ke lapangan sepakbola. Ini permintaan terakhir rendra dengan rengekan kala itu. Rendra sangat ingin menonton pertandingan sepakbola megah yang sering diceritakan teman-temannya. Namun takdir telah membawanya ke kehidupan yang baru. Tepat saat pertandingan sepakbola berakhir, para penonton berhamburan keluar dari stadion. Rendra terpisah dengan ayahnya. Ketakutan besar menghampiri. Rendra menangis sejadi-jadinya takut jikalau ia tak bertemu ayahnya lagi. Takut jikalau ia akan ditinggalkan dan dibuang.
“Rendra!” teriak ayah mencarinya saat tersadar rendra tak ada di dekatnya.
Tak ada yang peduli, semua orang hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Berkemas dan ingin segera keluar meninggalkan lapagan. Ayah berlari kesana kemari mencari rendra. Namun nihil, ayah tak menemukannya.
Lima belas menit berlalu, suara dari microfon menggema mengisi stadion.
“Telah ditemukan seorang anak dengan ciri berkulit putih, rambut ikal, memakai baju warna merah dan celana jeans. Bagi orang tua yang merasa kehilangan anaknya, silahkan menuju sumber suara”
Ayah tersenyum mendengar informasi itu. Ada rasa lega yang berdesir memenuhi rongga dadanya setelah kecemasan menutupnya sesak sejak tadi. Akhirnya rendra ditemukan.
Sesampainya di sana, seharusnya senyum ayah semakin merekah. Sayangnya, rendra terbaring di atas tandu siap dibopong naik ke mobil ambulance yang baru saja tiba. Ia rupanya jatuh pingsan setelah lelah menagis sejadi-jadinya saat mencari ayah. Rendra segera dilarikan ke rumah sakit.
Rendra masuk ke ruang IGD, ayah menunggu dengan penuh kecemasan. mungkin saja jantungnya akan berhenti berdetak jika setelah ini ada kabar buruk yang ayah dengar lagi. Kehidupan memang sering seperti itu, akan banyak musibah bertubi-tubi yang datang menghampiri meski luka belum sempurna kering.
Seorang lelaki tinggi besar berjas putih keluar dari ruang IGD. Meminta persetujuan ayah untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada rendra. Diagnosa dokter ada masalah pada kepala rendra. Ayah harus menunggu lagi, saat seperti itu sangat mendebarkan seolah waktu ingin dihentikan saja. Tak ingin mendengar kabar lanjutannya.
Hasil CT-Scan telah keluar, rendra divonis menderita tumor otak. Ukurannya  masih kecil namun telah menutupi saraf  bagian keseimbangan tubuh. Itulah sebabnya saat panik tadi rendra kehilangan keseimbangan tubuh, hingga  terjatuh dan tak sadarkan diri.
Ayah bersandar ke tembok setelah mendengar kabar itu. Tulang-tulang lututnya terasa ngilu.  
***
Ayah menghampiri rendra yang masih saja memandangi sikunya. Mengangkat rendra menjauh dari pecahan kaca. Membersihkan luka pada siku rendra.
“Ayah, sampai kapan rendra akan terus terjatuh?” tanya rendra polos.
“Sampai rendra bisa menjadi anak yang kuat” jawab ayah sambil membalut siku rendra.
“Rendra sudah kuat ayah, rendra sudah tidak pernah menangis saat terjatuh” protes rendra.
Ayah hanya mampu mengusap kepala rendra dengan senyum yang ditabah-tabahkan setiap kali  menghadapi pertanyaan polos anaknya. “Nak, ayah tak bisa menjelaskan penyakit apa yang sedang menimpamu. Bagaimana pun kau tak akan pernah mengerti” batin ayah teriris. Di dunia ini terkadang ada hal-hal yang tak perlu kita ketahui, tak mesti kita pahami. Sebab dalam ketidak tahuan itu, hidup akan terus berlanjut dengan kaki berdiri tegak.
Sudah setahun rendra mengidap penyakit itu. Pengobatan yang dilakukannya hanya mengkonsumsi obat herbal. Sayangnya, tak ada perubahan yang berarti menuju kesembuhan. Ayah mengannggap karena ukuran tumornya masih kecil, tak mestilah operasi penganggaktan tumor dilakukan. Sebab ayah tak tega melihat kepala mungil anaknya terkena pisau bedah apalagi jika dokter mengebor kepalanya. Membayangkannya saja ayah tak sanggup.
“Pak, kami harus segera mengangkat tumor di kepala anak bapak dengan melakukan operasi. Kami harus meminta persetujuan wali” kata dokter saat rendra melakukan check up.
Selain sering terjatuh, belakangan ini rendra sering muntah, kepalanya sakit tak tertahankan, dan terjadi gangguan penglihatan. Rupanya ukuran tumor semakin membesar. Ayah menyetujui untuk melakukan operasi.  Keyakinan dokter bahwa operasi akan berjalan lancar dan cuaca cerah di luar jendela saat itu, memantapkan hati ayah bahwa rendra akan segera sembuh.
***

Hasil gambar untuk bingkai foto usang

Ayah menatap bingkai foto usang di atas meja. Itu foto terakhir rendra dengan senyum merekah dan balutan perban di kepalanya. Seharusnya usianya kini menginjak tujuh belas tahun.
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar