Minggu, 17 Oktober 2021

Aksi nyata Modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Kegiatan aksi nyata pada modul 3.1 mengenai pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran saya uraikan dalam bentuk portofolio yang mengandung unsur 4F yaitu Facts (peristiwa), Feelings (perasaan), Findings (pembelajaran), dan Future (penerapan di masa yang akan datang).


Facts (Peristiwa):
Melihat kondisi perkembangan zaman dan teknologi saat ini, membuat tumbuh kembang murid juga berkembang dengan sangat pesat. Penggunaan IT yang dulunya sangatlah minim, sekarang sudah merambat ke seluruh sektor bidang utamanya pendidikan. Tidak terkecuali pada murid, mereka sangat maju dalam memahami penggunaan IT utamanya gadget dan laptop. Sehingga hal inilah yang melatarbelakangi SMP Pesantren IMMIM untuk membuat teknik baru dalam mengupayakan peningkatan penggunaan IT bagi murid.


Pada rapat persiapan Penilaian Tengah Semester (PTS) tahun ini oleh kepala sekolah dan dewan guru, ide itu diangkat sehingga tercipta sebuah gagasan untuk melakukan Penilaian Tengah Semester
pada tahun ajaran ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kepala sekolah mengusulkan PTS tidak lagi menggunakan tes tulis melainkan memberi wadah kepada murid untuk mempresentasikan hasil dari pengalaman belajarnya berupa materi pelajaran di depan teman-temannya menggunakan IT yakni dengan aplikasi powerpoint (PPT). Namun kepala sekolah tentunya meminta pertimbangan dari seluruh dewan guru untuk persetujuan pelaksanaan PTS ini.

Saya selaku salah satu guru di SMP Pesantren IMMIM sangat mendukung gagasan tersebut. Sebab dampak dari pelaksanaan PTS itu sejalan dengan apa yang saya pelajari dari pendidikan guru penggerak terkait pembelajaran berpihak pada murid. Sebab menurut saya, ketika murid tampil mempresentasikan sebuah materi pembelajaran dengan media PPT nya mereka ditantang untuk lebih kreatif dan berani.

Namun tidak semua guru yang menyetujui gagasan ini. Beberapa guru berpendapat pelaksanaan PTS dengan presentasi tersebut hanya akan memperoleh nilai dari satu mata pelajaran saja (sesuai materi yang dipilih untuk dipresentasikan) sedangkan pelajaran lain tidak dilakukan penilaian serupa. Karena satu murid hanya akan mempresentasikan satu mata pelajaran.


Disinilah peran seorang pemimpin pembelajaran mengambil keputusan, apakah tetap menggunakan teknik PTS seperti biasanya ataukah menggunakan teknik PTS dengan penggunaan IT tersebut. Seluruh dewan guru berpikir untuk mencari solusi bersama. Bagi saya keputusan yang berdampak pada murid yaitu penggunaan teknik PTS dengan IT tersebut.

Akhirnya setelah melewati diskusi yang panjang, keputusan yang diambil bersama adalah penggunaan teknik PTS dengan IT. Sedangkan penilaian mata pelajaran lain yang tidak dipresentasikan oleh murid akan diambil dari penilaian harian di dalam kelas oleh gurunya masing-masing. Dan akhirnya kegiatan PTS tersebut diberi nama kegiatan "Festival middle semester".



Feelings (Perasaan):
Perasaan saya setelah melihat pelaksanaan Festival middle semester adalah sangat bangga. Sebab kemampuan murid diluar dugaan para guru. Mereka tampil dengan gagah berani dan menyampaikan materi presentasi layaknya guru/dosen dengan penuh percaya diri. Kreativitas mereka membuat slide materi dengan media PPT juga sangat bagus. Maka kami menganggap keputusan saat rapat PTS adalah keputusan terbaik sebab murid mampu mengeluarkan potensi yang dimilikinya dengan teknik penilaian kali ini. Semoga ke depannya festival midle semester ini bisa terus berlangsung dengan gagasan yang terus dikembangkan agar menjadi lebih adil untuk semua pihak, utamanya untuk murid.


Findings (Pembelajaran):
Pelajaran yang saya dapatkan dari proses pengambilan keputusan ini adalah sebuah keputusan haruslah melihat akan berdampak kepada siapa. Setiap keputusan tentu tidak sempurna di mata semua orang, namun ketika niat kita baik dan apa yang diupayakan adalah demi perkembangan murid-murid kita, InsyaAllah hasilnya akan luar biasa. Maka memang benar bahwa pendidikan sejatinya tidak statis, dia akan terus berkembang mengikuti kodrat dan zamannya. Langkah yang kemudian bisa dilakukan adalah keputusan seorang pemimpin pembelajaran, yang dalam hal ini adalah para guru bagaimana kita membawa pendidikan di sekolahnya mampu bergerak sejalan dengan perkembangan.


Future (Penerapan):
Setelah mempelajari ini, kelak di masa depan ketika insyaAllah saya menjadi pemimpin pembelajaran di lingkup yang lebih luas, yang bisa saya lakukan dengan lebih baik yaitu cara pandang saya melihat murid-murid saya. Bagaimana segala keputusan dalam setiap langkah saya sebagai pemimpin pembelajaran akan selalu berdampak pada mereka.

Kamis, 16 September 2021

Koneksi Antar Materi Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Pada tahun 1922 Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa), beliau mencetuskan asas-asas pendidikan yang kerap kita kenal sebagai patrap triloka. Patrap triloka terdiri atas tiga semboyan yang sampai saat ini menjadi panutan di dunia pendidikan Indonesia: Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Umumnya semboyan tersebut diterjemahkan menjadi “di depan memberi teladan”, “di tengah membangun motivasi”, dan “di belakang memberikan dukungan”. Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka ini memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil, sebab asas-asas pendidikan inilah yang menjadi dasar pengambilan keputusan dalam pendidikan, sehingga apa yang menjadi keputusan bisa sejalan dengan prinsip dasar pendidikan Indonesia.



Tidak hanya itu, dalam pengambilan suatu keputusan juga dipengaruhi oleh beberapa hal termasuk nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita. Seorang guru maupun manusia pada umumnya tentu memiliki nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya, yang tumbuh bersama karakter. Sehingga keputusan ataupun segala pandangan di hidupnya selalu bercermin pada nilai-nilai yang telah dia yakini, utamanya bagi seorang yang berprofesi sebagai guru.

Kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan ini juga berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran,  terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Misalnya saat praktik Coaching pada lokakarya 4 dimana para CGP melakukan Coaching dengan beberapa masalah yang dihadapi di sekolah, dan pada akhirnya hasil dari Coaching tersebut merupakan sebuah bentuk keputusan yang diambil sebagai pemimpin pembelajaran di sekolahnya.

Pengambilan keputusan tersebut telah efektif, sebab telah dianalisis dari berbagai paradigma dan prinsip pengambilan keputusan. Juga telah dilakukan 9 langkah pengambilan keputusan hingga pada akhirnya keputusan yang diambil telah melalui proses analisis yang sangat matang.

Dengan melihat ini, maka dapat dikatakan bahwa proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dapat dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Begitu pula dengan pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika, pengambilan keputusan dari kasus tersebut akan kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik. Misalnya seorang pendidik yang telah memiliki nilai-nilai empati dalam dirinya akan cenderung mengambil keputusan yang lebih condong pada membantu yang lemah dibandingkan menjalankan peraturan.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Sebab lingkungan yang yang positif, kondusif, aman dan nyaman tidak serta merta langsung terbentuk, lingkungan ini tumbuh dengan berbagai komponen yang saling berkolaborasi di dalamnya yang tentu segala dilema etika maupun moral yang timbul selalu menghasilkan keputusan yang tepat.

Kesulitan-kesulitan di lingkungan yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini yaitu sulitnya menentukan diri akan berpihak pada atasan/yayasan atau pada murid secara keseluruhan. Sebab ini akan kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan sekolah.

Pengambilan keputusan yang saya ambil tentu sangat berpengaruh dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid. Sebab inti dari pembelajaran dalam pendidikan guru penggerak ini adalah mengajak semua guru untuk kembali melihat bagaimana pendidikan yang sebenarnya. Bahwa pendidikan haruslah berpihak pada murid dan membantu mereka memperoleh kemerdekaan belajarnya. Maka segala dilema etika dan moral yang akan ditemui kemudian hari haruslah menuju pada tujuan itu.

Dengan berpegang teguh pada prinsip merdeka belajar dan pembelajaran berpihak pada murid, maka seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya.

Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran sejatinya tidak berdiri sendiri, melainkan  berhubungan dengan pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka, juga dari nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita.
Kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan juga berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Sehingga pengambilan keputusan yang diambil seorang pendidik berpengaruh dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid, dan pada akhirnya dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-murid.

Rabu, 25 Agustus 2021

Koneksi antar materi Modul 2.3

Peran Coach di sekolah

Sebagai seorang guru tentunya sering kita jumpai banyak kasus terkait murid. Kasus-kasus tersebut seringkali menjadi penghambat kemajuan murid dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, respon cepat dari guru sangat diperlukan. Salah satu yang dapat dilakukan guru adalah dengan melakukan proses Coaching.

Menurut Grant, 1999 Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee.

Dari pengertian di atas, seorang guru dapat berperan menjadi coach dan  murid-muridnya berperan menjadi coachee. Guru tentunya dapat memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi murid-muridnya.

Sehingga dapat disimpulan bahwa peran guru sebagai coach di sekolah sangatlah penting agar murid dapat menemukan potensi diri dan mengembangkannya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar.


Keterkaitan materi Coaching dengan materi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Emosi dan Sosial

Pengembangan potensi murid yang berbeda-beda menjadi tugas seorang guru. Apakah pengembangan diri anak ini cepat, perlahan-lahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang guru. Pengembangan diri anak dapat dimaksimalkan dengan proses coaching. Selain itu, pengembangan potensi murid dalam hal Sosial-Emosional dan pengembangan kognitif nya tentu jiga dapat dilakukan dengan Pembelajaran diferensiasi di kelas dan Pembelajaran Sosial-Emosional dari pembiasaan yang dikembangkan oleh guru.

Dari sudut pandang pengembangan potensi inilah materi Coaching dapat dikaitkan dengan materi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial Emosional




Refleksi pemahaman materi Modul 2

Seperti yang kita ketahui telah dijelaskan sebelumnya bahwa dasar diluncurkannya program merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yaitu membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya, sesuai dengan filosofi pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu menuntun tumbuhnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

Sehingga dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. 

Di samping itu untuk mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensi murid, tidaklah cukup apabila murid hanya mengembangkan kemampuan akademiknya saja. Murid juga perlu mengembangkan aspek sosial dan emosionalnya. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi sosial-emosional berperan penting dalam keberhasilan akademik maupun kehidupan  seseorang.

Begitu pula untuk memenuhi kebutuhan belajar murid di sekolah, maka diperlukan sebuah pembelajaran yang berpihak pada murid. Lewat  pembelajaran berdiferensiasi, murid tidak hanya akan dapat memaksimalkan potensi mereka, tapi mereka juga akan dapat belajar tentang berbagai nilai-nilai kehidupan yang penting. Nilai-nilai tentang indahnya perbedaan, menghargai, makna baru dari kesuksesan, kekuatan diri, kesempatan yang setara, kemerdekaan belajar, dan berbagai nilai penting lainnya yang akan berkontribusi terhadap perkembangan diri mereka secara lebih utuh.


Bagaimana coaching dapat membantu profesi Anda sebagai guru dalam menjalankan pendidikan yang berpihak pada murid?

Coaching dapat membantu profesi saya sebagai guru dalam menjalankan pendidikan yang berpihak pada murid sebab proses coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam  dapat membuat murid melakukan metakognisi, serta pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam. Sehingga masalah-masalah pembelajaran yang mengganggu proses pembelajaran dan dapat menurunkan potensi murid akan dapat diatasi..

Coaching memiliki peran yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi murid sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama, hal ini tentu sesuai dengan pendidikan yang berpihak pada murid.

Sabtu, 24 Juli 2021

Artikel Refleksi Aksi Nyata Budaya Positif

 A.  Latar belakang

Budaya sekolah belakangan ini lebih pada penerapan hukuman yang berdampak pada pembiasaan murid yang hanya menjalankan aturan karena perasaan takut. Sehingga dibutuhkan budaya positif di sekolah yang berdampak baik pada pengembangan karakter. Sebab sekolah merupakan intuisi pembentukan karakter.


Diri saya pribadi sebenarnya telah menjalankan kesepakatan kelas di setiap awal pembelajaran di tiap semester baru, berupa kontrak belajar di kelas. Namun rupanya kontrak belajar yang saya lakukan masih menggunakan kata negatif “Jangan dan tidak boleh”, sehingga saya perlu merubah pemahaman saya tentang pembentukan kesepakatan kelas yang mengarah pada terciptanya budaya positif. Sehingga perlu pelaksanaan aksi nyata budaya positif di sekolah.


B.  Deskripsi Aksi Nyata

Aksi nyata budaya posititf yang dilakukan di kelas dimulai saat awal semester baru di pertemuan pertama di setiap kelas dengan langkah sebagai berikut

1. Melakukan survey kebutuhan murid

Survey kebutuhan murid dilakukan dengan menanyakan pendapat murid tentang apa masalah yang dihadapi di kelas dan harapan kelas yang dapat membuat mereka nyaman. Hal ini dilakukan karena guru perlu mengidentifikasi kondisi kelas sebelum melakukan kesepakatan, terkait apa saja keinginan, perasaan dan pendapat murid tentang kondisi kelas dan sekolah yang mereka alami selama ini.

2. Membuat kesepakatan kelas

Kesepakatan kelas di sini dilakukan dengan mempersilahkan murid mengajukan ide atau gagasan kesepakatan kelas seperti apa yang dapat dilakukan bersama-sama. Jika ada yang belum disebut murid, maka guru memberi alternatif positif kepada murid terlebih dahulu, memancing mereka menemukan ide, kemudian guru menyimpulkan ide yang telah disampaikan murid.

3. Penandatanganan komitmen

Penandatnganan komitmen diawali dengan menuliskan hasil kesimpulain kesepakayan kelas Bersama dalam bentuk poin-poin. Kemudian poin-poin kesepakatan kelas itu diprint dan ditempelkan bersama-sama pada kertas karton, ditambah foto kelas dan penandatanganan kesepakatan oleh semua murid.

4. Melaksanakan kesepakatan kelas

Kesepakatan kelas dilaksanakan oleh murid secara bersama-sama dengan penuh tanggungjawab masing-masing. Sedangkan guru juga dapat memberi contoh nyata beberapa poin yang telah disepakati bersama, dan memantau pelaksanaan kesepakatan yang dilaksanakan murid.

5. Memberi apresiasi

Apresiasi kepada murid dapat diberikan berupa pujian dan ucapan terimakasih karena mereka telah melaksanakan kesepakatan dengan baik.


C.  Hasil dari Aksi Nyata

Hasil dari aksi nyata budaya positif di sekolah yaitu membuat kesepakatan kelas dengan poin-poin kesepakatan berikut ;

1. Kami menjaga ketertiban dan kebersihan kelas setiap saat

2. Kami berpakaian rapi sesuai aturan sekolah

3. Kami belajar dengan antusias dan penuh percaya diri

4. Kami senantiasa menghormati guru, dan berbicara sopan

5. Kami saling membantu jika teman yang membutuhkan karena kami bersaudara

6. Kami selalu senyum, salam dan sapakepada siapa saja

7. Kami akan menjalankan kesepakatan kelas dengan ikhlas karena kami anak BAIK.


Hasil dari aksi nyata dalam pembentukan kesepakatan kelas di atas yaitu murid telah melaksanakan dan mempertanggugjawabkan kesepakatan kelas, mulai terlihat budaya positif di sekolah secara menyeluruh, serta murid telah merasakan kenyamanan di kelas sesuai impiannya.


D.  Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan


Kegagalan yang ditemui selama selama proses tindakan aksi nyata budaya positif yaitu masih ada saja beberapa murid yang belum melakukan kesepakatan kelas secara menyeluruh.


Keberhasilan yang ditemui selama selama proses tindakan aksi nyata budaya positif yaitu adanya perubahan perilaku murid ke arah yang positif, mereka jadi lebih disenangi guru-guru.


E. Rencana perbaikan


Rencana perbaikan ke depannya saya akan melakukan evaluasi kesepakatan kelas, hal apa yang perlu diperbaiki pada Langkah-langkah pembuatannya sehingga hasil yang disepakati betul-betul dapat dipertanggungjawabkan murid.


F. Dokumentasi 




Gambar 1. Membuat kesepakatan kelas bersama-sama


Gambar 2. Penandatanganan Kesepakatan Kelas


Gambar 3. Persetujuan kesepakatan kelas bersama murid




Selasa, 27 April 2021

Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Menurut Ki Hajar Dewantara, pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan bathin. Sedangkan pendidikan merupakan tuntutan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu memperoleh keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut saya pendidikan dan pengajaran ini merupakan upaya untuk kepentingan kehidupan anak didik di masa depannya.


Pertama kali saya menginjakkan kaki di depan kelas menyandang predikat sebagai seorang guru, saya merasa mampu mentransfer semua ilmu yang saya miliki ke siswa dan mereka dengan mudah mampu memahaminya. Saya menuntut mereka untuk tahu semua hal bahkan saya meremehkan beberapa dari mereka yang sulit sekali memahami pelajaran. Saya menuntut mereka memiliki nilai yang sempurna, minimal mencapai nilai KKM mata pelajaran saya. Lantas setelah bertahun-tahun tidak ada yang berubah, bahkan siswa semakin menjadi acuh dan mengabaikan pelajaran saya. 

Memahami kesulitan mengajar yang saya alami, saya mencari tahu bagaiamana sejatinya seorang guru itu. Membaca banyak buku, mengikuti seminar-seminar pendidikan, masuk dalam komunitas belajar guru, mengikuti program pemerintah menjadi guru profesional, dan juga pendidikan guru penggerak ini. Hingga akhirnya saya sadar bahwa ada yang keliru dari cara pandang saya terhadap siswa. Karakteristik siswa yang berbeda-beda tentu membuat mereka tidak bisa disama ratakan dengan siswa lainnya.

Pengetahuan yang saya dapatkan setelah mempelajari secara mendalam pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan itu menuntut anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman. Untuk itu pendidikan saat ini perlu menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21 dengan melihat konteks lokal sosial budaya murid di Indonesia yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Materi ini membuka pemahaman saya bahwa pendidikan seharusnya berpihak pada siswa, bukan mengedepankan ego seorang guru. 

Rupanya pendidikan hanya perlu menuntut kemerdekaan belajar para siswa. Mereka hanya perlu diperlakukan sesuai kodrat alam dan zamannya. Kelas merupakan tempat berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai, memahami makna di setiap pembelajaran, dan tentunya kelas merupakan tempat paling bahagia. Sehingga mereka bisa memahami cipta, karsa, dan karya, serta memiliki budi pekerti yang luhur. Agar mereka memiliki bekal untuk menjalani hidup bermasyarakat di masa yang akan datang, menjadi pembelajar sepanjang hayat. 

Hal-hal yang  segera saya terapkan agar kelas saya mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu siswa dapat menjalani pembelajaran dengan bahagia, tidak menuntut mereka mengejar angka-angka pada hasil belajar mereka, melainkan mereka lebih fokus untuk memperoleh makna di setiap pembelajaran. 

Setelah memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini, saya akan lebih menghargai murid-murid saya. Pembelajaran akan berpihak pada mereka. Saya akan menjadikan suasana belajar di kelas saya lebih menyenangkan, menjadi suri tauladan berbudi pekerti, serta mengajak mereka memperoleh makna-makna, serta menemukan kemerdekaan belajarnya.


Sabtu, 12 Januari 2019

Kelahiran yang Dinanti

Malam telah tiba, namun kelahiran yang dinanti belum juga tiba. Sejak pagi seorang ibu telah berada di ruang bersalin, bersama gadis mungil berusia 14 tahun yang membawa sebuah tas besar berisi pakaian bayi yang telah dipersiapkan sejak beberapa hari lalu.

"Tas ini langsung kamu bawa saja nanti jikalau Ibu dilarikan ke ruang bersalin, jadi tak perlu repot-repot lagi kamu urus," pesan ibunya saat melipat baju-baju mungil itu.

Usai adzan isya berkumandang, waktu akhirnya menjawab segala doa dan  pengorbanan 9 bulan dalam kandungan dan 26 tahun penantian usai menikah. Ibu memang telah lama menantikan bayi itu. Bayi yang sangat ingin dia hadiahkan pada kekasihnya. Hingga meski usianya telah 40 tahun, namun masih ingin memiliki anak. Pun meski ia tahu melahirkan di usia tersebut mempunyai resiko tinggi.

Bidan yang terlihat panik sejak tadi kini menghadirkan senyum di bibirnya. Sebab seorang diri membantu persalinan malam itu. Hingga (mungkin sebab darurat) menjadikanku asisten pribadinya untuk mengoporkan padanya segala peralatan persalinan secara bergantian dari atas meja. Berbagai macam bentuk gunting dan pinset yang tidak kuketahui namanya itu berderet dengan rapi. Gadis yang baru saja duduk di bangku kelas 3 sekolah menengah pertama itu, tidak pernah menyangka dapat menyaksikan sebuah proses kelahiran. Ya, gadis itu adalah aku. Anak perempuan pertama ibuku.

Beberapa menit lalu, aku menyaksikan bagaimana perjuangan seorang wanita melahirkan anaknya. Berkali-berkali mengejan dengan tenaga yang besar. Wajah ibu sempat membiru kala itu. Aku dibuatnya takut. Rasanya ingin menangis, tapi tak mungkin kulakukan sebab aku perlu bertanggung jawab untuk tetap fokus mendengar perintah bidan. Saat itu pula, rasa sayang dan hormatmu pada Ibu bertambah. Akupun pernah diperjuangkan hidup dengan proses seperti itu. Begitupun semua anak yang ada di bumi.

Tangisan menggema memenuhi ruangan persalinan saat itu. Seorang bayi telah lahir. Tangisnya pecah usai bidan menggunting tali pusarnya, memisahkannya dengan ari-ari. Ia menghirup udara di bumi untuk pertama kalinya.

Bayi itu berkulit putih. Memiliki rambut lebat dengan warna hitam berkilau. Usai lelah menangis, ia tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya. Menggerak-gerakkan bibirnya seolah memamerkan bibir merahnya.

"Ahh itu lesung pipiku seharusnya" protesku dalam hati. Ia menurunkan lesung pipi cantik milik Ibu. Aku iri sekaligus bangga. Ditambah dengan jenis kelaminnya yang menandakan ia seorang laki-laki. Seorang bayi yang sangat dinantikan. Seorang anak yang sering disebut-sebut Bapak dalam doanya.

Diberi nama "Muhammad Fais Ibnu Alif". Sebuah nama yang sangat panjang. Seolah semua nama yang dipersiapkan diberikan padanya. Disertai doa dan harapan baik dibalik nama tersebut tentunya.


Hari ini adalah hari kelahiranmu 13 tahun yang lalu, Dik. Aku menyaksikan peristiwa bersejarah itu. Tentang perjuangan seorang Ibu memberikan sebuah kehidupan padamu.

Meski saat ini tak ada ibu lagi di sisi kita. Pun kelak Ibu tak bisa menyaksikan pertumbuhanmu menjadi seorang laki-laki dewasa yang tangguh. Percayakan itu saja padaku, Dik.  Perempuan yang boleh kau anggap ibumu. Tanyakan segala pertanyaan hidup yang kelak mungkin akan terlihat rumit, ceritakan segala pencapaian terbaik yang kelak kamu raih, curhatkan segala keresahanmu akibat patah yang mungkin akan berkali-kali.

Mari kita merayakannya hari lahirmu dengan mengenang dan memanjatkan doa-doa terbaik untuk Ibu yang kini telah berada di Sisi Tuhan Kita.

Tak perlu dengan kue, lilin, lagu, hadiah, acara atau apapun seperti yang dirayakan orang kebanyakan kan (?) Sebab doa adalah perayaan terbaik. Sebab kaupun adalah hadiah terbaik dari Ibu untuk kami.

Sabtu, 03 November 2018

Meminta Restu

Agustus 2015 lalu, aku mengikuti sebuah program pemerintah untuk mengajar di daerah pedalaman  Indonesia. Ditempatkan di Papua Barat, di pelosok negeri yang jauh dari perkotaan; Kampung Sara, Distrik Kaitaro, Kabupaten Teluk Bintuni. Suatu tempat yang sulit kutemukan di peta.

Kisah petualangan yang hebat di penempatanku kemudian bagiku berakhir ketika mendengar kabar duka dari tempat asalku. Sebab tidak memiliki sinyal komunikasi kala itu, kabar kepergian orang tersayang pun terlambat sampai di telingaku.

Kamis 26 Mei 2016, pesawat udara telah mengantarku tiba kembali di Makassar, tepat pukul 13.00 WITA. Langkahku gamang menuju rumah. Bahkan waktu terasa cukup singkat hingga tubuhku telah berada di teras rumah, selepas turun dari pesawat.

Seorang penghuni rumah telah tiada untuk selamanya tanpa bertemu denganku. Ya beliau adalah Ibuku. Perantauan telah membawaku pergi, lantas waktu membalasnya dengan tidak memberiku kesempatan mengucapkan selamat tinggal. Ibu telah dikuburkan 2 hari yang lalu. Aku tidak sempat melihatnya sejak terakhir kali aku memeluknya 9 bulan yang lalu.

Hatiku perih, dada menjadi sesak, air mata tumpah ruah tanpa suara. Hingga tiba di depan pusaranya, hanya isak sesekali yang dapat kulakukan. Tangan membungkam mulut yang ingin sekali berteriak.

Aku ingin meratap sebanyak-banyaknya, berteriak sekeras-kerasnya, meraung-raung sepuasnya di pusara Ibu saat itu. Melampiaskan rindu yang kian nanar oleh luka.

Namun aku lemah, ragaku tak cukup kuat untuk melakukan semua itu. Tenagaku habis kupakai berpikir keras untuk menerima kenyataan yang ada di hadapku kini.

Aku pernah menyaksikan Ibu yang meneteskan air mata tanpa suara di hari kematian ibunya juga. Saat itu usiaku masih 12 tahun. Mungkin darinya aku belajar dan mengerti bahwa kematian seseorang tak boleh diratapi secara  berlebihan. Sebab kematian adalah pertemuan seorang hamba menemui Tuhannya, melepas kerinduan terbesarnya pada Sang pencipta.

Lantas hari-hari setelah itu, aku selalu menjadi rapuh setiap kali menyaksikan kematian orang-orang. Mengurai sendiri detik-detik terakhir beliau di dunia, yang sama sekali tidak kumiliki dalam memori.

Meski begitu, aku punya banyak kenangan baik bersama beliau. Dengan segudang harap yang pernah kami untai bersama untuk masa depan. Pun dengan jutaan nasehat yang setiap saat dapat kujadikan pedoman.

"Tersenyumlah apapun yang terjadi"
"Jadilah bermanfaat bagi orang sekelilingmu"

Dua nasehat ampuh yang mampu membuatku masih berdiri tegap hingga saat ini. Menjadi bermaslahat, menebar kebaikan, dan melanjutkan perjuangan hingga mimpi beliau dapat kutunaikan: menjadi abdi negara.


Bismillah...
Doakan anakmu Ibu, hari ini aku berangkat menuju tempat tes. Ujian yang kata orang-orang akan mengantar seseorang menyandang predikat abdi negara. Aku meminta restu. Kuharap dari tempatmu kini, engkau mendengar dan melihat apa yang aku upayakan.

Sebab hari ini, kuyakin semua anak tentu sedang meminta restu ibunya. Mencium tangan dan memeluk untuk memperoleh ridho dan doa diberi kemudahan mengerjakan ujian dan segala hal terbaik.

Aku pun tak ingin tinggal diam. Meski ibuku tak ada di dunia, maka aku mengurai kisah, harap, dan doa yang kuingin darinya melalui tulisan ini. Pun melalui bisikan pada Tuhan kita.

@Malunda, 4 November 2018
(Perjalanan Makassar-Mamuju)

Kamis, 13 September 2018

"Sayembara Tanpa Pemenang"
~Tentang hati yang patah oleh tangan penguasa~

November 2017, pendaftaran pengajuan proposal program sosial  diumumkan oleh salah satu perusahaan besar di Makassar. Berbagai kalangan berlomba-lomba mengirimkan proposal program sebagai upaya ingin terlibat dalam pengabdian masyarkat yang disponsori oleh perusahaan besar tersebut.

Program Sekolah Impian, Science Backpacker, Rumah Koran, Tusiwork, Pelatihan Media Untuk Guru di Pulau Terluar Pangkep merupakan 5 proposal di bidang pendidikan yang lolos seleksi hingga ke tahap akhir dari ratusan proposal yang diterima.

Sekolah Impian merupakan program membangun sekolah untuk anak pemulung yang berlokasi di kampung pemulung di tengah kota Makassar. Rumah Koran merupakan program mendirikan taman baca di desa sebagai Gerakan Cerdas Anak Petani. Science Backpacker merupakan program mengajar Sains yang menyenangkan kepada siswa sekolah dasar pedalaman Jeneponto. Tusiwork merupakan program mengajar anak-anak tuna netra, Serta program Pelatihan Media Untuk Guru di Pulau Terluar Pangkep.

Kelima proposal program ini adalah upaya anak muda makassar untuk mengembangkan kemampuan masyarakat di bidang pendidikan.  Para pengusungnya memulai proposal ini dengan niat yang tulus, sebagai bentuk pengabdian pada masyarakat. Ada hak-hak masyarakat yang perlu mereka terima melalui tangan-tangan orang lain, tangan-tangan yang peduli.

Saya bersyukur bisa mengenal para pengusung program tersebut. Dari mereka saya banyak belajar bahwa ambisi pribadi hanyalah sebagian kecil dari ambisi-ambisi yang mesti dijalankan dalam hidup. Bahwa hidup adalah jalan menuju kehidupan yang sebenarnya. Bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri.

Sebagai proposal yang lolos, ada banyak revisi yang diminta oleh pihak perusahaan tersebut yang harus disesuaikan dengan KEINGINAN mereka. Mulai dari pengurangan budget, kebermanfaatan program yang harus perfeksionis, penyetoran daftar harga barang berstempel, hingga pada timeline pelaksanaan program di lokasi yang terus dikurangi sebab penundaan jalannya program. Proses tersebut tidak berlangsung dalam waktu yang singkat. Melainkan kami mesti menunggu hingga berbulan-bulan. Bahkan karena alasan yang tidak kami pahami, program-program yang telah terpilih tertunda keterlaksanaannya hingga hampir setahun.

Kami tidak ingin meyerah tentunya, meski banyak tuntutan yang sulit kami lakukan. Telah banyak hal-hal yang sudah tidak sesuai dengan ekspektasi kami. Meski begitu, kami tetap menuruti semua keinginan mereka dengan harapan program kami tetap bisa berjalan setelah banyak revisi dari perencanaan awal.

Agustus 2018 kami berharap program sudah bisa mulai berjalan. Sebab seharusnya pelaksanaan program harus selesai di bulan Desember. Dengan waktu yang begitu singkat, kami terus berusaha menyesuaikan agar program tetap bisa berjalan sesuai kebermanfaatan yang diinginkan. 

Lantas kabar yang hadir di pertengahan September ini adalah kabar yang membuat harapan-harapan kami runtuh. Ide-ide program yang telah dibangun selama setahun dengan penantian yang entah berujung dimana akhirnya benar-benar menguap kali ini.

Kami tak bisa berkutik, pembatalan keterlaksanaan program telah mereka sampaikan tanpa mempertimbangkan apa yang telah kami upayakan selama hampir setahun belakangan ini. Hingga bahkan mungkin diantara kami ada yang mengorbankan kesempatan-kesempatan lain demi menunggu kepastian keterlaksanaan program. Tidak hanya kami, 5 program dari bidang pendidikan. Semua program di bidang lain pun dibatalkan secara sepihak oleh perusahaan besar tersebut.

Lantas kami mesti berbuat apa?
Masih adakah kekurangan dari program kami yang tidak sesuai dengan KEINGINAN mereka?
Jika iya, kenapa tidak dibatalkan saja dari awal? Sehingga kami tidak perlu menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, bahkan budget kami untuk merevisi proposal itu.
Lantas apa alasan mereka membuat keputusan pembatalan untuk semua program? Hingga kompetisi ini tidak memiliki satupun pemenang.
Bukankah program Call For Proposal yang diumumkan November 2017 lalu merupakan salah satu program kerja perusahan mereka?

Setelah dinyatakan lolos hingga tahap akhir, Kami TELAH melakukan semua keinginan mereka tentang revisi yang berkali-kali itu. Lantas dibuang begitu saja?

Hati kami patah, harapan kami runtuh. Bahkan mungkin tidak sesederhana itu. Ada banyak harapan yang telah kami berikan kepada penerima manfaat program di lokasi perencanaan keterlaksanaan program. Mereka tidak tahu apa-apa. Lalu apa adil jika harapan mereka pun ikut patah???

Minggu, 14 Januari 2018

Wanita Periang, Kupanggil Dia "Kak Nay'

Namanya Nahda Yunus. Sosoknya ceria dan ramah pada siapapun. Dia memiliki tingkat kepekaan yang tinggi terhadap masalah yang dihadapi teman-temannya. Softskill ini jarang dimiliki orang-orang, termasuk saya. Itu sebabnya saya sering memperhatikannya diam-diam dan mempelajari bagaimana caranya bersosialisasi. Dia salah satu orang yang saya kagumi. Wanita periang, ku panggil dia "Kak Nay".

Sosoknya disukai banyak orang, termasuk ke-200 peserta PPG-SM3T angkatan V di asrama. Soal ketangguhannya di penempatan, jangan tanyakan lagi. Dia pun sosok yang tangguh mengarungi muara weriagar, Bintuni Papua Barat. Dia pernah bercerita tentang perjalanannya untuk sampai ke distriknya itu, melawan derasnya ombak di atas longboat kayu kecil, sampai bahkan pernah melawan ketakutan di malam gelap gulita di tengah laut.

Ternyata di balik keceriaannya, memang ada luka yang berhasil disembunyikan. Hingga vonis gagal ginjal kemudian terdengar di telinga kami. Ahh...orang baik memang selalu diberi ujian yang hebat. Dan lagi-lagi dia hanya tersenyum menerima takdirnya.

Tidak hanya sampe disitu, karena vonis sakitnya kak Nay harus dirawat beberapa hari di rumah sakit, melakukan cuci darah berkali-kali. Kondisinya yang memburuk membuatnya tak dapat mengikuti ujian ulang, hingga tidak membawa pulang gelar "Gr" yang selama ini diperjuangkannya. Ahh...dan lagi-lagi dengan tabah dia menghadapinya dengan senyum khasnya.

Ada beberapa kenangan yang kak Nay torehkan untuk saya pribadi. Kulipat "kenangan" itu dengan rapi, namun biarlah kali ini akan kubuka untuk mengenang kebaikan kak Nay.

Di penempatan Bintuni, saat mendengar kabar Ibu saya sakit, kak Nay ke kamar menyemangati. Menceritakan kisah yang sama yang dulu dialaminya. Karena pengalaman hidupnya, saya bisa jadi kuat. Ikut tersenyum dengannya saat itu.

Pun saat saya kembali ke Bintuni setelah ibu meninggal, ada pelukan dan sapaan hangat kak Nay menyambut di Mess. Kembali kak Nay menyemangati. Mempersilahkan saya makan apa saja yang ada di kulkas saat itu, termasuk puding buatannya.

Saat di asrama, setelah saya mementaskan puisi tentang patah hati. Dia meminta kukirimkan teksnya dan memelukku seolah tahu isi puisi itu adalah curahan hati. Ahh.. Saya menyangkalnya saat itu.

Pun saat saya kedapatan olehnya pulang ke asrama dengan linangan air mata. Kak Nay datang memeluk dan mencubit pipi. Seharusnya ku balas saja pelukkannya dengan hangat. Saya lagi-lagi kurang peka menyambut kepedulian orang lain.

Hingga saat kak Nay dirawat, maafkan saya yang hanya sampai memberanikan diri masuk ke ruang ICU melihatnya sekilas. Sebab tak sanggup mencium bau obat-obatan rumah sakit terlalu lama. Hanya menggenggam tangannya sebentar tanpa mengucapkan apa-apa, meski sebenarnya ingin sekali kupeluk dia saat itu, tapi entah rasanya tak sanggup. Bibirpun keluh bahkan hanya untuk mengucapkan "Tetap semangat kak"



Sabtu 13 Januari 2018, kak Nay telah perpulang ke Sisi Tuhan kita. Ada banyak tangis yang mengantarkannya. Pun doa-doa kebaikan yang menggiringnya.

Kepergiannya menyisakan banyak luka di hati orang-orang yang mengenalnya. Bagaimana pun Tuhan lebih menyayanginya. Saya belajar banyak dari sosok ceria kak Nay.

"Terimkasih kak Nay. Surga menantimu"

Al-Fatihah

Minggu, 07 Januari 2018

Tentang Dua Penjaga

Saya lebih suka menyimpan kenangan dalam tulisan dibanding dalam foto. Maka izinkan saya kali ini menuliskan tentang kalian.

Mungkin foto kita bertiga bisa dihitung jari, dan maafkan hanya 2 foto ini yang ku simpan. Hahaha. Tetapi kenangan yang dapat kutulis takkan bisa terhitung. Percaya dehh. hehe

Foto sebelum berangkat SM3T

Terimaksih kalian, 2 orang hebat yg kukenal sejak di bangku kuliah. Meski sebenarnya saya tak terlalu ingat bagaimana kedekatan pertemanan kita dulu, mungkin saya yang terlalu "pendiam" (uhuk) atau karena jumlah teman sekelas kita terlalu banyak (hampir mendekati angka 60) Hahaha.

Yang saya ingat dari Hamzah bahwa kita pernah satu gengk. Haha. Dan dari immangk bahwa kita pernah beberapa kali chat via inbox fb. Hmm.

Kita sempat berada pada jalur berbeda selepas sarjana, mencari jalan hidup masing-masing. Hingga akhirnya Tuhan memberi kesepatan  untukku mengenal kalian lebih dalam lagi. (Ceilehh)

Takdir mempertemukan kita dalam satu bingkai melalui program SM3T-PPG.
Kita memiliki visi yang sama "Mencerdaskan anak indonesia di pedalaman" cita-cita yang sangat mulia, meski sebenarnya dengan kecerdasan kalian yang di atas saya (uhuk) kalian bisa menjadi lebih hebat dari itu.

Kali ini selepas merasakan sekelas dengan kalian lagi. Ada banyak hal yang saya kagumi dari kalian berdua. Meski banyak hal yang menjengkelkan pula. Tentang cara keren kalian belajar dan alur-alur pemikiran yang begitu detail yang kalian miliki. Tentang segala pertanyaan apapun yang bisa kalian jawab tuntas maupun tentang terabaikannya saya oleh para kekasih kalian. Hahaha (Bukan ji cemburu nah)

Baru kali ini rasanya saya mau berteman (bersahabat) dengan lawan jenis. Karena pikirku masih terlalu fanatik "Tak ada persahabatan perempuan dan laki-laki tanpa adanya rasa suka". Entahlah sekarang saya masih berpikir demikian atau sudah tidak lagi. Maka izinkan saya menganggap kalian "Dua Penjaga" :)

Saya percaya ada turut andil kalian yang membuat seorang uni tidak se"pendiam" dulu lagi. Membuat saya tidak menutup diri lagi.

Maka dari ribuan hari yang sudah kita lewati, melalui tulisan ini saya mau mengucapkan terimakasih (karena secara langsung atau via chat sudah biasa). Terimakasih atas nasehat, untuk segala ilmu. Terimakasih telah mau mendengarkan keluh, curhatan, maupun omelan dari saya. Dan terimakasih telah membuat seorang uni bisa mencapai titik seperti sekarang.

Foto saat wisuda S.Pd.Gr.


Minggu, 28 Mei 2017

Etika, Cinta dan Karya


Perkenalan

(Pemerintah)
Akulah sang penyelenggara sistem pendidikan
Telah kutingkatkan mutu pendidikan
Ku ciptakan lahan untuk menempa guru profesional 
Ku benahi sistem pendidikan tiada henti
Ku kucurkan anggaran untuk memenuhinya
Inginku, kau jalankan dengan segenap jiwa


(Guru)
Lihatlah aku wahai semesta
Sejak matahari terbit hingga petang melambai
Aku di sekolah menuang ilmu
Aku telah berperan menjadi aktor, penasehat, motivator
Aku telah berperan menjadi hakim bahkan pengganti orang tua
Peluh tak akan menjadi karang
Demi dirimu anak-anak didikku


(Orang tua)
Demi Tuhan, aku hanya ingin anakku bersekolah
Ia harus menjadi manusia yang bernilai
Tak seperti aku, yang hanya mampu bertarung lelah
demi mengumpulkan pundi-pundi belas kasih sekeliling

Kutitipkan mereka padamu, wahai para Guru
bimbinglah ia, wahai kau yang mengaku pencetak generasi emas negeri ini

(Siswa)
Ia ingin aku belajar
Tatapannya tegas menanam harapan
Putrinya menjadi manusia yang berguna

“Jangan seperti aku!” katanya
Fajar hingga kabut hitam tiba, masih saja mengadu kekuatan dengan gergaji
Memadu gerak bersama palu besi yang merapatkan barisan kayu
Ia tak peduli cucuran keringat di badan
Pikirnya hanya menanti lembaran upah dari kayu-kayu itu

Ia tak ingin aku berhenti ke sekolah
Tempat para ilmu bersemayam
Rumah para Guru yang katanya, siap memberiku bekal menemui cita-cita

Keluh kesah

(Siswa)
Setiap pagi, aku berangkat ke sana
ratusan pasang mata kadang memaki
pakaian lusuh dan alas kaki yang jarang berganti
juga daya pikir lebih lambat dari teman-teman

Aku kira, suasana di sekolah seperti di rumah
Ayah dan ibu mengajarkan kesederhanaan
Aku kira, suasana di sekolah seperti di rumah
Ayah dan ibu mengajarkan tutur yang baik pada sesama

(Orang tua)
Aku menanti peluhku terbayar
Ku pikir anakku baik-baik saja di tempat itu
Dan kelak bisa menggapai cita-cita yang telah ia tulis dengan huruf kapital
Di setiap sampul buku tulisnyaDD
Tapi, apa yang terjadi?
Anakku pulang dengan isak tangis
Ia mengeluh, cacian terus saja menghantam dirinya yang berbeda
Kalian pernah bilang, pendidikan memanusiakan manusia
Apa benar begitu?

(Guru) 
Kau titipkan anakmu padaku
Lantas di rumah kau mengabaikannya kan?
Kau mungkin terlalu sibuk mencari nafkah
Semua ilmu yang kuberi kadang tak mereka maknai
Aku bukan malaikat yang begitu saja bisa menyulap anakmu ‘
Menjadi pandai dan berkarakter


Dan pemerintah seolah membuatku tidak memiliki kebebasan
Aku kau setir dengan berbagai aturan dunia pendidikan
Aku dibuat gila dengan jabatan dan status


(Pemerintah)
Aku telah memberikan jalan pintas
Menuju kualitas pendidikan negeriku
Tapi kudapati kau yang harusnya jadi pelaku
Hanya diam sebagai penikmat
Duduk termangu tanpa berbuat apa-apa
Lantas mengkritisi khita yang telah ku buat


Saling menyalahkan

(Orang tua)
Di tengah semangat mengumpulkan pundi-pundi untuk pendidikan anakku
kadang upah yang ku dapatkan belum cukup memenuhi biaya yang ia butuhkan
lantas, kepada siapa aku harus mengadu?
Pada pendidikan gratis?
Hahaha... sudah berulang kali kutemui tuannya
Tapi nyatanya?

(Siswa)
ku dengar sekeliling berteriak “pendidikan sudah gratis”
Berarti anak-anak seusia ku bisa sekolah tinggi-tinggi tanpa biaya
Tapi, mengapa orang tua ku masih bekerja hingga larut untuk selembar kwitansi?
  
(Guru)
Guru yang kalian sebut pahlawan tanpa tanda jasa
Ternyata belum begitu dihargai oleh negara
Penghidupan layak belum juga aku rasa cukup
Aku juga punya tanggung jawab
Untuk kesejahteraan keluarga
Banyak teman-temanku yang kau mutasi
Bahkan kau pensiunkan dini
Di mana penghargaanmu atas jasa-jasa kami?

(Pemerintah)
Tak semua guru layak menjadi pendidik
Makanya kalian dimutasi, dipensiunkan
Tak semua siswa berjuta cita,
Hingga pengangguran mewabah
Tak semua orang tua peduli,
Hingga anaknya macet nalar, cacat karakter, buta etika



Pembelaan

(Pemerintah)
Kamu, kamu dan kamu
adalah wakil tokoh banyak tingkah penuh celoteh
Mau sejahtera tanpa kinerja
Mau pintar tanpa belajar
Mau mau mau mau mau jadi teladan tanpa pernah
meluangkan waktu buat anaknya
Revolusi
Revolusi
adalah jalan tercerahkan saat bangsa dirundung cemas
Jika berbenah hanyalah kemalasan
Bersiaplah dilibas, ditindas kemajuan zaman
dengan setumpuk alasan salah pada pemerintah

(Guru)
Sebenarnya ini bukan salah siapa
Bukan salah pemerintah
Bukan salah orang tua
Bukan salah kami para guru
Pun bahkan bukan salah siswa
Bukan salah kritikan dalam lembar-lembar yang tak berdosa ini

Kita tak mesti saling mengutuk
Nyalakan lilin
Nyalakan lilin
Nyalakan lilin
Cahaya lilin kita akan menjadi penerang jalan mereka menuju mimpi
Gelap hanya akan semakin menggemakan teriakan-teriakan bodoh
Tak menyelesaikan masalah tak memberikan solusi


(Semua Lakon)
Pendidikan adalah jalan menolak ketertinggalan
Memantaskan diri melalui karakter, literasi dan kompetensi
Kita adalah bangsa yang menjunjung pendidikan
Generasi ideal ditentukan oleh pendidikan bangsanya

Era kemajuan, era berbenah
Sebagai pelopor pengawal pendidikan
Selayaknya kita terjaring dalam rerangka kemajuan
Mencapai kemajemukan pendidikan melalui etika, cinta dan karya


**Karya:
Yuni Paliling
Sri Wahyuni
Saleha
Milawati

Jumat, 12 Mei 2017

Bingkai Foto Usang



Rendra duduk tersimpuh memandangi sikunya yang berlumuran darah. Akibat terjatuh kemudian menabrak meja kaca ruang tamu hingga pecahannya melukai siku. Seperti biasanya, randra hanya tertawa kecil melihat luka yang berkali-kali menyapa tubuhnya. Ini sudah jatuh yang kesekian kali. Meski usianya kini baru menginjak delapan tahun, tak pernah ku temui ia merengek atau menangis seperti anak-anak usianya.
Setahun lalu, saat ayah mengajaknya ke lapangan sepakbola. Ini permintaan terakhir rendra dengan rengekan kala itu. Rendra sangat ingin menonton pertandingan sepakbola megah yang sering diceritakan teman-temannya. Namun takdir telah membawanya ke kehidupan yang baru. Tepat saat pertandingan sepakbola berakhir, para penonton berhamburan keluar dari stadion. Rendra terpisah dengan ayahnya. Ketakutan besar menghampiri. Rendra menangis sejadi-jadinya takut jikalau ia tak bertemu ayahnya lagi. Takut jikalau ia akan ditinggalkan dan dibuang.
“Rendra!” teriak ayah mencarinya saat tersadar rendra tak ada di dekatnya.
Tak ada yang peduli, semua orang hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Berkemas dan ingin segera keluar meninggalkan lapagan. Ayah berlari kesana kemari mencari rendra. Namun nihil, ayah tak menemukannya.
Lima belas menit berlalu, suara dari microfon menggema mengisi stadion.
“Telah ditemukan seorang anak dengan ciri berkulit putih, rambut ikal, memakai baju warna merah dan celana jeans. Bagi orang tua yang merasa kehilangan anaknya, silahkan menuju sumber suara”
Ayah tersenyum mendengar informasi itu. Ada rasa lega yang berdesir memenuhi rongga dadanya setelah kecemasan menutupnya sesak sejak tadi. Akhirnya rendra ditemukan.
Sesampainya di sana, seharusnya senyum ayah semakin merekah. Sayangnya, rendra terbaring di atas tandu siap dibopong naik ke mobil ambulance yang baru saja tiba. Ia rupanya jatuh pingsan setelah lelah menagis sejadi-jadinya saat mencari ayah. Rendra segera dilarikan ke rumah sakit.
Rendra masuk ke ruang IGD, ayah menunggu dengan penuh kecemasan. mungkin saja jantungnya akan berhenti berdetak jika setelah ini ada kabar buruk yang ayah dengar lagi. Kehidupan memang sering seperti itu, akan banyak musibah bertubi-tubi yang datang menghampiri meski luka belum sempurna kering.
Seorang lelaki tinggi besar berjas putih keluar dari ruang IGD. Meminta persetujuan ayah untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada rendra. Diagnosa dokter ada masalah pada kepala rendra. Ayah harus menunggu lagi, saat seperti itu sangat mendebarkan seolah waktu ingin dihentikan saja. Tak ingin mendengar kabar lanjutannya.
Hasil CT-Scan telah keluar, rendra divonis menderita tumor otak. Ukurannya  masih kecil namun telah menutupi saraf  bagian keseimbangan tubuh. Itulah sebabnya saat panik tadi rendra kehilangan keseimbangan tubuh, hingga  terjatuh dan tak sadarkan diri.
Ayah bersandar ke tembok setelah mendengar kabar itu. Tulang-tulang lututnya terasa ngilu.  
***
Ayah menghampiri rendra yang masih saja memandangi sikunya. Mengangkat rendra menjauh dari pecahan kaca. Membersihkan luka pada siku rendra.
“Ayah, sampai kapan rendra akan terus terjatuh?” tanya rendra polos.
“Sampai rendra bisa menjadi anak yang kuat” jawab ayah sambil membalut siku rendra.
“Rendra sudah kuat ayah, rendra sudah tidak pernah menangis saat terjatuh” protes rendra.
Ayah hanya mampu mengusap kepala rendra dengan senyum yang ditabah-tabahkan setiap kali  menghadapi pertanyaan polos anaknya. “Nak, ayah tak bisa menjelaskan penyakit apa yang sedang menimpamu. Bagaimana pun kau tak akan pernah mengerti” batin ayah teriris. Di dunia ini terkadang ada hal-hal yang tak perlu kita ketahui, tak mesti kita pahami. Sebab dalam ketidak tahuan itu, hidup akan terus berlanjut dengan kaki berdiri tegak.
Sudah setahun rendra mengidap penyakit itu. Pengobatan yang dilakukannya hanya mengkonsumsi obat herbal. Sayangnya, tak ada perubahan yang berarti menuju kesembuhan. Ayah mengannggap karena ukuran tumornya masih kecil, tak mestilah operasi penganggaktan tumor dilakukan. Sebab ayah tak tega melihat kepala mungil anaknya terkena pisau bedah apalagi jika dokter mengebor kepalanya. Membayangkannya saja ayah tak sanggup.
“Pak, kami harus segera mengangkat tumor di kepala anak bapak dengan melakukan operasi. Kami harus meminta persetujuan wali” kata dokter saat rendra melakukan check up.
Selain sering terjatuh, belakangan ini rendra sering muntah, kepalanya sakit tak tertahankan, dan terjadi gangguan penglihatan. Rupanya ukuran tumor semakin membesar. Ayah menyetujui untuk melakukan operasi.  Keyakinan dokter bahwa operasi akan berjalan lancar dan cuaca cerah di luar jendela saat itu, memantapkan hati ayah bahwa rendra akan segera sembuh.
***

Hasil gambar untuk bingkai foto usang

Ayah menatap bingkai foto usang di atas meja. Itu foto terakhir rendra dengan senyum merekah dan balutan perban di kepalanya. Seharusnya usianya kini menginjak tujuh belas tahun.
***