Selasa, 29 November 2016

Arah Jam 12


Rina, seorang gadis yang kini menginjak usia seperempat abad masih saja selalu menganggap dirinya anak sekolahan yang berusia 17 tahun. Di usianya yang sudah seharusnya dianggap dewasa itu, Rina baru mengalami masa alay, beberpa sahabatnya membenarkan itu. Rina tak pernah lepas dari telepon genggamnya. Secara bergantian dia membuka media sosialnya. Instagram, facebook, line, watsapp, path dan twiter, entah apa yang selalu ia periksa. Persis anak kekinian (kan?).

Rina kali ini sedang mebuka grup watsappnya. Ada sebuah kalimat yang Rina ketik, namun kembali dia  menghapusnya. Berulang kali mengetik beberapa kata untuk memulai percakapan di grup watsapp itu dan tetap saja dihapusnya. Grup itu rupanya hanya beranggotakan tiga orang, Rina dan kedua sahabatnya.  
“Saya mau buat pengakuan” akhirnya satu kalimat ini berhasil terkirim di grup itu.

Beberapa menit kemudian, kedua temannya sudah membaca pesannya itu, tentu saja bisa dilihat melalui notif grup. Tak ada balasan dari keduanya.
“Ini masih siang, kalian pasti sibuk. Baiklah, sebentar malam saja” tambahnya.
“Siap” seorang sahabatnya akhirnya membalas.

Pukul 18.15 WITA, ini baru saja menjelang malam. pesan baru masuk di pemberitahuan grup.  
“Ini sudah malam, mana pengakuannya?” sahabat yang satunya menagih janji. Rupanya ia memperhatikan chatingan Rina tadi siang.
“Tunggu saya ketik dulu” jawabnya mengulur waktu. Rina tahu sahabatnya yang satu ini pasti sangat penasaran.

Kembali Rina mengetik beberapa kalimat di layar ponselnya, dihapus bebarapa kali, diketik lagi dihapus lagi. Ahh..pasti mereka sangat penasaran, pikirnya. Rina sama sekali tidak sengaja mengulur waktu ataupun mau membuat kedua sahabatnya ini pensaran, melainkan Rina sedang membuat kalimat pengakuan yang menurutnya ini sangat penting, jadi harus disampaikan dengan cara sempurna.

Kemarin, seorang teman bertanya padanya perihal bagaimana cara Rina bisa tetap menebar senyum setelah apa yang tejadi padanya beberapa akhir ini. Berbagai masalah bertubi-tubi menghampirinya tentang kepergian,  kekecewaan, penyesalan, dan semuanya harus diakhiri dengan penerimaan. Setelah menceritakannya semuanya, Rina sadar salah satu alasannya karena kedua sahabatnya. Itulah mengapa Rina ingin menyampaikannya melalui pengkuan.

“Kalau saya bilang kalian berdua adalah sahabat terdekatku, saya pikir kalian sudah pada tahu. Kalau saya bilang saya menganggap kalian seperti saudara, tentu sudah pada tahu juga. Pengakuan yang mau saya sampaikan ialah…” kalimatnya terhenti.

Rina menerawang ke beberapa tahun silam, saat Rina masih duduk di bangku sekolahan. Saat SD, Rina punya teman sekelas tentunya tetapi saat itu Rina adalah gadis kecil pemalu di kelasnya, dia tidak cukup dikenal. Masih selalu bersembunyi di balik sifat pendiamnya. Beberapa teman memang selalu mengajaknya bermain, tetapi Rina selalu merasa minder. Saat SMP, Rina selalu mengikut dengan sepupunya. Teman sepupunya yah temannya juga. Dia bersembunyi di balik ketenaran sepupunya. Kebanyakan temannya hanya mengenalnya karena sepupunya. Apalagi di kalangan cowok-cowok pasti hanya sepupunya yang terkenal. Saat SMA, Rina terkenal sebagai gadis culun si kutu buku. Saat bel istirahat berbunyi, dia hanya tinggal di kelas, duduk di bangkunya sendirian hingga bel masuk berbunyi lagi. Selama 12 tahun, Rina merasa asing di sekolahnya sendiri. Selama itu pula, Rina merasa kesepian. Rina selalu bersembunyi. Memang ada suatu hal yang disembunyikannya. Ketakutannya atas ketidak terimaan teman-temannya, hingga takut ditinggalkan dan dibuang oleh teman-temannya. Rina pernah menyalahkan takdir atas apa yang terjadi padanya, atas segala ketakutan dan kekhawatiran yang timbul. Rina selalu takut jika dijadikan bahan perhatian, dia tak suka diperhatikan, itu sebabnya Rina lebih suka bersembunyi.

Selama itu pula, Rina terpuruk. Jatuh yang benar-benar galau. Memang tak selalu ditampakkannya tetapi  bersama ibunya, ia menampakkannya dan menceritakan semuanya. Ibu selalu menyelipkan nasehat-nasehat di setiap curhatannya dan melalui itu semua Rina banyak belajar.


Hingga akhirnya di bangku kuliah, Rina bertemu dengan kedua sahabatnya ini. Meski awalnya hanya mereka berdua saja yang akrab karena mereka punya bahan pembicaraan tentang K-Pop dan drama korea yang sedang naik daun kala itu. Rina kembali menjadi asing, namun dia telah terbiasa. Nama-nama artis korea itu, disematkan pada cowok-cowok ganteng di kampus yang kami idolakan. Rina pun larut, ikut dalam permainan itu. Di sinilah Rina mulai merasakan kenyamanan dan mengerti bagaimana teman itu sebenarnya. Kedua sahabatanya ini mengubah pandangan Rina tentang ‘teman’ bahwa teman itu perlu ada bukan hanya karena kita butuh bantuan saja. Melainkan rasa nyaman dan bisa tertawa lepas. Hingga akhirnya Rina mulai membuka diri, dan ternyata Rina sadar ada banyak ‘teman-teman’ lain yang didapatkan.

Atas segala apa yang terjadi, Rina paham bahwa untuk memperoleh banyak teman ia harus berteman dengan dirinya sendiri, bersahabat dengan hatinya. Hingga segala ketakutan yang timbul, akan menjelma menjadi tameng untuk berusaha lebih baik lagi melawan segala kemungkinan yang terjadi. Inilah dasar pembelajaran yang diterimanya, hingga ketika masalah dengan skala yang lebih besar datang menyapa, Rina bisa mengatasinya dengan lebih bijak.

“Terimakasih. Karena kalian adalah titik awalku merubah pandangan” Rina menutup kalimatnya setelah menceritakan semuanya pada kedua sahabatnya melalui grup yang hanya diisi oleh mereka bertiga itu.  



Minggu, 20 November 2016

Ingatan Berdebu

Bau tanah basah masih menyengat akibat hujan semalam. Kakiku kembali melangkah ke rutinitas biasanya, menuju ruang kuliah. Ruangan yang baru saja aku masuki itu tampak sepi. Tak seorang pun mengisi bangku-bangku  yang berderet rapi. Padahal ini sudah 15 menit lewatnya waktu masuk mata kuliah pagi ini, bahkan seharusnya aku terlambat. apakah kuliah diundur? Atau dipindahkan ruangannya? pikirku kesal karena tak ada konfirmasi oleh ketua tingkat.

Aku segera menuju perpustakaan, berharap ada teman yang bisa ku temui disana. Di jalan menuju perpustakaan, aku berpapasan dengan Doni yang berlari kecil menuju ruangan tadi dan beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa tas wanita.
“Hey mau kemana? Kenapa di ruang kuliah tak ada satupun orang? tanyaku heran.

"Oh iya kuliah hari ini dibatalkan. Tadi Rina pingsan di kelas dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit. Dia tiba-tiba menjerit kesakitan dan darah bercucuran dari hidungnya. Ayo ikut bersamaku. Aku baru saja mengambil tasnya yang ketinggalan" ajak Doni.

"Hmm.. Maaf aku tak bisa ikut ke rumah sakit" Jawabku terbata-bata.

Doni meninggalkanku begitu saja ketika ku ucapkan kalimat tadi. Semua orang tahu bahwa kalimat itulah yang akan keluar dari mulutku jika aku diajak ke rumah sakit. Benar, aku takut dengan rumah sakit. Aku pobhia dengan rumah sakit. Sejak dulu aku tak berani mengunjungi rumah sakit. Ada ketakutan besar.

Aku tahu bahwa diri kita sendiri yang mengatur segala apa yang dikehendaki dan dapat dilakukan oleh tubuh. Aku pun tahu jika ketakutan itu hanya bisa dilawan dengan ketakutan itu sendiri. Sama halnya dengan takut akan kegelapan, takut akan kedalaman dan takut pada seekor hewan. Itu hanya bisa dilawan ketika kita mampu membiasakan berada di sekitarnya. Aku sering mencoba sesekali menginjak rumah sakit. Aku ingin belajar menjadi terbiasa, berharap rasa takutku bisa hilang. Alhasil, aku tetap tak berhasil.




Rina kembali masuk kuliah, setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit. Ia duduk di sampingku dan menyapaku dengan wajah khasnya, mata sayu itu menatapku dengan ramah sembari merekahkan senyum untukku. Aku tentu sangat merasa bersalah tak menemaninya di rumah sakit. Tetapi ku atasi rasa bersalahku dengan bersikap cuek dan acuh.

"Haii Reina" sapa Rina padaku 

“Iyaa" ku tengok ia sekilas dan kembali sibuk membaca buku di tanganku.

Sikap cuek dan acuh, itulah julukan teman-teman padaku. Dan aku menikmati julukan itu. Aku memang terkenal dengan sebutan gadis tidak peka. Bukan, sama sekali tidak benar. Aku peka, sangat peka. Justru aku tak sanggup melihat raut wajah-wajah orang kesakitan, tak sanggup melihat ekspresi cemas orang sekelilingnya. 

Tiba-tiba suara dentuman keras mengagetkanku, membuyarkan fokusku dari bacaan di genggamanku. Aku menoleh. Rupanya itu Doni, dengan wajah tanpa senyum memukul meja di hadapanku. Tangannya mengepal. Mukanya memerah.

"Reina, kamu tetap bisa yahh bersikap acuh begitu. Rina baru saja menyapamu, dan balasanmu hanya satu kalimat iya. Kamu tidak merasa bersalah" protes Doni.

“Ada yang salah dengan sikapku barusan?" tanyaku polos. 

“Iya!!! Sangat salah. Seharusnya kamu yang menyapa duluan. Atau jika tidak, balaslah sapaan nya dengan ramah. Atau sampaikan permohonan maafmu karena tak pernah sekalipun kamu datang menjenguknya di rumah sakit dia dirawat. Kalian kan bersahabat.” Tekannya padaku.

"Doni, apa hakmu mengaturku?" tanyaku dengan nada suara yang juga mulai ku tekan.  

“Saya sama sekali tidak mengaturmu Reina. Sebagai seorang saksi persahabatan kalian, saya merasa perlu memberi nasehat padamu yang salah dalam bersikap. Jika kamu terus-terusan memiliki sifat seperti ini, bisa jadi saat kamu jatuh sakit tak akan ada teman yang menjengukmu. Tak ada yang mau menolongmu" Doni merendahkan suaranya.  

Kalimat Doni barusan, hampir saja membuatku meneteskan air mata. Aku tahu dampak yang akan terjadi atas sifatku selama ini. Iya Doni benar. Hal yang paling ku takutkan kelak, tak akan ada teman yang mengunjungiku jika aku menderita penyakit yang parah. Bahkan aku membayangkan di hari kematianku, tak akan ada yang melayat dan menangisi kepergianku. Saat segala kekhawatiran itu memuncak di kepalaku, aku berlari keluar ruangan meninggalkan Doni dan Rina yang baru saja menghakimiku, menurutku. 

Rasa takut pada suatu hal yang sering disebut sebagai phobia biasanya disebabkan karena seseorang yang mengalami trauma masa lalu dan membekas di dalam kesadarannya. Seperti seseorang yang takut kedalaman, mungkin saat masa kecilnya pernah tenggelam. Ketakutan pada salah satu hewan karena di masa kecilnya pernah digigit atau dikejar mati-matian oleh hewan tersebut. Sama halnya dengan ketakutan pada rumah sakit, tentu ada sebabnya. Tetapi aku sama sekali tak tahu apa sebabnya. Aku tak mengingat sedikit memori pun tentang rumah sakit di masa kecilku.

Aku selalu mencari informasi di google. Menurut beberapa sumber yang ku baca, ketakutan seseorang yang menderita phobia rumah sakit yakni karena tidak suka dengan aroma obat antiseptik yang memenuhi ruangan. Atau karena takut pada wajah dokter yang seolah seperti malaikat pencabut nyawa. Atau karena tidak suka dengan ruangan sempit rumah sakit yang pengap atau takut pada darah. Namun ku rasa bukan itu alasanku. Aku bisa mencium aroma obat-obatan itu asal bukan dalam ruangan rumah sakit. Aku bahkan pernah bercita-cita menjadi dokter, bagiku dokter adalah penyelamat. Aku belum menemukannya. 
*** 

Penyakit Rina kambuh lagi, ia kembali pingsan di dalam kelas dengan darah yang bercucuran dari lubang hidungnya. Teman-teman mengerumuninya. Semua panik. Darah itu tak mau berhenti bercucuran. Lima bungkus tisu telah habis seketika itu, hingga Rina tak sadarkan diri. Rina kembali digiring ke rumah sakit. Pertahananku tumbang. Kali ini aku harus ke rumah sakit, melawan ketakutanku. Doni benar, aku harus menjenguk Rina di rumah sakit. Ku gas motorku dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tempat dimana Rina dirawat. 

Sesampainya di rumah sakit, aku segera mencari ruang rawat Rina. Dari depan ruangannya, aku mengintip dari kaca jendela. Ruangan itu dipenuhi dengan sanak keluarga yang berdiri cemas. Mataku berkeliaran mencari sosok Doni agar saja aku tak malu. "Ahh. Kenapa aku harus malu, seharusnya aku berterima kasih padanya atas gertakannya kemarin" batinku menolak. 

Berhasil, aku tidak menemukan Doni disana. Namun sorotan mataku terhenti pada sesosok wanita tua. Wanita tua itu sepertinya menginjak umur 50-an. Wanita itu duduk tepat disamping ranjang Rina berbaring. Mengenggam tangannya dengan sangat erat. Aku mengenal wajah sendu itu. aku mengenal rasa cemas itu, dan aku merasakan hangatnya genggaman itu. 

Aku terdiam mematung, memandangi wanita tua itu. Memoriku mengawang ke masa beberapa tahun silam. Bunyi sirine ambulance memecahkan kesunyian malam itu, perawat berlari menghampiri ambulance yang baru saja tiba di depan rumah sakit. Seorang anak berusia 4 tahun didorong di atas tempat tidur beroda memasuki ruang ICU. Dokter pun datang dengan berbagai perkakasnya. Seorang wanita berusia 25 tahun menggenggam tangan gadis kecil yang tengah berbaring. Tetesan air matanya berderai di atas telapak tangan gadis kecilnya. Genggamannya kuat, berharap tidak terjadi apa-apa pada anaknya. Wajahnya penuh kecemasan. Anaknya diserang demam tinggi malam itu, karena sebuah penyakit yang semakin parah menggerogoti tubuhnya. Ya, gadis kecil itu adalah aku dan wanita itu adalah ibuku. Saat itu aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Satu hal yang ku tahu, aku telah membuat ibuku menangis. Aku telah membuat ibuku cemas. Aku telah membuat senyum indahnya hilang. Aku tak mersakan apa-apa pada tubuhku, tetapi aku merasakan sakit pada hati ibuku. 

Ketika seorang anak menderita sakit, ibunya memiliki perasaan sakit yang dua kali lipat lebih sakit dari anaknya. Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri, aku tak akan pernah menginjak rumah sakit. Aku tak mau sakit. Aku tak ingin melihat pemandangan seperti ini untuk kedua kalinya. Dan benar, janji itu tertanam jauh di otak bawah sadarku hingga menimbulkan phobia. Aku paham sekarang. aku menemukan alasan ketakutanku. Aku menemukan ingatan masa kecilku.


Tugas Cerpen sepulang "Writing Camp Pecandu Aksara" 
~Aksara itu candu~ 



Minggu, 25 September 2016

Sepucuk surat untuk calon imanku 

Mas, apa kabar?
Apa masih ada aku di lantunan doa-doamu?
Apa selalu ada kita dalam perjalananmu ke masa depan?
Usahamu sudah sampai mana menujuku ?

Semoga kau tak tersesat atau salah alamat.
Seperti aku, kali ini aku salah.
Dia yg ku pikir itu kamu, rupanya bukan.
Aku telah salah alamat.

Maafkan aku Mas, aku telah patah hati karena orang lain yang bukan dirimu. Bukan jodohku.
Aku salah telah menaruh banyak harap padanya.
Aku salah karena berjalan menujumu tapi tersesat di dia.

Sekarang, setelah rasa pahit ini. Aku memutuskan berhenti. Berhenti salah sangka pada setiap lelaki yang berjanji akan datang menemui Bapakku.
Sekarang aku hanya akan menunggumu, yang tidak berjanji. Melainkan langsung menemui beliau saja.

Jika kelak kau bertemu denganku, kumohon datanglah langsung ke rumah. Jangan Ada janji yg seharusnya memang tak ada selain ikrar pada saat akad.
Aku hanya takut salah alamat lagi. Aku takut patah hati lagi. Dan segala luka itu akan membuatku merasa bersalah padamu.
Aku takut Allah kita tidak ridho.

Untuk Sekarang, doakan aku agar tetap istiqamah. Menjaga hati teruntuk padamu saja. Aku pun tentu akan mendoakanmu.

.
calon makmummu.

Rabu, 14 September 2016

Ketakutan yang menjadi-jadi

Sore itu, sepulang dari menjenguk seorang adik di asrama sekolahnya. Nia teman yang sejak pagi tadi ku ajak jalan, mendapat sms dari sepupunya bahwa ia masuk rumah sakit. Siang tadi jatuh pingsan karena merasa teramat sakit di bagian perutnya. Mendengar kabar itu, kami segera membalap motor menuju rumah sakit. 
Ada perasaan yang begitu bergejolak. Aku berniat hanya mengantar Nia saja, kemudian pulang. Namun tidak sopan rasanya jika meninggalkannya di depan rumah sakit. Maka ku putuskan untuk masuk juga menemani Nia menjenguk sepupunya.

Aku begitu takut dengan suasana rumah sakit sebenarnya dan rasa takutku menjadi parah belakangan ini. Padahal dulu aku sudah berhasil sesekali masuk rumah sakit, dengan membiasakannya. Aku beberapa kali ke rumah sakit untuk melawan ketakutanku.
Seperti nasehat bijak "lawanlah rasa takutmu dengan ketakutan itu sendiri" 
Berbagai hal ku lakukan untuk membiasakan diri, termasuk menjadi anggota sebuah komunitas yg bergerak dalam bidang sosial, membantu orang2 kurang mampu untuk bisa berobat ke rumah sakit dengan biaya dari sedekah donatur. Beberapa kali ku injak rumah sakit saat menjenguk pasien. Berhasil aku melawan rasa takut ku. Meski awalnya, langkahku sedikit gemetaran, keringat bercucuran, dan dadaku sesak ketika melihat mereka. Inilah alasanku mengapa aku  sangat jarang ke rumah sakit. Banyak teman sekelasku sejak SMP SMA dan kuliah  yg tak ikut ku jenguk jika mereka di rawat di sana, aku takut dengan suasana rumah sakit. 

Langkahku kembali gemetaran, ku temui disudut-sudut rumah sakit, bapak-bapak dengan tatapan kosongnya, seorang ibu yang tengah menangis meratapi anaknya, beberapa pasien didorong di atas tempat tidur beroda oleh beberapa suster dengan amat tergesa-gesa, dokter berlarian menghampiri pasien yang berlumuran darah. Aku takut dengan semua itu. Ini juga salah satu alasanku mengapa ku urungakan niatku bercita-cita menjadi dokter saat SMA. Aku menyadari ketakutanku. 

Ku ikuti Nia dari berlakang yang sedikit berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit mencari ruang rawat sepupunya. ketika Nia membuka pintu ruang rawat, ku hentikan langkahku. Baru selangkah kakiku di dalam ruangan, dadaku semakin sesak.
"Nia, saya menunggu di luar saja yah" 
"Eh kenapa Ni?" 
"Hahaha.. saya nanti baper" ku jawab dengan sedikit bercanda 
"Ohh iya.. tapi nanti klo saya lama bagaimana?" 
"Tidak apa2,  paling saya main hp disini menunggu. Terbiasa menunggu. Hehe"

15 menit, Nia baru keluar dari ruangan mengerikan itu. Dan selama itu pula di ruang tunggu aku menundukkan kepala tak ingin melihat sekelilingku. Meski sesekali mataku berkaca-kaca. Beneran baper hahahaha. 

Pertahanan ku runtuh sejak isi kepalaku penuh dengan  bayangan bagaimana suasana rumah sakit saat ibuku di rawat dan aku tak ada menemani adik-adik dan Bapakku.
Rasa takutku pada rumah sakit menjadi-jadi...

Minggu, 28 Agustus 2016

#MasihDiBumi

Maka
pada setiap padanan kata
akan menemukan kita
mungkin nanti di satu kota yg sama

Itu kelak
di waktu yg tepat
Saat semua "terjelaskan"
Bumi akan berhenti menunggu

Bahkan
Jika semua kata tak ada yang sepadan, 
Jika kita tak saling menemukan 
dan jika tidak pada satu kota yg sama

Jika nanti
di waktu yg mungkin tidak tepat
tetap semua akan "terjelaskan"
Bumi tidak akan pernah lagi menunggu

#MasihDiBumi 00.05WITA (29 Agustus 2014)
*Bumi pada Langit*

Jumat, 26 Agustus 2016

SEMARAK KEMERDEKAAN

Pagi ini aku bangun lebih awal, padahal ini hari minggu. Bisanya aku bermalas-malasan di depan TV. Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 WITA, aku segera bergegas mandi pagi, menyiapkan baju yang siap ku kenakan nanti di acara 17 Agustus di lapangan dekat rumah. Tepatnya di lokasi Carakdek SIGi Makassar. Baiklah sedikit ku jelaskan, SIGi Makassar adalah kumpulan kakak-kakak keren, menurutku. Karena dengan kepedulian mereka, mereka mau mengajari kami membaca dan berhitung. Aku adalah salah satu anak yang belajar di sana.

Hari ini mereka mengadakan kegiatan seru. Turut menyemarakkan hari kemerdekaan Indonesia. Tak banyak hal yang ku tahu tentang perjuangan di masa itu, aku bocah usia 10 tahun yang masih memikirkan main, main dan main saja. Sedikit yang ku tahu, mungkin jika Indonesia tidak merdeka saat itu, aku tak akan bisa bermain dengan nyaman sekarang, tak ada layangan yang bisa bebas ku terbangkan, tak akan ada kesempatan bagi anak-anak seperti kami berlarian, bersepeda atau sekedar tertawa lepas. Karena para penjajah itu mungkin sudah menguasai negeri tercinta ini.  

Aku juga bingung sebenarnya, kenapa merayakan hari kemerdekaan mesti diisi dengan berbagai lomba. Yahh walaupun tetap ada upacara 17an. Ahhhh.. aku masih bocah usia 10 tahun, tak mau ambil pusing. Yang jelas aku bisa mengikuti semua lomba, menurutku aku juga sudah jadi keren layaknya para pejuang yang melawan penjajah. Hehehehe.




Pagi itu, sudah menjelang siang sihh sebenarnya. Aku dan teman-teman segera mendaftarkan diri di berbagai lomba. Lomba yang ada yakni lomba makan kerupuk, tarik tambang, jogged balon, lari kelereng, baca puisi, dan nyanyi lagu nasional. Selain lomba-lomba itu. hal yang sebenarnya sangat membuat aku tertarik adalah hadiah lomba. Aku bertekad memenangkan lomba yang ku ikuti. Aku hanya ingin bahagia.

Setelah melakukan berbagai rangka lomba tersebut, aku paham satu hal. Bukan hanya hadiah yang bisa membuat aku bahagia dan merasa keren. Turut berada di tempat ini, turut meramaikan semarak kemerdekaan, turut melihat kegilaan kakak-kakak keren SIGi Makassar, itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih telah memberi warna bagi anak-anak seperti kami. terimakasih telah mengukir senyum untuk anak-anak seperti kami, terimakasih telah mengenalkan makna kemerdekaan kepada kami.





Ingin ikut merasakan keseruan kegiatan SIGi Makassar??
Yuuk ikut berpartisipasi di acara Project Berbagi 13 SIGi Makassar yang bekerja sama dengan rotaract phinisi , Minggu tanggal 28 Agustus 2016 di Panti Asuhan ATTIN, BTP jl.Kesenangan 1 Blok E No 109. Dengan tema Pemeriksaan Gigi, Recycled and Craft, kakak sekalian bisa ikut berbagi keceriaan, semangat, juga kreatifitas bersama adik-adik di acara ini. Jangan sampai ketinggalan keseruannya^^

Bagi kakak-kakak keren yang ingin berdonasi silahkan ke rek. BNI a/n Rahmiana Rahman 0271999806
cp: 081524201163 (oji), 085299372701 



Kamis, 18 Agustus 2016

“Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia” dalam Novel Tuhan Maha Romantis

Belakangan ini saya suka duduk menyendiri di sebuah kafe / warung kopi menikmati segelas es capucino, sembari menunggu waktu menunjukkan pukul 18.00 WITA, ditemani sebuah buku yang tak lelah ku balik-balik lembar demi lembar, menunggu untuk ku selesaikan. Belakangan ini saya suka membaca novel bergendre “romantis“ yang di dalamnya mengarahkan bagaimana seharusnya hati ini kita kendalikan. Bagaimana seharusnya kita menjaga sikap, pun menjaga perasaan yang tumbuh. Ya, bagaimana seharusnya.

Dapatlah kita katakan setiap orang itu jatuh cinta. Ada yang menjadi kuat karenanya, ada yang terperdaya. Siapa mereka yang menjadi kuat? Mereka yang mampu mengelolah cintanya, yang tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap energi berlebih pada dirinya yang hadir karena cinta itu. siapa mereka yang terperdaya? Mereka yang membutakan pandangannya dan lupa pada Yang Menciptakan cinta.  (Nurun ala, 135)

Seketika itu aku paham sekarang, mengapa batinku pun bergejolak. Separuh diriku ingin selalu di dekatnya namun separuh yang lain membisikkanku untuk menjaga jarak. Hal ini sama dengan yang dirasakan tokoh “Aku” dalam cerita ini. Tokoh aku dalam cerita ini memilih untuk menyibukkan diri, mengikuti banyak kegiatan, dan sebisa mungkin mengurangi interaksi dengan dia.

Memang, ada hal yang harus kita perjuangkan, pun yang harus kita lepaskan. Bukan, bukan menyerah atas perasaan yang begitu dilema. Bukan, bukan berusaha untuk menghapus perasaan itu dari hati kita. Melainkan justru menjaganya. Tak ingin ku biarkan aku terpedaya dibuatnya. Karena itu tipu daya makhluk yag senantiasa ingin menjerumuskan kita kan?.

Biarkan aku menikmati jatuh cintaku sendiri, tak ingin jika makhluk itu membumbu-bumbuinya dengan angan-angan yang berlebihan, hingga menjerumuskan. Biarkan aku jatuh cinta dengan caraku sendiri; menyebutnya dalam doa-doaku, menyimpan sirat namanya dalam deretan huruf aksaraku, memaku setiap kenangan pertemuan kita. Menjaga, menjaga dan menjaga, aku hanya sedang menjaga.

Tokoh aku dalam cerita ini juga sangat menyukai puisi Hujan Bulan Juni milik sapardi Djoko Damono. Seperti itulah perasaannya padanya. Seperti hujan yang sangat tabah, bijak, dan arif. Demikian padaku juga.    

“HUJAN BULAN JUNI”
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Kepada hujan, barabgkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. Hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap menjadi rahasia. Karena ternyata, hujan tak hanya menghapus rintikrindu, tapi juga juga melarutkan kenangan. Membawanya pergi entah kemana., sebab laut tak pernah sanggup jadi muara buat segala. Jadilah kita tetap sendiri-sendiri.. dan tak perlulah kita bicara janji.

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu  di jalan itu
Kita pernah melangkah dan berhenti dengan irama yang sama. Kita pernah menatap bulan dari sudut yang sama. Kita jua yang menjadi sebab adanya pemaknaan-pemaknaan positif tentang jarak dan keterpisahan. Kita telah mecipta banyak,  pembenaran-pembenaran indah, dan itu pertanda kita ragu. Tapi hujan menghapus keraguan itu.

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bukan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu
tidak semua apa yang kita rasa perlu diungkapkan, bukan? Sebagian rasa memang membahagiakan ketika diungkapkan. Sebagiannya lagi menentramkan bila dipendam. Boleh jadi sisanya ada untuk dilupakan. Itukah yang kini sedang ku rasakan? Kau rasakan?. Dalam diam kita, hujan memang terlalu banyak bicara. (Nurun Ala,125-127)

Setelah terpisah lama, rupanya memang agak canggung berbicara padanya. Bibirku memilih bungkam. Sikapku memilih acuh. Tapi hatiku sedang bergejolak. Pertemuan pertama dengannya setelah terpisahnya jarak membuatku sulit memulai pembicaraan. Pertemuan pertama dengannya setelah waktu yang tidak sebentar membuatku sulit mengimbangi pembicaraan.

Belum ada kata ‘apa kabar’ atau sekedar ‘Hai’ yang terucap dari kamu maupun aku, yang menandakan bahwa percakapan kita harus segera dimulai. Tetapi seperti ada kekuatan lain yang hadir, memaksa kita untuk bungkam. Kamu yang biasa berekspresi ini itu tanpa ragu, mengapa tak berbicara lebih dulu?. Dan aku. Mengapa aku mendadak gagu? Aku enangkap pesan dari ekspresi itu, sinyal serupa yang coba kita pancarkan dengan gelombang masing-masing : kita sama-sama tak tahu jawabannya apa. (Nurun Ala, 1)

Tokoh aku dalam novel ini pun merasakan hal yang demikian, setelah  lima tahun tak bertemu dia, pertemuan pertamanya menghabiskan seratus delapan puluh detik dengan mulut terkunci hingga mereka mencoba untuk saling bicara.

Allah punya jalan cinta untuk semua manusia, yang sering kita abaikan hanya karena kita melihat jalan yang lebih landai. Allah punya jalan cinta untuk orang-orang yang berpasrah, mereka yang percaya hanya ajaran-Nya lah Software terbaik bagi hardware yang bernama manusia. Sayang sebagian besar kita (mem)buta(kan diri) sehingga tak melihat jalan itu. (Nurun Ala, 206)


“Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia”, Novel TUHAN MAHA ROMANTIS karya Azhar Nurun Ala, membuatku memahami bagaimana seharusnya jatuh cintaku padanya, dan semakin mencintai-Nya Sang Maha cinta.

Senin, 15 Agustus 2016

Nyanyian Rintik Hujan

Gerimis datang lagi
Membawa ketenangan kala menikmatinya
Mendengarkan dendangan rintiknya
Melihat tarian jatuhnya
Mencium udara sendunya


Nyanyian rintik hujan
Mendendangkan kemerduan
Instrument musik paling indah
Di tengah kesunyian

Mereka sedang bernyanyi
Mendendangkan lagu kehidupan
Tentang penantian bumi
Tentang harapan penghuni kolong langit

Nyanyian rintik hujan
Adakah maksud lain kala kau datang
Dengan derasmu?



Babo, 10 Januari 2016 

Selasa, 21 Juni 2016

Day #17Ramadhan, malam Nuzulul Quran


Di suatu sore yang sejuk tampak seorang gadis mungil mengendarai sepedanya. Dibelakangnya, adiknya memeluknya erat. Gadis itu mengayuh sepedanya dengan sangat hati-hati. Takut jikalau mereka terjatuh dari sepeda di atas jalan berbatu. Di keranjang depannya disimpannya Iqra milik adiknya dan Al-Quran besar miliknya. Mereka sedang menuju mesjid sekarang. Mereka santriwati yang sedang belajar Al-Quran,  sedang belajar mengeja kalam ilahi, sedang belajar memahami isi surat cinta Allah.

Sebelum berangkat tadi, ia ingat dengan pesan Ibunya 
"Nak kalau di mesjid, belajar ngajinya yang bener. Tidak usah main lari-larian kayak teman-teman kalian disana. Mesjid rumahnya Allah. Kalian sedang bertamu. Selayaknya seorang tamu harus menjaga kelakuannya kan di rumah tuan rumahnya" 
Gadis kecil itu mengangguk mengiyakan nasehat Ibunya. Diciumi punggung tangan ibunya dengan sangat khidmat.

Mereka termasuk anak-anak yang penurut. Sesampainya di mesjid, mereka mengaji dengan sungguh-sungguh. Saat teman-temannya berlarian kesana kemari, mereka hanya menatapi mereka meski ingin juga rasanya berlarian. Tapi mereka sangat penurut. Terlalu menjaga kepercayaan ibunya. 

Beberapa hari selepas kepergian Ibunya ke sisi Allah SWT. Gadis tadi dan adiknya yang sudah tumbuh dewasa kini mengkhatamkan Al-Quran untuk almarhumah ibunya. Niatnya untuk diberikan amalnya pada Ibunda tercinta. Karena bagaimanapun, karena ibunya jualah mereka mahir membaca kalam Ilahi kini. Di tengah bacaannya, sesekali air mata menetes di pipinya. Dalam hatinya mengucapkan terimakasih yang teramat dalam pada ibunya. Karena beliau, surat cinta ini bisa mereka maknai sedikit demi sedikit. Jika bukan ibu yang dengan kelembutan hatinya selalu mengingatkan mereka untuk berangkat ke mesjid belajar mengaji, entah apa jadinya mereka sekarang.

Malam itu tepat 15 tahun yang lalu, di malam 17 Ramadhan memperingati hari Nuzulul Quran di mesjid tempat gadis mungil itu belajar Al-Quran. Dia tampil menjadi vokalis kasidah, menyanyikan lagu "shalawat badar"nya Hadad Alwi. Lagu ini sangat populer saat itu. Di depan Ibunya, ini kali pertamanya merasa bangga telah dilahirkan oleh ibunya. Gadis mungil itu juga dinobatkan sebagai salah satu santriwati teladan malam itu. Betapa cantiknya senyum ibunya melihat anak mungilnya berdiri di depan panggung.

Malam ini, tepat malam 17 Ramadhan. Setelah mengingat segala kenangan indah bersama Ibunya. Dia berjanji tak akan ada air mata kesedihan lagi kedepannya. Dia kini benar-benar ikhlas atas kepergian ibunya menghadap Tuhannya.

Namun jika kelak kau temui air matanya menetes. Itu hanya air mata kerinduan. Tak apa kan?







Sabtu, 18 Juni 2016

Taman

      Rerumputan yang hijau dan kursi kayu di tengah tamanmu ini, aku menyukainya. Taman ini indah. Benar, aku dapat berbaring terlentang di atas rumput hijau itu sambil memandang langit. Benar, aku duduk di kursi ini dengan nyaman. Udara di sini pun sejuk, menenangkan. Benar, aku hanya sendiri disini, tak ada orang lain yang ku temui. Di sini sunyi sekali. Benar, di taman ini patah hati ku yang lalu telah terobati, dan benar segala penatku dapat ku curahkan disini. Di tengah terikku, taman ini meneduhkanku. Bagiku, kau lelaki teduh.


       Disini sunyi sekali, tuan. Hanya suara kicauan burung yang dapat ku dengar. Hanya hembusan angin yang dapat ku rasa. Dan di balik pohon rindang, sesekali ku temui tulisan namamu dengan nama seorang wanita. Ahh..aku tak bisa membaca nama wanita itu. Tulisannya telah kau coret-coret. Hingga tak bisa terbaca lagi. Mereka hanya masa lalumu kan?


       Tetapi kenapa disini sunyi sekali tuan?. Bahkan aku tak menemui sosokmu sejak tadi. Aku kesepian. Sejak pagi hingga malam menjelang aku menunggumu, tuan. Di sini sunyi sekali. Aku khawatir. Aku takut. Jangan-jangan kau sudah tak mau menengokku disini lagi. Kau meninggalkan ku sendirian di taman bermain ini. 

      

       Namum kau yang memintaku menunggu disini kan?. Meski kau sibuk di luar sana. Aku akan bertahan disini. Karena taman ini bisa membuatku nyaman. Kau membuatku nyaman, tuan.

       Aku tak salahkan jika aku khawatir padamu?. saat kau bahkan tak menghubungi meski aku menunggu setiap detiknya. Aku hanya takut patah hati lagi, tuan.

       Aku tak salahkan jika aku hanya diam saja?. Aku malu selalu memulai percakapan. Perasaanku ku simpan dalam di dasar sana. Dan aku memilih diam saja karena aku berusaha memahamimu.

       Aku tak salahkan jika aku berusaha saja percaya padamu?. Karena harapanku telah ku letakkan pada Sang pemilik hati. Aku hanya berharap Tuhan menyatukan kita.

       Dan aku tak salahkan jika aku takut ada banyak hati yang lebih baik dari hatiku?. Karena aku bahkan merasa tak pantas bersaing dengan para hati itu. Aku takut kau akan berpaling.

       

       Maka biarkan saja seperti ini. Aku akan menyibukkan diriku untuk segala hal positif. Percaya saja pada hatiku bahwa aku menjaganya. Tapi ku mohon jaga pula hatimu.

Aku selalu bertanya apakah aku tak terlalu jauh. Tapi hatiku mempercayaimu lebih daripada aku.


       Mungkin perlakuan romantis tak pernah ku tunjukkan padamu. Karena tertahankan hingga akad telah menyatukan. Kau tahu prinsipku kan?. Percayalah, dibalik diamku aku memikirkanmu lebih dari apa yg kau pikirkan. 


       Ku harap kaulah jodohku di atas ridha-Nya. Karena bagiku hubungan kita adalah "Cinta segitiga", diantara kita ada Allah. Melalui-Nya aku menyampaikan perasaanku.


Aku ingin bermain di taman ini lebih lama.

Kamis, 16 Juni 2016

Akhir Cerita Dejavu (Dejavu Part-6)


Lelaki Dejavu kembali meyapaku di bulan Juni melalui mimpi. Di mimpi sebelumnya dua tahun yang lalu, ia mengajakku bertemu orang tuanya sembari meminta restu untuk menikahiku (Lihat cerita part-3 Kembali tentang Dejavu). Kembali aku berdebat dengan pemahaman khayalku yang dulu bahwa aku menginginkan setiap mimpi tentang Lelaki Dejavu itu adalah potongan masa depan yang nyasar ke dalai mimpiku. Kali ini aku menolaknya. Mimpi kali ini hanya bunga tidur.

Resepsi pernikahan akan segera dilaksanakan, aku telah berdandan sebagaimana pegantin yang menanti hari H di depan cermin. Melalui pantulan cermin, di belakangku tampak seorang wanita anggun sedang sibuk memperbaiki gaunku. Senyumnya begitu meneduhkan, ia selalu berusaha menenangkanku dari rasa degdegan yang ku alami, dan aku bisa begitu patuh padanya. Dia begitu akrab denganku, karena dia yang mengurusi segala hal tentang persiapan pernikahanku. Tapi wajahnya tak ku kenali dalam kehidupan nyataku. Aku tak pernah bertemu dengannya.

Setelah semua persiapan selesai, aku keluar dari ruang dandan menuju ke ruang akad pernikahan. Namun, mempelai lelaki tak kunjung datang. Hatiku bergmuruh, khawatir. Kembali wanita anggun tadi menggenggam tanganku, menenangkan. Aku tersenyum padanya dan memulai mengambil napas panjang. Segera ku ambil ponselku untuk segera menghubunginya. Lama tak diangkat. Aku hampir saja menyerah. Semua tamu pun ikut khawatir. Kali ini, aku yang memegang erat tangan wanita anggun itu, untukku mencari perlindungan diri.  

Setelah beberapa menit akhirnya mempelai lelaki menelpon wanita anggun tadi mengatakan bahwa ia sedang di jalan. Ada urusan mendadak yang sedang dia urus terlebih dahulu sebelum datang ke resepsi pernikahan. Kemudian melalui wanita itu, aku diberitahu. Ku rasa aku paham sekarang, wanita anggun itu adalah teman akrab mempelai lelaki. Melaluinya, ia menceritakan semuanya.

Setelah beberapa menit, akhirnya mempelai lelaki tiba. Ada sedikit ragu ku temui melalui tatapannya padaku. Ku temui banyak kekhawatiran disana. Namun aku tak sempat bertanya. Wanita anggun itu menghampirinya dengan begitu bersemangat. Memberi tahu mempelai lelaki bahwa mempelai perempuan telah siap. Tatapannya pada wanita itu begitu meneduhkan. Saat itu ku rasakan perassan tersakiti wanita itu. Aku paham sekarang.

Sebelum akad dimulai, ku minta pada wanita anggun itu untuk berbicara bertiga dengannya dan dengan mempelai lelaki. Dengan hati yang ku tabahkan, aku mencurahkan hal-hal yang baru saja ku temui barusan. Tentang perasaan mempelai lelaki sebenarnya, tentang penerimaan wanita anggun itu atas keputusan dilaksanakannya pernikahanku ini dengan lelaki itu. Lelaki yang sangat ia cintai, lelaki yang memilihku untuk dia nikahi. Namun pada akhirnya, mempelai lelaki paham pada siapa sebenarnya cintanya dia harus titipkan. Pada siapa sebenarnya tatapannya bisa begitu teduh saat menatap salah satu dari kami.  Pada siapa seharusnya dia nikahi hari ini. Dan itu bukanlah aku.

Siang itu, pernikhan tetap berlangsung. Mempelai lelaki telah duduk di depan bapak penghulu. Di sampingnya, telah duduk juga seorang wanita. Ya, wanita anggun tadi telah menjadi mempelai wanita. Wanita yang dengan semangat penerimaanya mengurus segala resepsi yang seharusnya untuk aku dan kini telah menjadi resepsi pernikahannya. Dengan air mata berderai, wanita anggun itu menatapku yang berdiri di pojok ruangan.  Entahah, diantara kami bertiga perasaan siapa yang lebih tersakiti.

“Saat hubungan kekasih berakhir, apakah hanya satu pihak yang tersakiti?.
Seseorang yang tak bisa memberi tahu siapapun, telah meyakiti dirinya sendiri.
Seseorang yang bahkan tidak tahu apakah dia juga terluka, akhirnya akan menyadarinya.
Bahkan seseorang yang mengabaikan sakit itu, bahkan lebih terluka”

Untung saja ini hanya mimpi. Mimpi pada lelaki Dejavu yang selama ini selalu hadir di mimpi-mimpiku di setiap mendekati Bulan September. Mimpi Dejavu yang kurasa saling berhubungan. 

Selasa, 14 Juni 2016

Dan Kau Bernama Tumor

Sampai detik ini saya masih berharap saya sedang bermimpi buruk. Mimpi yang sangat panjang, dan belum saatnya saya terbangun. Ini sifat manusiawi ketika kenyataan belum bisa diterima sepenuhnya. Ah..egois sekali. 


Setiap sudut ruangan, masih ku temui bayangannya. Di setiap lakuku, ku rasakan pengawasannya. Aku masih merasakan sosok beliau di tengah-tengah keluarga kami. Aku masih belum percaya. Namun lagi-lagi kenyataan membentakku 

"Hei sadar, Ibumu telah tiada!" 

bentakan itu menyadarkanku kini bahwa aku sedang tidak bermimpi. 

Kini, akulah pengganti sosok ibu untuk keluarga. Aku sungguh belum siap. 


Aku tak pernah menyangka akan terpisah dengannya di usia yang terlalu dini ini. Aku ingin marah. Tapi aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa. aku hanya ingin marah saja. Aku ingin berteriak. Tapi aku tak tahu pada siapa tujuan teriakkanku ini. Maka Aku hanya bisa marah padamu saja. Sebongkah daging yang bersarang di kepala ibuku, dan kau bernama tumor. Kau adalah sosok pemisah kami. Bisakah aku menyalahkanmu saja atas apa yang terjadi pada Ibuku?


Aku tak menyangka mengapa kau terlalu sering menyebabkan kematian seseorang. Adik Ovan dan Ibu Sulminah adalah korbanmu juga kan? 

Seorang anak kecil yang kau rampas dari Ibunya. Seorang Istri yang kau rampas dari suaminya. Mereka dulu pernah ku awasi hingga di detik-detik terakhirnya. Dan semua menyisakan kepahitan. 

Tetapi aku tak pernah menyangka sama sekali, tak pernah sungguh. Bahwa kau juga telah bersarang di kepala Ibuku, bahwa kau akan merampas Ibuku dari aku, bahwa kau akan merampas Ibuku dari adik-adikku. Aku tak pernah menyangka sama sekali. 


Kau merampas ingatan ibuku, kau merampas kekuatan ibuku. Kau merampas kenangan ibuku tentang aku.

Lalu akan ada berapa banyak korban lagi? 

Akan ada berapa banyak orang lagi yang kau jangkiti di dunia ini?. Tumor yang setiap saat siap merenggut nyawa korbanmu. Beritahu penawar ampuhmu. Beritahu!!!


Namun, kali ini akan ku lapangkan dadaku seluas-luasnya. Karena Ibuku yang mengajarkanku tentang penerimaan, tentang kesabaran, tentang ketabahan, dan tentang keikhlasan, hingga aku begitu mempercayai takdir. 

"Keputusan Allah 100% terbaik untuk hamba-Nya" 

Maka aku percaya ini demi kebaikanmu, kebaikanku, kebaikan adik-adikku, dan kebaikan Bapak. 
Tenanglah ibu, aku percaya Allah menyayangimu melebihi sayang kami padamu. Allah menjagamu lebih baik dari penjagaan kami. 




Ruang Sunyi, Selasa 14 Juni 2016 
(tepat 3 minggu kepergian Ibu)





Jumat, 10 Juni 2016

Tentang koma dan titik

Izinkan,

Izinkan aku menulis tentangmu

tentang rasa yang ku tujukan padamu

Izinkan.


Bisakah,

Bisakah kau menulis tentangku 

Tentang rindu yang kau tujukan padaku

Bisakah.


Agar aku bisa membacamu 

agar aku bisa tahu tentangmu

Agar kamu bisa membacaku 

Agar kamu bisa tahu tentangku


Jika kelak kau tak bisa membaca tulisanku

Maafkan dan ajarilah aku

Bagaimana menulis A dan B 

Bagaimana menuliskan koma dan titik


Jika kelak aku pun tak bisa membaca tulisanmu

Diktekanlah saja padaku 

Bagaimana membaca A dan B

Bagaimana membaca koma dan titik


Bisa kan?

Senin, 06 Juni 2016

Kata (maaf) yang tak sempat terucap


Siang itu matahari begitu terik, radiasi kalornya begitu terasa meski atap sekolah menjadi peneduhnya. Entah mengapa siang itu terasa begitu memilukan bagiku. Dadaku sesak tanpa sebab. Selepas jam sekolah berakhir, dengan langkah yang berat aku pulang ke rumah.

Seperti rutinitas biasanya, aku memasak makan siang untuk aku dan 3 teman SM3T lainnya. Melihat terong yang ada di atas meja, mungkin Irvan (teman sepenempatan SM3T) telah memetiknya dari lahan kebun kami, tiba-tiba saja aku merindukan Ibuku. Ibu sangat menyukai sayur terong bakar dengan air asam pedas. Kali ini aku memasak masakan terong seperti buatan Ibu. Saat aku mencicipinya, ada haru yang begitu dalam ku rasa. Ah..mungkin rinduku telah begitu dalam.

Setelah makan siang, aku membantu Bulan memeriksa soal ulangan semester siswanya. Tiba-tiba Afdhal (kordinator) mengunjungi rumah kami. Afdhal berangkat langsung dari kota menuju kampung Sara menggunakan speedboat bersama bapak Leo (orang dinas). 
Mulanya kami berpikir kedatangan afdhal merupakan kunjungan seperti biasanya ke tempat penempatan SM3T. Sekedar berkunjung saja. Atau kedatangan Afdhal mengabarkan bahwa penarikan akan di percepat, dugaanku. Maklum tempat kami sinyalnya susah jadi informasi penting harus langsung di sampaikan seperti ini. 
Namun, ketika Afdhal datang. Dia langsung mencariku. Memintaku duduk dan menenangkan diri dulu sebelum kabar penting dia sampaikan padaku. Aku bingung, sangat bingung. Mengapa hanya aku yang dihampiri kordinatorku ini. Tiba-tiba aku teringat Ibu ku yang sakit. sebelum Afdhal memberitahuku, aku menayainya duluan dan dia membenarkan. 

"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kapan Afdhal?" 
"Tadi subuh, jam 04.00 WITA" 

Selasa, 24 mei 2016 Ibu dipanggil sama Allah. Langit terasa runtuh saat aku mendengar kabar itu. Aku bingung apa yang harus ku lakukan. Air mata bercucuran tak tertahankan. Ku kendalikan diriku agar aku tidak drop dan pingsan. Aku hanya ingin segera tiba di Makassar. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 15.00 WIT, di Makassar sejam lebih lambat. Ibu telah dikuburkan siang itu ba'da sholat dhuhur. Aku tak sempat melihat wajah Ibu untuk terakhir kalinya. Aku berada di Papua, pulau nan jauh dari tempat dimana ibu berada.

Aku segera berangkat ke kota Bintuni saat itu. Esoknya perjalanan 6 jam jalur darat aku tempuh menuju manokwari. Tiket penerbangan Manokwari-Makassar telah digenggaman. Di atas pesawat, tak henti-hentinya aku menangis. Tak peduli dengan penumpang di sampingku yg mungkin bertanya-tanya dalam hati, aku kenapa. Aku harus mengeluarkan penatku agar aku cukup tangguh saat turun dari pesawat.

Setibanya di bandara aku memeluk mereka yg menjeputku. Empat tetesan air mata ku rasa sudah cukup. Aku tak mau terlihat lemah.
Sesampainya di rumah tanteku menyambut dengan pelukan tangisan, dan aku menyambutnya dengan senyuman yang ku paksakan. Sekali lagi, aku tak mau terlihat lemah. Dengan kekuatan penuh ku langkahkan kakiku menemui Bapak. Ku salimi tangannya dan memeluknya, sebelum air mataku pecah beliau mengingatkan "Boleh menangis asal tidak bersuara, Nak" tetesan air mata berderai saat itu tanpa suara.

Eni memelukku "Ikhlaskan ibu kak" dan aku tak meneteskan air mata lagi saat itu.
Pais yang menyambutku dengan senyum, ku balas ia dengan senyum merekah dan sedikit candaan "Pais tambah gemuk" 

Bapak, Eni, dan Pais tak meneteskan air mata di depanku. Maka aku harus lebih kuat. Hingga setiap ada tamu datang dan mengingatkanku atas kematian ibu, aku hanya menyambutnya dengan senyum ketabahan.

Hingga akhir, aku semakin kesulitan meneteskan air mata. 
Apa yg terjadi padaku?.
Terlalu kuatkah?, atau penyesalanku terlalu besar?, atau aku berusaha menjadi benteng sandaran adik-adikku?.
Atau aku terlalu mempercayai takdir?, atau justru karena rasa sakit yg mendalam?.

Aku meminta adik-adikku menceritakan segala kenangan ibu di detik-detik terakhirnya. Mereka baik-baik saja, selalu ada senyum saat bercerita. Mereka merelakan kepergian ibu dengan begitu ikhlas. Aku salut pada kalian Dik. Jadilah anak sholeh dan sholeha agar kita menjadi sebab amalan ibu yg tidak terputus.

"Allah ku yang Maha baik, izinkan aku bertemu Ibu meski dalam mimpi. Aku ingin menyampaikan setumpuk kata (maaf) padanya. Atau jika tidak, tolong sampaikan pada Ibu ku bahwa aku ingin sekali memeluknya dan bersipuh di hadapnya mengucapkan terima kasih telah merawatku sejak kecil hingga dewasa. Telah banyak nasehat dan pengalaman hidup yang beliau berikan, aku akan terus mengingatnya. Tolong sampaikan ini juga pada Ibuku, Ibu maaf aku tak berada di sisi mu di detik-detik terakhirmu. Maaf aku tak merawatmu di tengah sakitmu. Maaf aku terlalu membuatmu merindukanku. Maaf, maaf, maaf, dan terimakasih telah menjadi Ibuku. Aku mencintaimu"



"Apapun yang terjadi, tetaplah menjadi tangguh Apapun yang terjadi, tetaplah berbuat baik"




Selasa, 18 Agustus 2015

Sederhana


^Sederhana^

Sederhana saja bahagia itu
Cukup dengan melihatmu tersenyum
Sederhana saja tersenyum itu 
Cukup dengan melihatku bahagia
Padamu padaku 
Aku, kamu, kita
#Bahagia1 
#AgustusMenulis SIGiMks