Sabtu, 18 Juni 2016

Taman

      Rerumputan yang hijau dan kursi kayu di tengah tamanmu ini, aku menyukainya. Taman ini indah. Benar, aku dapat berbaring terlentang di atas rumput hijau itu sambil memandang langit. Benar, aku duduk di kursi ini dengan nyaman. Udara di sini pun sejuk, menenangkan. Benar, aku hanya sendiri disini, tak ada orang lain yang ku temui. Di sini sunyi sekali. Benar, di taman ini patah hati ku yang lalu telah terobati, dan benar segala penatku dapat ku curahkan disini. Di tengah terikku, taman ini meneduhkanku. Bagiku, kau lelaki teduh.


       Disini sunyi sekali, tuan. Hanya suara kicauan burung yang dapat ku dengar. Hanya hembusan angin yang dapat ku rasa. Dan di balik pohon rindang, sesekali ku temui tulisan namamu dengan nama seorang wanita. Ahh..aku tak bisa membaca nama wanita itu. Tulisannya telah kau coret-coret. Hingga tak bisa terbaca lagi. Mereka hanya masa lalumu kan?


       Tetapi kenapa disini sunyi sekali tuan?. Bahkan aku tak menemui sosokmu sejak tadi. Aku kesepian. Sejak pagi hingga malam menjelang aku menunggumu, tuan. Di sini sunyi sekali. Aku khawatir. Aku takut. Jangan-jangan kau sudah tak mau menengokku disini lagi. Kau meninggalkan ku sendirian di taman bermain ini. 

      

       Namum kau yang memintaku menunggu disini kan?. Meski kau sibuk di luar sana. Aku akan bertahan disini. Karena taman ini bisa membuatku nyaman. Kau membuatku nyaman, tuan.

       Aku tak salahkan jika aku khawatir padamu?. saat kau bahkan tak menghubungi meski aku menunggu setiap detiknya. Aku hanya takut patah hati lagi, tuan.

       Aku tak salahkan jika aku hanya diam saja?. Aku malu selalu memulai percakapan. Perasaanku ku simpan dalam di dasar sana. Dan aku memilih diam saja karena aku berusaha memahamimu.

       Aku tak salahkan jika aku berusaha saja percaya padamu?. Karena harapanku telah ku letakkan pada Sang pemilik hati. Aku hanya berharap Tuhan menyatukan kita.

       Dan aku tak salahkan jika aku takut ada banyak hati yang lebih baik dari hatiku?. Karena aku bahkan merasa tak pantas bersaing dengan para hati itu. Aku takut kau akan berpaling.

       

       Maka biarkan saja seperti ini. Aku akan menyibukkan diriku untuk segala hal positif. Percaya saja pada hatiku bahwa aku menjaganya. Tapi ku mohon jaga pula hatimu.

Aku selalu bertanya apakah aku tak terlalu jauh. Tapi hatiku mempercayaimu lebih daripada aku.


       Mungkin perlakuan romantis tak pernah ku tunjukkan padamu. Karena tertahankan hingga akad telah menyatukan. Kau tahu prinsipku kan?. Percayalah, dibalik diamku aku memikirkanmu lebih dari apa yg kau pikirkan. 


       Ku harap kaulah jodohku di atas ridha-Nya. Karena bagiku hubungan kita adalah "Cinta segitiga", diantara kita ada Allah. Melalui-Nya aku menyampaikan perasaanku.


Aku ingin bermain di taman ini lebih lama.

Kamis, 16 Juni 2016

Akhir Cerita Dejavu (Dejavu Part-6)


Lelaki Dejavu kembali meyapaku di bulan Juni melalui mimpi. Di mimpi sebelumnya dua tahun yang lalu, ia mengajakku bertemu orang tuanya sembari meminta restu untuk menikahiku (Lihat cerita part-3 Kembali tentang Dejavu). Kembali aku berdebat dengan pemahaman khayalku yang dulu bahwa aku menginginkan setiap mimpi tentang Lelaki Dejavu itu adalah potongan masa depan yang nyasar ke dalai mimpiku. Kali ini aku menolaknya. Mimpi kali ini hanya bunga tidur.

Resepsi pernikahan akan segera dilaksanakan, aku telah berdandan sebagaimana pegantin yang menanti hari H di depan cermin. Melalui pantulan cermin, di belakangku tampak seorang wanita anggun sedang sibuk memperbaiki gaunku. Senyumnya begitu meneduhkan, ia selalu berusaha menenangkanku dari rasa degdegan yang ku alami, dan aku bisa begitu patuh padanya. Dia begitu akrab denganku, karena dia yang mengurusi segala hal tentang persiapan pernikahanku. Tapi wajahnya tak ku kenali dalam kehidupan nyataku. Aku tak pernah bertemu dengannya.

Setelah semua persiapan selesai, aku keluar dari ruang dandan menuju ke ruang akad pernikahan. Namun, mempelai lelaki tak kunjung datang. Hatiku bergmuruh, khawatir. Kembali wanita anggun tadi menggenggam tanganku, menenangkan. Aku tersenyum padanya dan memulai mengambil napas panjang. Segera ku ambil ponselku untuk segera menghubunginya. Lama tak diangkat. Aku hampir saja menyerah. Semua tamu pun ikut khawatir. Kali ini, aku yang memegang erat tangan wanita anggun itu, untukku mencari perlindungan diri.  

Setelah beberapa menit akhirnya mempelai lelaki menelpon wanita anggun tadi mengatakan bahwa ia sedang di jalan. Ada urusan mendadak yang sedang dia urus terlebih dahulu sebelum datang ke resepsi pernikahan. Kemudian melalui wanita itu, aku diberitahu. Ku rasa aku paham sekarang, wanita anggun itu adalah teman akrab mempelai lelaki. Melaluinya, ia menceritakan semuanya.

Setelah beberapa menit, akhirnya mempelai lelaki tiba. Ada sedikit ragu ku temui melalui tatapannya padaku. Ku temui banyak kekhawatiran disana. Namun aku tak sempat bertanya. Wanita anggun itu menghampirinya dengan begitu bersemangat. Memberi tahu mempelai lelaki bahwa mempelai perempuan telah siap. Tatapannya pada wanita itu begitu meneduhkan. Saat itu ku rasakan perassan tersakiti wanita itu. Aku paham sekarang.

Sebelum akad dimulai, ku minta pada wanita anggun itu untuk berbicara bertiga dengannya dan dengan mempelai lelaki. Dengan hati yang ku tabahkan, aku mencurahkan hal-hal yang baru saja ku temui barusan. Tentang perasaan mempelai lelaki sebenarnya, tentang penerimaan wanita anggun itu atas keputusan dilaksanakannya pernikahanku ini dengan lelaki itu. Lelaki yang sangat ia cintai, lelaki yang memilihku untuk dia nikahi. Namun pada akhirnya, mempelai lelaki paham pada siapa sebenarnya cintanya dia harus titipkan. Pada siapa sebenarnya tatapannya bisa begitu teduh saat menatap salah satu dari kami.  Pada siapa seharusnya dia nikahi hari ini. Dan itu bukanlah aku.

Siang itu, pernikhan tetap berlangsung. Mempelai lelaki telah duduk di depan bapak penghulu. Di sampingnya, telah duduk juga seorang wanita. Ya, wanita anggun tadi telah menjadi mempelai wanita. Wanita yang dengan semangat penerimaanya mengurus segala resepsi yang seharusnya untuk aku dan kini telah menjadi resepsi pernikahannya. Dengan air mata berderai, wanita anggun itu menatapku yang berdiri di pojok ruangan.  Entahah, diantara kami bertiga perasaan siapa yang lebih tersakiti.

“Saat hubungan kekasih berakhir, apakah hanya satu pihak yang tersakiti?.
Seseorang yang tak bisa memberi tahu siapapun, telah meyakiti dirinya sendiri.
Seseorang yang bahkan tidak tahu apakah dia juga terluka, akhirnya akan menyadarinya.
Bahkan seseorang yang mengabaikan sakit itu, bahkan lebih terluka”

Untung saja ini hanya mimpi. Mimpi pada lelaki Dejavu yang selama ini selalu hadir di mimpi-mimpiku di setiap mendekati Bulan September. Mimpi Dejavu yang kurasa saling berhubungan. 

Selasa, 14 Juni 2016

Dan Kau Bernama Tumor

Sampai detik ini saya masih berharap saya sedang bermimpi buruk. Mimpi yang sangat panjang, dan belum saatnya saya terbangun. Ini sifat manusiawi ketika kenyataan belum bisa diterima sepenuhnya. Ah..egois sekali. 


Setiap sudut ruangan, masih ku temui bayangannya. Di setiap lakuku, ku rasakan pengawasannya. Aku masih merasakan sosok beliau di tengah-tengah keluarga kami. Aku masih belum percaya. Namun lagi-lagi kenyataan membentakku 

"Hei sadar, Ibumu telah tiada!" 

bentakan itu menyadarkanku kini bahwa aku sedang tidak bermimpi. 

Kini, akulah pengganti sosok ibu untuk keluarga. Aku sungguh belum siap. 


Aku tak pernah menyangka akan terpisah dengannya di usia yang terlalu dini ini. Aku ingin marah. Tapi aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa. aku hanya ingin marah saja. Aku ingin berteriak. Tapi aku tak tahu pada siapa tujuan teriakkanku ini. Maka Aku hanya bisa marah padamu saja. Sebongkah daging yang bersarang di kepala ibuku, dan kau bernama tumor. Kau adalah sosok pemisah kami. Bisakah aku menyalahkanmu saja atas apa yang terjadi pada Ibuku?


Aku tak menyangka mengapa kau terlalu sering menyebabkan kematian seseorang. Adik Ovan dan Ibu Sulminah adalah korbanmu juga kan? 

Seorang anak kecil yang kau rampas dari Ibunya. Seorang Istri yang kau rampas dari suaminya. Mereka dulu pernah ku awasi hingga di detik-detik terakhirnya. Dan semua menyisakan kepahitan. 

Tetapi aku tak pernah menyangka sama sekali, tak pernah sungguh. Bahwa kau juga telah bersarang di kepala Ibuku, bahwa kau akan merampas Ibuku dari aku, bahwa kau akan merampas Ibuku dari adik-adikku. Aku tak pernah menyangka sama sekali. 


Kau merampas ingatan ibuku, kau merampas kekuatan ibuku. Kau merampas kenangan ibuku tentang aku.

Lalu akan ada berapa banyak korban lagi? 

Akan ada berapa banyak orang lagi yang kau jangkiti di dunia ini?. Tumor yang setiap saat siap merenggut nyawa korbanmu. Beritahu penawar ampuhmu. Beritahu!!!


Namun, kali ini akan ku lapangkan dadaku seluas-luasnya. Karena Ibuku yang mengajarkanku tentang penerimaan, tentang kesabaran, tentang ketabahan, dan tentang keikhlasan, hingga aku begitu mempercayai takdir. 

"Keputusan Allah 100% terbaik untuk hamba-Nya" 

Maka aku percaya ini demi kebaikanmu, kebaikanku, kebaikan adik-adikku, dan kebaikan Bapak. 
Tenanglah ibu, aku percaya Allah menyayangimu melebihi sayang kami padamu. Allah menjagamu lebih baik dari penjagaan kami. 




Ruang Sunyi, Selasa 14 Juni 2016 
(tepat 3 minggu kepergian Ibu)





Jumat, 10 Juni 2016

Tentang koma dan titik

Izinkan,

Izinkan aku menulis tentangmu

tentang rasa yang ku tujukan padamu

Izinkan.


Bisakah,

Bisakah kau menulis tentangku 

Tentang rindu yang kau tujukan padaku

Bisakah.


Agar aku bisa membacamu 

agar aku bisa tahu tentangmu

Agar kamu bisa membacaku 

Agar kamu bisa tahu tentangku


Jika kelak kau tak bisa membaca tulisanku

Maafkan dan ajarilah aku

Bagaimana menulis A dan B 

Bagaimana menuliskan koma dan titik


Jika kelak aku pun tak bisa membaca tulisanmu

Diktekanlah saja padaku 

Bagaimana membaca A dan B

Bagaimana membaca koma dan titik


Bisa kan?

Senin, 06 Juni 2016

Kata (maaf) yang tak sempat terucap


Siang itu matahari begitu terik, radiasi kalornya begitu terasa meski atap sekolah menjadi peneduhnya. Entah mengapa siang itu terasa begitu memilukan bagiku. Dadaku sesak tanpa sebab. Selepas jam sekolah berakhir, dengan langkah yang berat aku pulang ke rumah.

Seperti rutinitas biasanya, aku memasak makan siang untuk aku dan 3 teman SM3T lainnya. Melihat terong yang ada di atas meja, mungkin Irvan (teman sepenempatan SM3T) telah memetiknya dari lahan kebun kami, tiba-tiba saja aku merindukan Ibuku. Ibu sangat menyukai sayur terong bakar dengan air asam pedas. Kali ini aku memasak masakan terong seperti buatan Ibu. Saat aku mencicipinya, ada haru yang begitu dalam ku rasa. Ah..mungkin rinduku telah begitu dalam.

Setelah makan siang, aku membantu Bulan memeriksa soal ulangan semester siswanya. Tiba-tiba Afdhal (kordinator) mengunjungi rumah kami. Afdhal berangkat langsung dari kota menuju kampung Sara menggunakan speedboat bersama bapak Leo (orang dinas). 
Mulanya kami berpikir kedatangan afdhal merupakan kunjungan seperti biasanya ke tempat penempatan SM3T. Sekedar berkunjung saja. Atau kedatangan Afdhal mengabarkan bahwa penarikan akan di percepat, dugaanku. Maklum tempat kami sinyalnya susah jadi informasi penting harus langsung di sampaikan seperti ini. 
Namun, ketika Afdhal datang. Dia langsung mencariku. Memintaku duduk dan menenangkan diri dulu sebelum kabar penting dia sampaikan padaku. Aku bingung, sangat bingung. Mengapa hanya aku yang dihampiri kordinatorku ini. Tiba-tiba aku teringat Ibu ku yang sakit. sebelum Afdhal memberitahuku, aku menayainya duluan dan dia membenarkan. 

"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kapan Afdhal?" 
"Tadi subuh, jam 04.00 WITA" 

Selasa, 24 mei 2016 Ibu dipanggil sama Allah. Langit terasa runtuh saat aku mendengar kabar itu. Aku bingung apa yang harus ku lakukan. Air mata bercucuran tak tertahankan. Ku kendalikan diriku agar aku tidak drop dan pingsan. Aku hanya ingin segera tiba di Makassar. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 15.00 WIT, di Makassar sejam lebih lambat. Ibu telah dikuburkan siang itu ba'da sholat dhuhur. Aku tak sempat melihat wajah Ibu untuk terakhir kalinya. Aku berada di Papua, pulau nan jauh dari tempat dimana ibu berada.

Aku segera berangkat ke kota Bintuni saat itu. Esoknya perjalanan 6 jam jalur darat aku tempuh menuju manokwari. Tiket penerbangan Manokwari-Makassar telah digenggaman. Di atas pesawat, tak henti-hentinya aku menangis. Tak peduli dengan penumpang di sampingku yg mungkin bertanya-tanya dalam hati, aku kenapa. Aku harus mengeluarkan penatku agar aku cukup tangguh saat turun dari pesawat.

Setibanya di bandara aku memeluk mereka yg menjeputku. Empat tetesan air mata ku rasa sudah cukup. Aku tak mau terlihat lemah.
Sesampainya di rumah tanteku menyambut dengan pelukan tangisan, dan aku menyambutnya dengan senyuman yang ku paksakan. Sekali lagi, aku tak mau terlihat lemah. Dengan kekuatan penuh ku langkahkan kakiku menemui Bapak. Ku salimi tangannya dan memeluknya, sebelum air mataku pecah beliau mengingatkan "Boleh menangis asal tidak bersuara, Nak" tetesan air mata berderai saat itu tanpa suara.

Eni memelukku "Ikhlaskan ibu kak" dan aku tak meneteskan air mata lagi saat itu.
Pais yang menyambutku dengan senyum, ku balas ia dengan senyum merekah dan sedikit candaan "Pais tambah gemuk" 

Bapak, Eni, dan Pais tak meneteskan air mata di depanku. Maka aku harus lebih kuat. Hingga setiap ada tamu datang dan mengingatkanku atas kematian ibu, aku hanya menyambutnya dengan senyum ketabahan.

Hingga akhir, aku semakin kesulitan meneteskan air mata. 
Apa yg terjadi padaku?.
Terlalu kuatkah?, atau penyesalanku terlalu besar?, atau aku berusaha menjadi benteng sandaran adik-adikku?.
Atau aku terlalu mempercayai takdir?, atau justru karena rasa sakit yg mendalam?.

Aku meminta adik-adikku menceritakan segala kenangan ibu di detik-detik terakhirnya. Mereka baik-baik saja, selalu ada senyum saat bercerita. Mereka merelakan kepergian ibu dengan begitu ikhlas. Aku salut pada kalian Dik. Jadilah anak sholeh dan sholeha agar kita menjadi sebab amalan ibu yg tidak terputus.

"Allah ku yang Maha baik, izinkan aku bertemu Ibu meski dalam mimpi. Aku ingin menyampaikan setumpuk kata (maaf) padanya. Atau jika tidak, tolong sampaikan pada Ibu ku bahwa aku ingin sekali memeluknya dan bersipuh di hadapnya mengucapkan terima kasih telah merawatku sejak kecil hingga dewasa. Telah banyak nasehat dan pengalaman hidup yang beliau berikan, aku akan terus mengingatnya. Tolong sampaikan ini juga pada Ibuku, Ibu maaf aku tak berada di sisi mu di detik-detik terakhirmu. Maaf aku tak merawatmu di tengah sakitmu. Maaf aku terlalu membuatmu merindukanku. Maaf, maaf, maaf, dan terimakasih telah menjadi Ibuku. Aku mencintaimu"



"Apapun yang terjadi, tetaplah menjadi tangguh Apapun yang terjadi, tetaplah berbuat baik"




Selasa, 18 Agustus 2015

Sederhana


^Sederhana^

Sederhana saja bahagia itu
Cukup dengan melihatmu tersenyum
Sederhana saja tersenyum itu 
Cukup dengan melihatku bahagia
Padamu padaku 
Aku, kamu, kita
#Bahagia1 
#AgustusMenulis SIGiMks

Minggu, 09 Agustus 2015

#keluarga3 #AgustusMenulis SIGiMakassar


"Bolehkah? Bisakah?"

                      Bisakah
                     Bolehkah
     Aku meminta 1 permintaan ?
Kmbalilah sperti dulu, ya dulu sekali
       Saat aku masih kanak-kanak
                Aku tak tangguh
                      Berjalan
                       sendiri
                         Atau
                     Jika tidak
             Bisakah kau bersinar
       Agar ada penerang jalanku
                         Atau
                      Jika tidak
          Biarkan aku dalam gelap
Agr aku tetap mlihatmu walau redup
                        Bolehkah
          Aku meminta 1 permintaan?
                        Bisakah
              Kau wujudkan pintaku?
#keluarga2 #AgustusMenulis SIGiMakassar
"Akan ku jaga rindumu untuknya"

Dia rindu saat-saat kau segera menghampirinya saat dia tiba di rumah dgn wajah masam. Menceritakan segala hal yg trjadi padanya seharian padamu. Hingga kau memberi nasihat2 bijak.
Dia rindu saat kalian bersama-sama  di dapur, membimbing memasak dan sesekali menertawakanya dengan wajah gemasmu ketika dia melakukan kesalahan.
Dulu aku dan dia selalu melakukan kebiasaan yg sama padamu. ya, kami sangat menyayangimu.
Namun ketika segala hal menimpamu, dia kelimpungan, berusaha tetap menjadi dirinya yang manja padamu, berusaha tabah seolah tak trjadi apa-apa pada kita. Dia melakukan segala hal sendiri. Termasuk mengurusiku. Hingga aku memanggilnya ibu peri. Sebutan yang lucu untuknya ketika dia mengabulkan segala hal yang ku minta.
Kau tahu tidak? Dia sangat merindukan mu, begitupun aku..
aku pun rindu pada tawa lepasnya yang kini tak pernah dia tampakkan lagi. Hanya senyum ketabahan yg sering dia lontarkan padaku ketika akupun mengatakan rindu padamu.
Kini dia tak bisa menjadi ibu peri lagi bagiku. Dan aku??
Pada siapa lagi aku harus berbagi tugas rumah?
Pada siapa lagi aku harus mengatakan rindu padanya?
Pada siapa lahi aku bersandar ketika segala hal tentangnya begitu menyesakkanku?
Bagaimana pun, aku tahu disana dia pasti akan semakin rindu padamu. Tenanglah akan ku jaga rindumu untuknya, dibalik rinduku.
Kelak jika kau puang, beritahu aku bagaimana caramu mengolah rindu. Dan akupun akan beritahu bagaimana caraku menjaga rindu..
Makassar, 9 Agustus 2015
#keluarga1 #AgustusMenulis SIGiMakassar

Katanya "Rumahku surgaku"
Iya, aku tahu itu
Dulu setiap aku jauh, walau sejam
Aku ingin segera pulang
Dulu setiap aku dirumah, rasanya tak ingin beranjak jauh
Ingin tetap disini saja bersama
Ya mereka yang ku sebut keluarga

Katanya "Rumahku surgaku"
Iya, aku tahu itu
Mungkin surga seperti rumahku
Merasa damai walau bangunanya sderhana
Hati kami sejuk walau cuaca panas
Melihat senyuman mereka
Ya mereka yang ku sebut keluarga

Katanya "Rumahku surgaku"
Iya, aku tahu itu
Entah sejak kapan semua brubah
Yang tinggal hanya kepura-puraan
Menganggap rumah masih aman
Bagiku tidak

Katanya "Rumahku surgaku"
Iya, aku tahu itu
Lalu kini masikah "Rumahku surgaku"  ???

Kamis, 16 Juli 2015

Ruang Redup

Biarkan aku dalam gelap 
Agar seredup apapun dirimu 
Kau tetap menjadi penerangku
Karena aku tak mau menyalahkan redupmu...

Terangi aku dalam gelap
Agar redupmu tetap berarti
Kau mampu menjadi penerangku
Dan akan tetap menjadi penerangku... 

Jika kau tak membiarkanku gelap
Kembalilah menjadi terang
Agar aku tetap berjalan di jalan yg semestinya

Tetaplah menjadi wanita tangguh untukku

***
Biarkan aku dalam gelap 
Agar seredup apapun dirimu 
Kau tetap menjadi penerangku
Karena aku tak mau menyalahkan redupmu...

Jika kau tak membiarkanku gelap
Kembalilah menjadi terang
Agar aku tetap berjalan di jalan yg semestinya

Tetaplah menjadi wanita tangguh untukku, Ibu ...

Tetaplah menjadi wanita tangguh untukku...





Sungguminasa, 14 Juli 2015

Selasa, 09 Juni 2015

Pertemuan (doa) kita

Aku mengabarkan langit
Melalu kiriman doa setiap detik
Tentang rasa yg ku jaga kehormatannya

Ya, kita tak perlu banyak berbincang
Ku harap kau memahaminya
Karena doa-doa kita bertemu di langit kan??











"Seperti gerimis|aku jatuh hati|perlahan-lahan"









Selasa, 02 Juni 2015

Tetaplah menjadi kuat

Sepulang kerja saat langit mulai menampakkan kegelapannya, malam telah mengabarkan kesunyiannya. Setelah meniti terik seharian, meneteskan keringat kala terik menganga, Retno menuju rumah tempatnya ia menimbun harapan, tempat dimana ia mengukir asa tentang kehidupan di masa depan, bersama ibu, ayah dan adik-adiknya. Retno adalah anak sulung dan karena tuntutan itulah, ia harus bekerja hingga selarut itu. Adiknya Rani yang kini duduk di bangku kuliah pun, telah melakukan kerja paruh waktu.
Entah saking sibuknya dengan dunianya sendiri, pergi pagi dan pulang malam. Ia lupa bahwa ada banyak hal-hal penting di rumah yang ia lewatkan. Termasuk kabar hati ibunya. Yang sejak setahun terakhir ini terluka. Seperti itukah patah hati yang sebenarnya?. Hingga harapan yang ia pertahankan, telah pupus oleh kekecewaan dan kekacauan yang ditimbulkan seseorang padanya, dan karena waktu pula lah yang tak kunjung memberikannya solusi. Hingga bahkan untuk mengurusi dirinya sendiri, ia tak peduli lagi. Kami pun tak dihiraukannya lagi.
Malam itu ia dapati rani menangis di kamarnya, terisak pelan, berusaha menanhan tangis agar suara tangisnya tak di dengar oleh orang rumah. Saat Retno tanyakan mengapa, rupanya ia baru saja mendengar dari seorang tetangga bahwa orang-orang sekompleks rumah rupanya sering menceritakan mereka. Entah mereka berbicara apa, yang sedikit Rani tangkap yakni mereka mengatakan bahwa ibunya kini telah berubah dari yang mereka kenal, bahkan akan depresi. Ahhh… seolah tersengat listrik ribuan volt dan tenggelam dalam lautan saja mendengar kabar itu. Sesak. Retno kesulitan bernapas menyadari akan hal itu. Ia yang selama ini merasa baik-baik saja dengan keadaan keluarganya, rupanya sangat berbeda dengan apa yang dirasakan orang lain. Rupanya perasaannya selama ini hanya ilusi, dampak dari menghibur dirinya sendiri dan menjauhi pikiran-pikiran negatif tentang segala kemungkinan terburuk. Jika demikian, rupanya ia merasa sangat tak berdaya. Merasa bahwa yang bersalah adalah dirinya, mengapa terlalu mengabaikan kekacauan yang terjadi. Tak berusaha melakukan sesuatu untuk memperbaiki semuanya. Sebagai ana sulung, itu memang tugasnya kan?
Sontak malam itu, ia menemui ibunya yang tertidur lelap di kamarnya. Retno menggenggam tangannya, masih berasa hangat tangan itu. Ya sisa-sisa untaian kasih sayang yang terpatri dari tangan itu masih ada. Retno tatapi lamat-lamat wajah ibunya, ya ada keteduhan disana. Wajah teduh seorang ibu yang ia sangat rindukan. Namun ada banyak goresan kesedihan disana, terukir. Tersimpan sendiri hingga menutupi cahaya keibuannya kini. Wajah teduh itu tak tampak lagi, wajah itu menggambarkan suasana hati yang telah terluka parah kini. Ahhh… tiba-tiba ada tetesan air mata yang jatuh, terisak. Ya Retno memeluk lengan ibunya dengan erat. Dan tangan kanannya menutup mulutnya sendiri, takut kalau saja tangisnya itu membangunkan ibunya dari lelap tidurnya malam ituDalam jeda tangisnya, Retno berbisik “Tetaplah menjadi kuat Ibu. Kamu tidak sendiri,ada kami disini yang menyayangi mu, ceritakanlah kekecewaanmu. Jangan memendamnya sendiri" 
"ya, tetaplah menjadi kuat"


Sabtu, 30 Mei 2015

Tak pernah tahu

Kau tak pernah tahu
Bagaimana orang2 seperti kami harus menahan rasa sesak
Bagaimana kami berusaha menjadi sebanding dengan orang normal lainnya
Kau tak pernah tahu kan?
Bagimana kami berpura-pura mengatakan semuanya baik2 saja
Bagaimana kami harus selalu berusaha tegar dihadapan orang lain

Kau tak pernah tahu
Bagimana rasanya jika rasa minder tiba2 muncul
Mengusik ketenangan dan mengatakan bahwa kau akan terasingkan
Kau tak pernah tahu kan ?
Bagaimana rasanya menahan rasa sakit
Bagaimana rasanya  melawan rasa kecemasan yang berlebihan

Maka pahami sajalah …
Apa yang telah kami lakukan
dan apa yang ingin kami lakukan…

Karena kau tak pernah tahu bagaimana jika menjadi kami !

Rabu, 20 Mei 2015

Raga kalian disini, tapi jiwa kalian tidak.
Pulanglah..
Kami mohon.
Kami rindu..

Kamis, 07 Mei 2015

Perjalanan Menuju Puncak Bawakaraeng



Hidup lebih sulit dari ini
Perjalanan dunia lebih jauh dari ini
Tantangan lebih berat dari ini
Jika dibandingkan dengan kehidupan
Perjalan kali ini hanya beberapa persen saja
Tetapi  kita dapat mengambil pelajaran darinya
Mari renungkan !!!



Di awal perjalanan

Kau butuh keberanian untuk memulai pendakian. Akan banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang kau ciptakan sendiri. Dan itu kebanyakan palsu. Berlebihan saja, karena kenyataannya tidak sesuai dengan kekhwatiran mu di awal. Itu hanya wujud ketidak percayaan dirimu saja. Seperti halnya kehidupan, ketika akan mengambil sebuah langkah untuk sebuah pencapaian, kau selalu punya kekhawatiran yang berlebih. Jalani sajalah, mulailah dari langkah awal, selangkah demi selangkah hingga mencapai akhir.

“Kita tidak akan menemukan Takdir, ketika belum mencoba”

Gambar 1. Memulai perjalanan


Di perjalanan menuju puncak

Jatuh berkali-kali itu bukan masalah buatmu, asal kamu bisa bangkit dan melangkah kembali, mesti tertatih. Hanya butuh pegangan untuk kau topangi saat kau akan berdiri dari jatuhmu. Ranting-ranting pohon misalnya, bebatuan di dekatmu, atau seseorang yang di belakangmu memperhatikanmu berjalan, dan siap dimintai pertolongan kapan pun. Seperti halnya kehidupan, kau akan sering terjatuh beberapa kali, tidak penting seberapa kali kamu terjatuh, asal kamu bisa bangkit dan tersenyum kembali. Bukan pura-pura tegar. Dan kau akan semakin kuat jika ada orang-orang hebat bersama mu. Itulah perlunya kebersamaan.

Tidak semua pendaki jatuh di tempat jatuh yang sama. Hanya beberapa saja. Dan di tempat jatuh itu, tidak membuat orang lain jatuh dengan keadaan yang sama bukan? Kau tahu kenapa? Karena setiap orang punya pertahanan masing-masing. Punya kekuatan yang berbeda, dan kekuatan itu selalu sebanding dengan rintangan yg diperolehnya. Seperti halnya kehidupan. Tuhan tidak akan membebani hambanya di luar batas kemampuannya. Kau dipercaya bahwa kau mampu melewatinya.

Dan mengeluh selama perjalanan itu takkan membuahkan hasil apa-apa. Bahkan hanya membuat langkahmu semakin berat. Berilah harapan-harapan di setiap langkah kecilmu selama perjalanan, itu akan sangat membantu. Seperti itulah kehidupan. Itulah sebabnya aku paham sekarang, begitu banyak petuah-petuah yang mengajarkan untuk tidak mengeluh. Rupanya seperti itu.

“Berjalan sajalah. Karena jika kau berhenti, hanya akan memperlambat pencapaian tujuanmu”

Gambar 2. Menuju Puncak




Di puncak Pendakian

Kau harus tahu rasanya sampai di puncak. Ketika telah sampai pada tujuan, segala keluh mu di perjalanan akan terbayar.  Jika ilmu perdagangan dianalogikan disini, kau akan mendapatkan banyak persentase keuntungan. Alam membeli jerih payahmu dengan harga yang lebih besar dari yang kau tawarkan. Seperti halnya kehidupan. Dari sini kau bisa belajar tentang kesyukuran bukan? Bagaimana Tuhan menyediakan hal yang lebih besar daripada apa yang kita inginkan. Semuanya terbayar, bahkan lebih. 

“Akan selalu ada balasan untuk setiap jerih payah yang diikhlaskan. Tidak ada yang sia-sia. Percayalah”



Gambar 3. Puncak Gunung Bawakaraeng


Di perjalanan pulang

Ada banyak cerita, ada banyak pengalaman yang akan kau bawa pulang. Untuk segera kau bagi, agar banyak orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari perjalanan mu, atau bahkan ingin ikut menapaki langkahmu dan mengikuti jejakmu. Langkahmu akan semakin pasti menuju pulang karena kau telah meninggalkan rumah terlalu lama, hingga kau tahu bagaimana rasanya rindu rumah, agar ketika di rumah kau dapat selalu bersyukur telah memiliki tempat yang teduh untuk mu beristirahat di setiap lelahmu dalam perjalanan. Seperti halnya kehidupan. Kau harus tahu kemana tempatmu pulang, tempatmu bercerita dan berteduh menemukan ketenangan.

“Karena dengan melakukan perjalanan, kau akan tahu bagaimana rasanya rindu Rumah” 

Gambar 4. Rindu Rumah

Jika kau belum memahaminya dalam perjalanan hidupmu,
Cobalah di jalan pendakian.
Kamu akan memahami banyak hal.
Dan mereka semua saling berkaitan.
Kau hanya butuh merenung untuk menghubungkannya.


Silahkan mencobanya :)

Minggu, 26 April 2015

Maaf atas maaf yg tak pernah ku ucap,
Karena trhalang oleh ketidakterimaanku atas sikapmu..
Terimakasih atas terimakasih yg selalu sempat kau katakan,
karena aku trlahir sebagai anakmu dan begitu mengerti..

Cahaya mu kini redup,
Jauh berbeda dari sosokmu dulu yg aq kagumi.
Dan aku slalu berusaha ingin memandangmu dr sudut yg gelap,
agar bagaimana pun kamu tetap bercahaya.
Namun ketiadaan cahaya itu membuatku benci.

Aku tak pantas, sungguh sangat tak pantas membencimu,
Dan aku selalu menepis kebencian itu.
Hingga aku tersadar ketika luka telah bernanah,
Sungguh luka itu seharusnya tak ada..
dan aku tak pernah menyadari lukaku,
Kau tahu kenapa?
Krn rasa sayangku lebih besar daripada kekecewaanku.
Karena aku mencintaimu tanpa syarat..

Jumat, 24 April 2015

Pelita Semesta

Jauh…
Jauh membentang
Seperti semesta
Tak ku temukan tepinya

Gelap…
Gelap terpampang
Seperti angkasa
Tak ku temukan pelita

Seperti itulah
Seperti mimpi teramat jauh
Seperti inilah
Seperti angan tanpa pelita

Namun harap akan tetap berjuang
Berlari mengejar tepinya
Memotivasi sebagai pelita

Karena mimpi takkan pernah padam

Selasa, 21 April 2015

Hatiku sudah ku tutup dan kuncinya ku buang ke langit. Jika kamu ingin, mintalah pada Allah..

Kamu tahu kan caranya meminta??? ;)

Rabu, 15 April 2015

Kembali tentang Dejavu (Dejavu Part-3)

Masih ingat kan dengan tulisan saya di blog ini beberapa bulan yang lalu, yang judulnya "detik detak Dejavu", sebenarnya cerita tentang Dejavu ada beberapa Part. Detik detak Dejavu itu adalah part ke-5, part ke-1 nya berjudul "Dejavu September",  tapi kali ini saya akan menyimpan cerita Dejavu Part-3 nya yang berjudul "Kembali tentang Dejavu" di blog ini...
oya semua tulisan  tentang Dejavu ini bermula dari niatan saya beberapa tahun lalu untuk mengikuti lomba menulis cerpen mengenai Bulan September, nah disitu saya bermula terinspirasi menulis tentang kisah Dejavu, hingga menjadi beberapa Part...


Kembali tentang DEJAVU

Mentari pagi kembali menyapaku dalam radiasi kalornya, menghangatkan jiwa yang telah membeku oleh rutinitas sehari-hari. Setiap detik pagi yang ku lalui menjadi momen berharga yang ku nikmati dan bagi setiap jiwa-jiwa perindu surga. Terlalu banyak hal yang menarik untuk dirangkaikan dalam barisan diary hatiku. Termasuk malam tadi, semua penat hati seharian telah ku rangkaikan dalam tumpukan kertas bersampul hijau dengan sketsa gambar capung hiasannya.  Yah, beginilah para pengagum waktu menjadikan setiap detiknya tak terlewatkan untuk diabadikan dalam rangkaian kata terikat dalam diary.
Suara ibu mengagetkanku yang sejak tadi terpaku di teras rumah merasakan kesejukan pagi.
“Aurora …… masuk nak, sarapan dulu” (teriak ibu dari ruang makan)
“iya ibu, 5 menit lagi. Sayang nih vitamin D nya kalo tak dimanfaatkan”.
Beginilah setiap pagi ku lakukan, menikmati sinar matahari pagi di teras rumah. vitamin D dari matahari, yah begitulah aku menyebutnya.
               
***
Kembali aku mengingat kejadian tadi malam, ya mimpi dejavu yang kini berulang lagi. Beberapa lama aku termenung dan berpikir bulan September kah ini, dan setelah aku berpikir ternyata ini bulan Juli. Aneh memang, hanya untuk menyingkirkan pikiranku tentang dejavu September, aku harus membutuhkan waktu bermenit-menit untuk berdebat dengan kenyataan bahwa hari ini memang bulan Juli, ya bulan Juli bukan September.
Semalam entah mengapa mimpi tentangnya kembali berulang, tak hanya terlihat samar-samar melainkan begitu nyata, bahkan tempat dan hari keberadaanku dalam mimpi pun tersketsa jelas dalam mimpi kali ini. Ya dugaan kalian benar, pria dejavu itu lagi. Sampai sekarang aku masih bingung, mimpi apa ini lagi, karena semalam aku bermimpi berada di rumahnya bersama kedua orang tuanya dan berbicara tentang pernikahan (wahh,,, mimpinya terlalu sakral ya),  aku berdebat dengan pemahaman khayalanku yang berasumsi bahwa ini adalah potongan kehidupan di masa akan datang yang memang nyasar ke dalam mimpiku ataukah ini adalah kabar gembira atas penantian ku mengharapkan jodoh yang kelak akan menemuiku, semua berada dalam barisan pertanyaan konyolku yang terangkai otomatis dalam pikiranku.
Seperti biasanya, pemahaman kenyataan selalu mengatakan bahwa ini hanyalah bunga tidur yang sering dimimpikan oleh sisapa pun. Namun bagiku ini berbeda, pemahaman khayalanku kembali menolaknya. Ini adalah benar tanda Tuhan yang dia kirimkan melalui mimpi bahwa benar jodohmu adalah dia.
Aku tersadar kembali dari beberapa menit lamunanku,yang sibuk mencari-cari pembenaran tentang mimpiku. Aku mematikan mesin motor yang sedang ku panaskan sejak tadi, (hehehehe,,, andai masakan pasti sudah hangus ya). Ku keluarkan motorku dari bagasi segera dan bergegas menuju kampus untuk melanjutkan rutinitas kembali, menyelami kehidupan nyata. 
“Ibu, Aurora berangkat ke kampus dulu “ (menuju ibu untuk memberi salam)
“iya nak, hati-hati di jalan” (kata ibu sambil menyodorkan tangannya untuk ku ciumi)
“baru mau berangkat kak ? bukannya sudah dari tadi berangkat karena dari tadi itu motor dipanaskan” (adikku menyelutuk protes dari balik jendela pintu kamarnya)
“hehehehe… iya maaf,,,, motrnya tadi kelupaan dimatikan mesinnya” nyengir tidak jelas
“makanya kak, lain kali jangan dipelihara itu melamun tiba-tiba” (adikku menyela)
“hah, tidak kok. Tadi aku bukan melamun, tapi cuman Hmmm,,,,,” berpikir mencari pembelaan
“ apa kak? Tidak dapat alasan ? sudah ngaku saja deh kak, tapi jangan bilang pemikiran khayalan kakak habis berdebat dengan pemikiran kenyataan” (adikku sepertinya tahu kebaiasaanku)

***
Setibanya di kampus, aku langsung menemui Afifa untuk menceritakan mimpiku semalam padanya. 
“Afifa,,,, aku mau cerita, boleh kan?”
“cerita apa lagi ? cerita kalau barusan kamu ketemu pangeran berkuda atau tadi pagi bahkan kamu ditolongin sama dia?”
(ya, seperti inilah Afifa selalu menamakan orang yang kita kagumi sebagai Pangeran berkuda)
“Bukan, ini bukan tentang pangeran berkuda, tapi ini tentang pria dejavu”
“hah,dejavu September muncul lagi ? itukan kejadian sekitar
  Setahun yang lalu, apa mimpinya sama lagi ?” Tanya Afifa penasaran
 “Dengan orang yang sama dengan setahun yang lalu iya, tapi dengan cerita yang berbeda Afifa, bahkan lebih membingungkan dari  mimpi yang dulu”
“iya, bagaimana ceritanya? Cepat cerita, jangan makin buat saya semakin penasaran” desak Afifa padaku
“semalam aku bermimpi berada di rumahnya bersama kedua orang tuanya dan berbicara tentang pernikahan”
“hah, nikah ?” teriak Afifa kaget
“Hussss.,,, jangan keras-keras. Nanti di dengar sama yang lain, nanti orang-orang salah sangka lagi dan mengira saya mau nikah beneran “ protesku pada Afifa
“iya, iya maaf, kan beneran kaget saya. Terus ?”
“Dalam mimpi itu, terlihat sangat jelas semuanya seperti kenyataan Afifa, dan anehnya Pria dejavu itu sempat nangis di depan kedua orang tuanya demi mempertahankan keinginannya untuk nikah sama saya” jelasku
“hahahaha…. Lucu mimpi mu Aurora” Afifa tertawa geli.
“ya, maka dari itu saya menceritakannya padamu Afifa, saya bingung dengan mimpi ini, karena pemahaman khayalanku mengatakan bahwa ini adalah potongan kehidupan di masa akan datang yang nyasar ke dalam mimpiku sebagai tanda dari Tuhan bahwa penantianku tidak sia-sia, tapi pemahaman kenyataan selalu mengatakan bahwa ini hanyalah bunga tidur” aku memelas
“hmmmm….. tunggu dulu, setahuku bagi orang-orang yang sedang Falling in Love memang seperti ini, bermimpi menikah dengan orang yang diharapkannya, jadi memang mimpi kamu itu hanya sebatas bunga tidur Aurora” jelas Afifa
“Afifa, tak bisakah kau membenarkan pemahaman khayalanku dan mengatakan bahwa mimpi ini memang benar tanda Tuhan yang diberikan padaku” aku membujuk Afifa
“Aurora, dimana-mana orang mimpi itu hanyalah bunga tidur”
“Afifa gimana sih, bukannya setahun lalu waktu aku menceritakan dejavu September pertama kali, Afifa sangat mendukung dan membenarkan bahwa iya itu mimpi yang istimewa, ayolah Afifa katakan bahwa kali ini mimpiku juga benar” Aurora membujuk
“iya Aurora saya tahu kalau yang lalu itu membenarkan bahwa iya itu mimpi yang istimewa, tapi kan mimpi yang lalu kamu sebatas melihat keperawakan wajahnya denga jelas, tapi ini bermimpi menikah dengannya dan berharap itu benar akan menjadi kenyataan itu peluang kenyataannya kelak hanya 0,01 % malah”
“Aduhhhh… Afifa naikkin lah kemungkinanya jadi 50 % gitu “
“hehehe,,, mana bisa . peluang 50 % itu hanya mungkin untuk orang-orang yang sudah berkomitmen untuk menikah, nah sedangkan aurora bagaimana, jangankan dibilang pria itu sudah berkomitmen, perasaan pria dejavu pada Aurora pun juga tidak jelas, tidak pernah dia nyatakan pada Aurora, Kamu saja yang selalu sibuk membenarkan setiap peristiwa selama ini” Afifa menyadarkanku tentang mimpi kekonyolan ini
“iya, iya, aku ngalah…. Tapi mimpinya tetap akan ku aminkan, biar Afifa nanti kaget kalau liat kelak mimpinya jadi kenyataan :P”
“iya, Afifa juga mengAminkan,,, tapi Afifa cuman mengingatkan supaya Aurora jangan terlalu berharap pada seseorang, apalagi kalau hanya lewat mimpi”
“Okey deh Bosss Afifa” tersenyum menatap sahabatku yang satu ini


Ya, walaupun mimpi ini benar-benar tidak mungkin, dan hati ini berusaha membenarkan kenyataan bahwa itu hanya bunga tidur, tetapi jauh di lubuk hati yang paling dalam, tetap selalu ada harapan padanya Pria Dejavu September.

aku tak memberinya judul :)

Jika kau belum punya seseorang yang dapat kau percaya untuk mendengar ceritamu,
Torehkanlah pada lembaran kertas. Menulislah….


Baiklah akan ku ceritakan mengapa gadis tangguh itu tiba-tiba ingin pindah ke planet Mars. Dia marah pada penduduk bumi, karena menurutnya mereka jahat. Padahal dia sejak dulu sangat meyukai bumi, lalu sekarang dengan mudahnya ingin pindah ke tempat lain. Hanya karena ingin meninggalkan Bumi. Dia ingin melarikan diri, bukan karena ancaman dari penduduk bumi itu. Tidak selamanya orang lari dari sesuatu karena ketakutan atau ancaman bukan?, melainkan bisa juga karena kebencian, kesedihan, ataupun karena hilangnya harapan.
 
Dia bukan sedang patah hati, seperti dugaan teman-temannya. Dia bukan sedang galau merana karena sesosok makhluk yang bernama laki-laki, sama sekali bukan. Melainkan ada hal-hal yang lebih rumit. Lebih sakit daripada yang namanya patah hati. tentang pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya yang sejak setahun terakhir ini dia tanyakan.

Tentang orang-orang yang selalu ingin merusak kebahagiaan yang dia miliki, tentang rumah yang dulu dia percaya sebagai surga, dan tentang orang-orang yang tidak ada yang bisa dipercaya lagi, setelah tahu sebenarnya mereka begitu saja pergi. Bahkan ada saja yang secara bergantian berusaha membuat kekacauan. Sebenarnya semua bisa baik-baik saja jika ada yang meminta maaf dan memberi maaf. Semua sebenarnya bisa baik-baik saja jika ada dukungan dari orang-orang yang layak mendukung. Namun kenyataannya, mereka pun tak peduli. Berpura-pura tidak tahu atas apa yang terjadi pada keutuhan mereka. Mereka berpura-pura baik-baik saja, tanpa sadar mereka saling menyakiti. Dan dia begitu saja mengikut, menjadi sesosok gadis tidak peka. Hingga akhirnya semua menjadi benar-benar kacau.


Lalu apa yang harus dia lakukan, ketika semua orang tak ada yang menyadari luka masing-masing?.  Haruskah ada yang disalahkan?, siapa yang perlu disalahkan?, lantas setelah menyalahkan, apa semuanya akan menjadi pulih?, apa masalah akan selesai?, sama sekali tidak bukan?..